Sabtu, 30 Juni 2012

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut. media pembelajaran

1. Persiapan

Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan tenaga pengajar pada langkah persiapan diantaranya:

  • membuat rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan sebagaimana bila akan mengajar seperti biasanya. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan cantumkan media yang akan digunakan.
  • mempelajari buku petunjuk atau bahan penyerta yang telah disediakan,
  • menyiapkan dan mengatur peralatan yang akan digunakan agar dalam pelaksanaannya nanti tidak terburu-buru dan mencari-cari lagi serta peserta didik dapat melihat dan mendengar dengan baik.

2. Pelaksanaan/Penyajian

Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti:

  • yakinkan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan.
  • jelaskan tujuan yang akan dicapai,
  • jelaskan lebih dahulu apa yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran,
  • hindari kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/konsentrasi, dan ketenangan peserta didik.

3. Tindak lanjut

Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media. Disamping itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas pembelajaran yang telah dilakukannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya diskusi, eksperimen, observasi, latihan dan tes.

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 29 Juni 2012

Format Penulisan Partikel PUN per dan tanda hubung (-)

Penulisan Partikel pun

Pada dasarnya, partikel pun yang mengikuti kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan harus dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya karena pun di sana merupakan kata yang lepas.menulis karya ilmiah

Menangis pun    di rumah pun

Seratus pun        satu kali pun

Berlari pun         tingginya pun

Negara pun        apa pun

Sesuatu pun       ke mana pun

Akan tetapi, kata-kata yang mengandung pun berikut harus dituliskan serangkai karena sudah dianggap padu benar. Jumlah kata seperti itu tidak banyak, hanya dua belas kata, yang dapat dihapal di luar kepala, yaitu adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, ataupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, Cyang berarti walaupun) sungguhpun, dan walaupun.

 

Penulisan Partikel per

Partikel per yang berarti "mulai" demi atau "tiap" dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya :

Per meter         per kilogram

Per orang         per Oktober

Per orang         per Januari

Per kapita        per liter

Satu per satu

Akan tetapi, per yang menunjukkan pecahan atau imbuhan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Lima tiga perdelapan    perempat final

Empat pertiga                satu perdua

Dua pertujuh                 tujuh persembilan

Penggunaan Tanda Hubung (-)

Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan kata ulang. Dalam pedoman ejaan kata ulang harus dituliskan dengan dirangkaikan oleh tanda hubung. Penggunaan angka dua pada kata ulang tidak dibenarkan, kecuali dalam tulisan-tulisan cepat,- seperti catatan pada waktu mewawancarai seseorang atau catatan fapat. Perhatian penggunaan tanda hubung pada kata ulang berikut.

dibesar-besarkan       bolak-balik

berliku-liku               meloncat-loncat

ramah-tamah             kait-mengait

sayur-mayur              tunggang-langgang

centang-perenang     kupu-kupu  

compang-camping    tolong-menolong

Tanda hubung juga harus digunakan antara huruf kecil dan huruf capital kata berimbuhan, baik awalan maupun akhiran, dan antara unsur kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan kata yang mengikutinya yang diawali huruf capital.

Misalnya:

rahmat-Nya       se-Jawa Barat

non-RRC           di sisi-Nya         

se-DKI Jakarta  non-Palestina

hamba-Nya        se-lndonesia

KTP-Nya           PBB-lah                        

ber-SIM             SK-mu

Makhluk-Nya    pan-lslamisme

Sinar-X

Antara huruf dan angka dalam suatu ungkapan juga harus digunakan tanda hubung.

Misalnya :

ke-2                   ke-50

uang 500-an      ke-25

ke-100 tahun     90-an

ke-40                 ke-500

abad 20-an

Jika dalam tulisan terpaksa digunakan kata-kata asing yang belum diserap, kemudian kata itu diberi imbuhan bahasa Indonesia, penulisannya tidak langsung diserangkaikan, tetapi dirangkaikannya dengan tanda hubung. Dalam hubungan ini, kata asingnya perlu digarisbawahi (cetak miring).

Misalnya:

men-charter       di-recall

di-charter          di-calling

di-coach            men-tackle

 pen-tacle-an

Sebenarnya, masih banyak masalah ejaan yang perlu dibicarakan, terutama yang sering dijumpai dalam tulisan sehari-hari salah, tetapi karena ada hal lain, yaitu masalah penyusunan kalimat dan paragraph, yang juga perlu disinggung selintas, pembicaraan ejaan dicukupkan sekian saja. Diharapkan agar para penyusun karya tulis ilmiah memiliki sendiri buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan agar segala masalah aturan ejaan dapat dikuasai betul.

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 28 Juni 2012

desain dan jenis data penelitian tindakan kelas (PTK)

Desain penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah desain Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang dilakukan secara kolaboratif antara guru mata pelajaran dengan peneliti. Dalam memilih desain penelitian, seorang peneliti harus mengikuti proses mulai awal hingga akhir secara konsisten..

Menurut Hopkins, sebagaimana yang dikutip oleh Rochiati Wiriatmaja (2005: 11) PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Menurut Ebbutt (1985), dalam Hopkins (1993) dikutip oleh Rochiati Wiriatmaja mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dan upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (2005: 12).

Menurut T. Raka Joni (1998) dalam FX. Soedarsono (2001: 2) PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki kondisi-kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Secara ringkas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu (Rochiati Wiriatmaja 2005: 13).

Secara singkat karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK dapat disebutkan:

  1. Situasional, artinya berkaitan langsung dengan permasalahan konkret yang dihadapi guru dan siswa.
  2. Kontekstual, artinya upaya pemecahan yang berupa model dan prosedur tindakan tidak lepas dari konteksnya, mungkin konteks budaya, sosial politik, dan ekonomi di mana proses pembelajaran berlangsung.
  3. Kolaboratif, partisipasi antara guru-siswa dan mungkin asisten atau teknisi yang terkait membantu proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada adanya tujuan yang sama yang ingin dicapai.
  4. Self recletive dan self evaluative, pelaksana, pelaku tindakan, serta objek yang dikenai tindakan melakukan refleksi dan evaluasi diri terhadap hasil atau kemajuan yang dicapai. Modifikasi perubahan yang dilakukan didasarkan pada hasil refleksi dan evaluasi yang mereka lakukan.
  5. Fleksibel, dalam arti pemberian sedikit kelonggaran dalam pelaksanaan tanpa melanggar kaidah metodologi ilmiah. Misalnya, tidak perlu adanya prosedur sampling, alat pengumpul data yang lebih bersifat informal, sekalipun dimungkinkan dipakainya instrumen formal sebagaimana dalam penelitian eksperimental (Soedarsono FX, 2001: 5).

Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk memperbaiki, meningkatkan, dan mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai upaya pemecahan masalah, serta menemukan model dan prosedur tindakan yang memberikan jaminan terhadap upaya pemecahan masalah yang mirip atau sama, dengan melakukan modifikasi dan penyesuaian seperlunya. kegiatan pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran (Soedarsono FX, 2001: 5).

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK, desain dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image001[4]

Gambar Alur Kerja PTK (Soedarsono FX, 2001: 18).

Pada gambar di atas, pada tahap awal, peneliti melakukan penjajagan (assesement) untuk menentukan masalah hakiki yang dirasakan terhadap apa yang telah dilaksanakan selama ini. Pada tahap ini peneliti dapat menimbang dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam praktek pembelajaran (memfokuskan masalah), kemudian melakukan analisis dan merumuskan masalah yang layak untuk penelitian tindakan. Pada tahap kedua, berdasarkan masalah yang dipilih, disusun rencana berupa skenario tindakan atau aksi untuk melakukan perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dari praktek pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal atau memuaskan. Pada tahap ketiga, dilakukan implementasi rencana atau skenario tindakan. Peneliti bersama-sama kolaborator atau partisipan (misalnya guru pamong, peneliti yang lain, serta siswa) melaksanakan kegiatan sebagaimana yang ditulis dalam skenario. Pemantauan atau monitoring dilakukan segera setelah kegiatan dimulai (on going procces monitoring). Rekaman semua kejadian dan perubahan yang terjadi perlu dilakukan dengan berbagai alat dan cara, sesuai dengan kondisi dan situasi kelas. Pada tahap keempat, berdasarkan hasil monitoring dilakukan analisis data yang dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengadakan evaluasi apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai. Jika belum memuaskan maka dilakukan revisi atau modifikasi dan perencanaan ulang untuk memperbaiki tindakan pada siklus sebelumnya. Proses daur ulang akan selesai jika peneliti merasa puas terhadap hasil dari tindakan yang dilakukan sesuai rencananya (Soedarsono FX, 2001: 19).

Secara sederhana, penelitian tindakan kelas dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat (4) tahap seperti terlihat pada gambar berikut:

clip_image003

Gambar (2) Model Kemmis dan Taggart (Rochiati Wiriatmaja, 2005: 66).

Tahap-tahap penelitian tindakan yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: pada tahap perencanaan (plan) peneliti menyusun pedoman observasi, menyusun rencana dan strategi pembelajaran serta panduan observasi. Pada kotak tindakan (act), kegiatan mengaplikasikan pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VIII H SMP Negeri I Kota Indonesia, mengevaluasi proses dan hasil belajar. Pada kotak pengamatan (observe), mengobservasi proses pembelajaran dengan menggunakan check list observasi. Dalam kotak refleksi (reflect), peneliti melakukan refleksi terhadap pengaplikasian pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI.

Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan tersebut terkait dengan alur kerja PTK di atas dan dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image005

Gambar Prosedur Penelitian Tindakan Kelas.

Refferensi :

  • Wiriatmaja, Rochiati. 2005.  Metode Penelitian Tindakan Kelas.  Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • FX Sudarsono. 1988. Beberapa Prinsip dalam Penelitian. Yogyakarta: Bimbingan Penelitian Karya Ilmiah SEMA FIP IKIP Yogyakarta
BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 26 Juni 2012

MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN SEKOLAH

Menurut BSNP Depdiknas (2006) dan Mulyasa (2006), penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah: kurikulum pendidikan

  1. Melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan setempat
  2. Melakukan analisis konteks
  3. Penyiapan dan penyusunan draf
  4. Reviu dan revisi draf
  5. Finalisasi draf
  6. Pemberlakuan KTSP

Koordinasi perlu dilakukan oleh kepala sekolah dalam

merencanakan dan menyusun KTSP. Kegiatan koordinasi sekurangkurangnya menyangkut dua kegiatan sebagai berikut:

  1. Melakukan koordinasi mengenai rencana penyusunan KTSP dengan dinas pendidikan kabupaten/kota setempat
  2. Menghubungi ahli pendidikan setempat untuk diminta bantuannya sebagai nara sumber dalam kegiatan penyusunan KTSP. Analisis konteks merupakan kegiatan yang mengawali penyusunan KTSP.

Kegiatan ini dapat dilakukan dalam rapat kerja atau lokakarya yang diikuti oleh tim penyusun KTSP. Kegiatan menganalisis konteks mencakup dua hal pokok, yaitu:

  1. Analisis potensi dan kekuatan/kelemahan yang ada di sekolah (peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program yang ada di sekolah).
  2. Analisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar (komite sekolah, dewan pendidikan, dinas  pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya).
  3. Mengidentifikasi standar isi dan standar kompetensi lulusan sebagai acuan dalam penyusunan KTSP.
  4. Setelah tim penyusun KTSP memahami potensi dan

kekuatan/kelemahan sekolahnya, serta peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungannya, tibalah saatnya tim mulai bekerja menyiapkan dan menyusun draft KTSP. Kegiatan ini dapat juga dilakukan dalam suatu rapat kerja atau lokakarya yang dihadiri oleh seluruh anggota tim penyusun KTSP.

Tahapan-tahapan dalam manajemen mutu KTSP, dimulai dari
perumusan perangkat KTSP dengan melibatkan stake holders sekolah,
yang terdiri atas: (1) pengembangan silabus, (2) penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan (3) penyusunan perangkat evaluasi berbasis kelas. Adapun stake holder sekolah yang dilibatkan dalam

perumusan perangkat KTSP adalah: kepala sekolah (ketua merangkap
anggota), guru (anggota), konselor sekolah (anggota), komite sekolah
(anggota), ahli pendidikan (nara sumber), dinas pendidikan (koordinasi
dan supervisi). Dalam KTSP tersebut juga dirumuskan kriteria
ketuntatasan minimal (KKM) yang harus dicapai oleh peserta didik pada
masing-masing mata pelajaran dan kelas. Pengontrolan atas mutu KTSP
yang dirumuskan oleh sekolah beserta dengan stake holdersnya
dilakukan dengan membandingkan dengan kisi-kisi evaluasi KTSP baik
dari segi rumusannya, pihak-pihak yang terlibat dan dari segi
substansinya.

Manajemen pembelajaran adalah sebagai kelanjutan dari
manajemen mutu kurikulum. Jika manajemen mutu kurikulum terkait
dengan aspek rumusannya, maka manajemen mutu pembelajaran terkait
dengan implementasi kurikulum di tingkat kelas. Dalam perspektif KTSP,
menurut BSNP Depdiknas (2006) dan Mulyasa (2006), manajemen mutu
pembelajaran adalah suatu aktivitas yang mengupayakan agar siswa
terkondisi untuk belajar. Belajar sendiri merupakan kegiatan aktif siswa
dalam membangun makna atau pemahaman. Guru memberikan dorongan
kepada siswa untuk menggunakan otoritasnya dalam membangun
gagasan. Tanggungjawab belajar ada pada diri siswa, tetapi guru
bertanggungjawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa,
motivasi dan tanggungjawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

Agar manajemen mutu pembelajaran berjalan dengan efektif, ada sejumlah prinsip yang menurut perspektif KTSP harus dipedomani. Prinsip tersebut diangkat dari bebagai perspektif psikologi (behavioristik, kognitif, humanistik dan gestal), yaitu:

  1. Berpusat pada siswa, ialah bahwa kegiatan pembelajaran
    hendaknya mengkondisikan agar siswa belajar sesuai dengan
    bakat, minat, kemampuan dan potensinya,
  2. Belajar dengan melakukan, ialah memberikan pengalaman nyata
    sehari-hari, terkait penerapan konsep, kaidah dan prinsip disiplin ilmu yang dipelajari,
  3. Mengembangkan kemampuan sosial, ialah memberikan
    kesempatan kepada siswa mengkomunikasikan gagasannya
    kepada siswa lain dan guru,
  4. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah bertuhan,
    sebagai model dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri dan kreatif
    serta bertakwa kepada tuhan,
  5. Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah, karena
    keberhasilan hidup banyak ditentukan oleh kemampuan untuk
    memecahkan masalah,
  6. Mengembangkan kreativitas siswa, dengan cara memberi
    kesempatan dan kebebasan kepada siswa untuk berkarya secara
    bersinambung,
  7. Membangun kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi,
    dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh
    informasi dari berbagai media,
  8. Menumbuh-kembangkan kesadaran sebagai warga negara yang
    baik,
  9. Belajar sepanjang hayat, ialah bahwa pembelajaran perlu
    mendorong siswa untuk melihat dirinya secara positif, mengenali
    diri sendiri, percaya diri, memahami diri sendiri dan orang lain serta
    mendorong dirinya sendiri untuk terus belajar sepanjang hayat, dan
  10. Adanya perpaduan antara kompetisi, kerja sama dan solidaritas.
    Sementara itu, manajemen mutu kelas adalah pengaturan terhadap fisik dan psikologis kelas agar teroskestrasi sehingga menjadi sebuah panggung yang menarik siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Mengingat kelas yang kondusif adalah prasyarat bagi pembelajaran yang kondusif, maka manajemen mutu kelas juga menjadi prasyarat mutu pembelajaran. Ruang kelas harus diorkestrasikan sehingga memungkinkan aksesibilitas (siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar), interaksi (hubungan timbal balik siswa-siswa dan siswa-guru), dan variasi kerja siswa (bekerja perorangan, berpasangan dan kelompok). DePorter (2002) melalui Quantum Teaching mengedepankan

perlunya mengorkestrasi kelas dengan label lingkungan yang mendukung.
Kelas yang baik menurutnya didukung dengan poster ikon, poter afirmasi,
warna yang disukai dan menggairahkan, serta alat bantu belajar. Guna
menguji bermutu tidaknya suatu kelas, seorang kepala sekolah dapat
membunyikan bel tanda istirahat sebelum pembelajaran selesai. Ketika
siswa cepat berhamburan keluar dari ruangan kelas dan merespon
dengan teriak ”hore”, maka kelas tersebut dipandang tidak begitu bermutu. Sebaliknya jika siswa merespon dengan ungkapan ”huu...” dan mereka tidak mau keluar dari kelasnya, maka itu adalah indikator kelas yang bermutu. Dengan perkataan lain, kelas yang bermutu adalah menarik secara fisik dan secara psikologis. Baik kemenarikan secara fisik maupun psikologis, sengaja didisain oleh manajer sekolah dan diimplementasikan serta diperbaiki secara berulang.

Sumber : DIREKTORAT JENDERAL PMPTK, 2009, Dimensi Kompetensi Manajerial, Jakarta, DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 25 Juni 2012

Tradisi Mitoni di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo

Mitoni berasal dari kata Pitu yang berarti Tujuh, sehingga upacara Mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, dan pada kehamilan pertama. Acara ini dilaksanakan pada malam hari. Dalam pelaksanaan upacara Mitoni, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai dengan doa-doa khusus. Berikut merupakan Tradisi Mitoni di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

clip_image002 clip_image004

Tata Cara Pelaksanaan Upacara Mitoni

1. Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak tujuh orang. Bermakna mohon doa restu, supaya suci lahir dan batin. Para sesepuh secara bergantian menyiramkan air kepada calon ayah dan ibu tersebut. Setelah air disiramkan, para sesepuh mengetukkan gayung ke kepala sang calon ayah.

clip_image006 clip_image008

2. clip_image010Calon nenek dari pihak calon ibu, menggendong kelapa gading dengan ditemani oleh ibu besan. Sebelumnya kelapa gading diteroboskan dari atas ke dalam kain yang dipakai calon ibu lewat perut, terus ke bawah, diterima (ditampani) oleh calon nenek, dengan makna agar bayi dapat lahir dengan mudah, tanpa kesulitan.
Calon ayah memecah kelapa, dengan memilih salah satu kelapa gading yang sudah digambari Arjuna dan Srikandi.

clip_image012clip_image014

3. Setelah acara siraman dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara berganti Nyamping sebanyak tujuh kali secara bergantian.

clip_image016 clip_image018

clip_image020

4. Setelah itu, kain-kain (jarit) yang digunakan untuk Nyamping diduduki lalu sang calon ibu dirias.

clip_image022 clip_image024

Lalu rambut bagian depan dekat telinga sang calon ibu dipotong, di daerah saya ini sebagai tanda bahwa masa kehamilannya sudah mencapai tujuh bulan.

clip_image026 clip_image028

Demikian rangkaian acara Tradisi Mitoni di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Referensi :

Observasi ke dalam Tradisi Mitoni di Desa Keatawngrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo.

 

Identitas Pengirim

clip_image002[5]Judul Artikel : Tradisi Mitoni di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo

Nama Pengarang : Lusya Uci Wardati

Nomor Identitas, NIP, NIY : NIM. 10203244011

Institusi Kerja : Universitas Negeri Yogyakarta

Email : lusyauciw@yahoo.com

Alamat Blog : http://ucikawe.blogspot.com/

Facebook : Lusya Uci LuFi

BACA SELENGKAPNYA »

Penulisan Di dan Ke pada Karya Tulis

Penulisan di sebagai kata Depan

Di yang berfungsi sebagai kata depan harus dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya. Biasanya di sebagai kata depan ini berfungsi menyatakan arah atau tempat dan merupakan jawaban atas pernyataan dimana. Penulisan karya tulis

Contoh-contoh penggunaan di kata depan

      di samping       di rumah

      di persimpangan

      di sebelah utara                                

      di pasar

      di sungai

      di luar kota

      di toko

Penulisan di sebagai Awalan

Di- yang berfungsi sebagai awalan membentuk kata kerja pasif dan harus dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. Pada umumnya, kata kerja pasif yang berawalan di-dapat diubah menjadi kata kerja aktif yang berawalan meng-(meN-).

Misalnya:

Diubah berlawanan dengan mengubah

Dipahami berlawanan dengan memahami

Dilihat berlawanan dengan melihat

Dimeriahkan berlawanan dengan memeriahkan.

Diperlihatkan berlawanan dengan memperlihatkan.

 

Penulisan ke sebagai Kata Depan

Ke yang berfungsi sebagai kata depan, biasanya menyatakan arah atau tujuan dan merupakan jawaban atas pertanyaan ke mana. Ke belakang      ke muka

ke kecamatan

ke lokasi penelitian

ke pinggir

ke atas

ke sini

ke samping

ke bawah

ke dalam                                        

Sebagai patokan kita, ke yang dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya jika kata-kata itu dapat dideretkan dengan kata-kata yang didahului kata di dan dari.

Misalnya :

Ke sana           di sana            dari sana

Ke kecamatan                         di kecataman         dari kecamatan

ke jalan raya    di jalan raya    dari jalan raya

ke berbagai      di berbagai      dari berbagai

Instansi           Instansi           Instansi

 

Penulisan ke-sebagai Awalan

Ke- yang tidak menunjukkan arah atau tujuan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang mengiringinya karena ke-seperti itu tergolong imbuhan.

Misalnya:

Kelima          kepagian

Kehadiran     ketrampilan

Kekasih        kepanasan

Kehendak     kedinginan

Ketua            kehujanan

       Catatan:

Ke pada kata kemari, walaupun menunjukkan arah, harus dituliskan serangkaian karena tidak dapat dideretkan dengan di mari dan dari mari. Selain itu, penulisan ke pada kata keluar harus dituliskan serangkai jika berlawanan dengan kata masuk. Misalnya : saya ke luar dari organisasi itu. Akan tetapi, jika ke luar itu berlawanan dengan ke dalam, ke harus dituliskan terpisah. Misalnya, Pandangannya diarahkan ke luar ruangan.

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 23 Juni 2012

Penerapan Ejaan yang disempurnakan pada karya tulis

Penerapan Ejaan yang disempurnakanimage

a.    Penggunaan Spasi

Penggunaan spasi setelah tanda baca sering tidak diindahkan. Menurut ketentuanyang berlaku, setelah tanda baca (titik, koma, titik koma, titik dua, tanda satu, tanda Tanya) harus ada spasi, jarak satu pukulan ketikan.

b.    Pengunaan Garis Bawah Satu

Garis bawah satu dalam karya tulis ilmiah digunakan untuk menandai kata-kata atau bagian-bagian yang harus dicetak miring apabila karya tulis ilmiah itu diterbitkan. Garis bahwa satu dipakai pada 1) anak bab, 2) subanak bab, 3) kata asing atau kata daerah, 4) judul buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam naskah. Perhatikan contoh-contoh berikut:

 

1)    Anak Bab

       Misalnya

1.           Later Belakang dan Masalah 

2)    Subanak Bab

       Misalnya:

       1.1.1.      Later Belakang

       1.1.2.      Masalah

3)    Kata Asing atau kata Daerah

       Acceptence boundary "batas penerimaan"

       Papalingpang (Sd.) bertentangan.

4)        Judul Buku, Majalah, atau Surat Kabar yang diterbitkan

       Misalnya:

       Buku Dasar-dasar Gizi Kuliner

       Majalah Intisari

       Surat Kabar Kompas

Garis bawah satu itu dibuat terputus-putus kata demi kata, sedangkan spasi (jarak kata dengan kata) tidak perlu digarisbawahi sebab yang akan dicetak miring adalah kata itu sendiri.

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 22 Juni 2012

Rasional Penyelenggaraan PPG

Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 yang telah diamandemen, menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.  ppg guru

Untuk melaksanakan ketentuan tersebut pemerintah telah melakukan berbagai usaha, termasuk menerbitkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UURI Nomor 20/ 2003), Undang-Undang Guru dan Dosen (UU RI Nomor 14/2005) dan berbagai peraturan perundangan lainnya, yang melihat peranan strategis guru dan dosen dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru dipandang sebagai jabatan profesional dan karena itu seorang guru harus disiapkan melalui pendidikan profesi.

Hal ini dirasakan semakin mendesak mengingat kebutuhan tenaga guru yang nyata di lapangan mengharuskan PPG dilaksanakan dengan segera agar pengangkatan guru baru dapat dilakukan sesuai dengan ketetapan yang ada.

Di samping itu saat ini banyak lulusan program S1 kependidikan yang prospeknya tidak jelas, apakah dapat diangkat langsung sebagai guru atau tidak. Sementara pada saat ini terdapat lebih 270 LPTK dalam bentuk institut, universitas, fakultas, dan sekolah tinggi yang terus beroperasi dengan kualitas beragam dan memerlukan kepastian masa depan lulusannya.

Dalam menata pendidikan guru, kebutuhan mendesak lainnya adalah menetapkan kebijakan pengadaan tenaga pendidik yang akuntabel dan mendukung penyelenggaraan program PPG.

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 21 Juni 2012

Kalimat Yang Efektif Karya tulis

• “Kalimat yang membangkitkan acuan dan makna yang sama di benak pendengar atau pembaca dengan yang ada di benak pembicara atau penulis

• Kalimat yang efektif ditentukan oleh:kalimat karya tulis

– Keterpaduan kalimat: mengacu pada penalaran (deduksi, induksi, top-down, bottom-up, dll.)

– Koherensi kalimat: mengacu pada hubungan timbal-balik antara kalimat-kalimat. 

Contoh :

Kalimat tidak Efektif

Kalimat Efektif

• membahayakan bagi penderita

• membicarakan tentang penyakit

• mengharapkan akan tindakan

• para dokter saling bantu-membantu

• keharusan daripada dilakukannya tindakan pembedahan

• membahayakan penderita

• membicarakan penyakit

• mengharapkan tindakan

• para dokter saling membantu

• keharusan melakukan pembedahan

Koherensi Kalimat

Hal-hal yang dapat mengganggu koherensi kalimat

• Tempat kata

– Pekan Kesenian Bekas Penyandang Kusta Nasional

• Pemilihan dan Pemakaian Kata

– Memilih kata depan atau kata penghubung yang salah:

Dari hasil perhitungan…..

– Memilih dua kata yang kontradiktif atau medan maknanya tumpang tindih:

• Banyak siswa-siswa ….

• Suatu ciri-ciri yang didapatkan…...

– Menggunakan kata yang tidak sesuai:

• Walaupun banyak artikel berpendapat…..

– Menggunakan nama atau istilah yang benar, tetapi penulisannya keliru

 

Koherensi Kalimat

Hal-hal yang dapat mengganggu koherensi kalimat

• Tempat kata

– Pekan Kesenian Bekas Penyandang Kusta Nasional

• Pemilihan dan Pemakaian Kata

– Memilih kata depan atau kata penghubung yang salah:

Dari hasil perhitungan…..

– Memilih dua kata yang kontradiktif atau medan maknanya tumpang tindih:

• Banyak siswa-siswa ….

• Suatu ciri-ciri yang didapatkan…...

– Menggunakan kata yang tidak sesuai:

• Walaupun banyak artikel berpendapat…..

– Menggunakan nama atau istilah yang benar, tetapi penulisannya keliru

BACA SELENGKAPNYA »

Rabu, 20 Juni 2012

Mendidik Dan Mengajar

Secara teoritis pengertian mendidik dan mengajar tidaklah sama. Mengajar berarti menyerahkan atau manyampaikan ilmu pengaetahuan atau keterampilandan lain sebagainya kepada orang lain, dengan menggunakan cara – cara tertentu sehingga ilmu – ilmu tersebut bisa menjadi milik orang lain. mendidik dan mengajar

     Lain halnya mendidik, bahwa mendidik tidak hanya cukup dengan hany memberikan ilmu pengetahuan ataupun keterampilan, melainkan juga harus ditanamkan pada anak didik nilai – nilai dan norma – norma susila yang tinggi dan luhur.

     Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa mendidik lebih luas dari pada mengajar. Mengajar hanyalah alat atau sarana dalam mendidik .dan mendidik harus mempunyai tujuan dan nilai – nilai yang tinggi.

 

A.    Batas – Batas Kemampuan Pendidikan

     Adapun factor – factor yang membatasi kemampuan pendidikan ialah :

Ø  Faktor anak didik, Anak didik adalah pihak yang dibantu. Pada dasarnya dalam diri anak tersebut sudah terdapat potensi – potensi yang kemungkinan dapat dikembangkan yang mana dalam pengembangannya membutuhkan bantuan pihak lain.

Ø  Factor si pendidik, Pendidik adalah pihak yang memberi bantuan kepada anak didik . dalam hal ini pendidik memberi bantuan guna mengemabangkan potensi – potensi yang ada dalm diri anak didik.para pendidik tentunya mempunyai cara – cara tersendiri guna memberikan bantuan anak dan cara tersebut belum tentu sesuai dengan anak, inilah yang menjadi penentu pada akhirnya dalam keberhasilan pendidikan.

Ø  Factor lingkungan, Lingkungan disini dapat berupa benda – benda, orang –orang , dan lain sebagainya yang ada di sekitar anak didik. Suatu hal disekitar anak dapat memberi pengaruh langsung terhadap pembentukan dan perkembangan anak.

 

B.     Lama Pendidikan Dan Kedewasaan

     Yang dimaksud lama pendidikan disini adalah hal yang menyangkut kapan pendidikan itu dimulai (batas bawah) dan kapan pendidikan itu berakhir (batas atas). Menurut langeveld batas bawah dari pendidikan itu ialah saat dimana anak mulai mengakui dan menerima pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain.

     Sedangkan batas atas dari pendidikan adalah apabila anak telah mencapai tinggkat dewasa dalam arti rohaniah. Adapun ciri – cirinya yaitu : adanya sifat kestabilan (kemantapan), adanya sifat tanggung jawab, adanya sifat kemandirian.

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 19 Juni 2012

Hubungan Penelitian dengan Penelitian Tindakan

Mengingat luasnya cakupan kerja, penelitian dikelompokan dan diberi “nama yang spesifik”. Misalnya, penelitian deskriprif dan penelitian eksperimental, dan ada pula yang dinamakan penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan ditandai adanya penerapan suatu tindakan pada suatu proses kegiatan tertentu. Tindakan yang diterapkan tersebut, merupakan tindakan yang “baru” yang diyakini lebih baik dalam meningkatkan mutu proses maupun hasil kerja dari tindakan “lama” yang telah biasa dilakukan. penelitian tindakan

Sambil menerapkan (melakukan eksperimen) terhadap tindakan “barunya”, peneliti mengamati proses tindakan itu (yang dilakukan dengan secara teliti dengan mendiskripsikan proses kegiatan yang terjadi). Dengan demikian, ada pula yang menyatakan penelitian tindakan sebagai tindak lanjut dari penelitian eksperimen maupun penelitian deskriptif.

Ada pula yang menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen peneliti ingin mengetahui akibat dari suatu perlakuan (treatment, tindakan, atau “sesuatu” yang dilakukan), maka pada

penelitian tindakan, peneliti mencermati kajiannya pada proses dan akibat dari tindakan yang dibuatnya. Berdasar hasil pencermatan itulah, kemudian dilakukan tindakan lanjutan yang merupakan perbaikan dari tindakan pertama (disebut sebagai siklus), untuk dapat memperoleh informasi yang mantap tentang dampak tindakan yang dibuatnya.

BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 18 Juni 2012

Filsafat Negara Sebagai Dasar Dan Tujuan Pendidikan

Mengingat sangat urgentnya masalah pendidikan bagi bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara di dunia ini menangani  secara langsung masalah – masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Terutama yang menyangkut masalah kebijakan atau policy. Dalam hal ini masing – masing negara mempunyai kebijakan sendiri – sendiri yang sesuai dengan keadaan.

A.     Hubungan Kurikulum Dengan Dasar Dan Tujuan Pedidikan

     Kurikulum adalah sebagai alat pembenmtukan. Alat pembentuk merid. Kita tahu dasar pendidikan akan menentukan corak dan isi pendidikan . dan isi pendidikan itu tidak lain adalah kurikulum. Denagn demikian maka dasar pendidikan menentukan corak dan isi kurikulum.filsafat pendidikan

     Disamping itu, kurikulum sebagai alat pembentuk haruslah disesuaikan dengantujuan pendidikan.

 

B.    Azasi Manusia Dalam Pendidikan

          Manusia pada hakekatnya mempunyai beberapa macam azasi, antara lain:

Ø  Bahwasanya manusia itu adalah makhluk dwi tunggal, manusia terdiri atas unsur rohaniah dan unsur jasmaniah. Unsur halus dan unsur kasar. Badan halus dan badan wadag. Unsur jiwa dan unsur raga.

Ø  Bahwasannya manusia mempunya dua macam sifat azasi ; sebagai makhluk indifidual dan sebagai makhluk social.

Ø  Manusia sebagai makhluk susila ; makhluk bertuhan , makhluk bertaqwa.

BACA SELENGKAPNYA »

Minggu, 17 Juni 2012

Format penulisan dari Pembentukan Kata

a.    Peluluhan Bunyikarya tulis ilmiah

Jika kata dasar berbunyi awal /kl, /pi, /t/, /s/, ditambah imbuhan meng-, meng-...kan, atau meng-l, bunyi awal itu harus luluh menjadi (ng), /ml/, /n/, dan /ny/. Kaidah itu berlaku juga bag! kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang sudah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia. Bandingkan dua bentuk di bawah ini, yaitu bentuk baku dan bentuk tidak baku.

Bentuk Baku

Bentuk Tidak Baku

Mengikis

Mengultuskan

Mengambinghitamkan

Mengalkulasikan

Memesona

Memarkir

Menafsirkan

Menahapkan

Menerjemahkan

Menyukseskan

Menyuplai

Menargetkan

Menakdirkan

Mengkikis

Mengkultuskan

Mengkambinghitamkan

Mengkalkuiasikan

Mempesona

Memparkir

Mentafsirkan

Mentahapkan

Menterjemahkan

Mensukseskan

Mensuplai

Mentargetkan

Mentakdirkan

Demikian juga, bunyi /k/, /p/, /t/, /s/, harus luluh jika diberi imbuhan peng- atau peng..-an (pe-N atau pe N-....an).

Bentuk Baku

Bentuk Tidak Baku

Pengikisan Pemarkiran Penargetan Penerjemahan Penahanan Penyuplai penyuksesan

Pengikikisan Pemparkiran Pentargetan Penterjemahan Pentahapan Pensuplai Pensuksesan

Kaidah di atas tidak berlaku bagi kata-kata serapan yang bunyi awal katanya berupa gugus konsonan.

Transkripsi menjadi mentranskripsikan atau pentranskripsian, klasifikasi menjadi mengklasifikasikan atau pengklasifikasian.

 

b.    Penulisan Gabungan Kata

Di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan terdapat kaidah yang menyatakan bahwa gabungan kata, termasuk yang lazim disebut kata majemuk, unsure-unsurnya dituliskan terpisah. Gabungan kata yang harus dituliskan terpisah, antara lain, sebagai berikut.

duta besar                 tata bahasa

sebar luas                  loka karya

tanda tangan             empat puluh

ibu kota                    dua puluh lima

rumah sakit umum    lipat ganda

hancur lebur              juru tulis

tanggung jawab        anak emas

tepuk tangan             kerja sama

kambing hitam          beri tahu

Selain gabungan kata di atas yang harus dituliskan terpisah, terdapat juga gabungan kata yang harus dituliskan serangkai, yaitu gabungan kata yang sudah dianggap sebagai kata yang padu, sebagai berikut.

Bagaimana

bumi putra

padahal

halalbihalal

saputangan

segitiga

antarkota

antarwarga

asusila

dasawarsa

kontrarevolusi

ekstrakurikuler

Pancasila

mahakuasa

mahasiswa

pascapanen

pascaperang

purnawirawan

purnasarjana

semiprofessional

nonmigas

apabila

dari pada

matahari

barangkali

manakala

sekaligus

bilamana

amoral

dwiwarna

caturtunggal

poligami

monoteisme

saptakrida

subbagian

subpanitia

subseksi

swadaya

swasembada

peribahasa

perilaku

tunarungu

tunanetra

 

 

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit