Minggu, 30 Juni 2013

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL STAD

A. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada paradigma yang baru ini, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh guru. Peran siswa merupakan hal yang sangat vital dalam mencapai tujuan pembelajaran. Siswa sangat diharapkan telibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran sangat tergantung bagaimana seorang guru me-menage kelas supaya tercipta suasan pembelajaran yang aktif.

Hal ini menuntut bahwa harus terjadi pergeseran sudut pandang. Pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher oriented) bergeser menjadi sebuah kegiatan pemebelajaran yang lebih berorientasi pada keaktifan siswa (student oriented). Artinya, Peran guru sudah dibatasi, baik hanya sebagai motivator maupun sebagai fasilitator. Jika dikonversikan dengan angka, maka porsi keterlibatan guru dan siswa adalah 30% berbanding 70%. Demikianlah suatu kegiatan pembelajaran yang ideal. Tetapi, kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan teori-teori serta niat yang hendak dicapai. image

Ada beberapa permasalahanyang sering ditemui dalam kegiatan pembelajaran yang terjadi di SMPN 6 Toboali kelas IX2 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tidak menjadi rahasia lagi bahwa pada saat pembelajaran berlangsung, sangat jarang kita melihat siswa aktif dalam pembelajaran. Untuk berbicara menyampaikan pendapat, ide, mengajukan pertanyaan, dan menjawab pun mereka tidak berani. Tidak lebih dari 10% siswa yang berani berbicara. Sudah sering guru memancing keaktifan siswa, baik itu dengan gambar, masalah yang menarik, bahkan stimulus penambahan nilai. Sehingga terkesan guru selalu menjadi “manusia super” yang menguasai segala hal.

Selain itu, guru sering melihat siswa kurang focus dalam belajar dan siswa sering mengobrol pada saat pembelajaran berlangsung. Siswa hanya “menuntut” untuk bertindak sebagai objek pembelajaran saja. Peran siswa tidak lebih sebagai pendengar setia. Dengan kata lain, pembelajaran terjadi lebih mengarah kepada teacher oriented. Ironisnya lagi, hal tersebut bisa mempengaruhi hasil belajar siswa.

Oleh karena itu, saya sebagai guru mata pelajaran ingin meningkatkan keaktifan siswa di kelas tersebut. Untuk itu guru menggunakan model pembelajaran STAD. Guru berharap model ini bisa menstimulus siswa untuk berani aktif berbicara dalam kegiatan pembelajaran. Jika siswa aktif dalam berbicara, maka otomatis pikiran siswa hanya terfokus pada pembelajaran. Sehingga akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar mereka.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam perbaikan pembelajaran ini adalah:

1. Apakah penerapan model pembelajaran STAD bisa meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas IX.2 SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 pada pelajaran IPS?

2. Apakah penerapan model pembelajaran STAD bisa meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX.2 SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 pada pelajaran IPS?

Tujuan Perbaikan Pembelajaran

Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan, yaitu

1. Untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas IX.2 SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 pada pelajaran IPS pokok bahasan Negara Berkembang dan Negara Maju.

2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX.2 SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 pada pelajaran IPS pokok bahasan Negara Berkembang dan Negara Maju.

B. METODOLOGI PENELITIAN

Subjek Penelitian

Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di Kelas IX .2 SMPN 6 Toboali semester ganjil Tahun Pelajaran 2010/2011. Adapun jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian adalah 26 siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 16 siswa laki-laki. Kegiatan PTK dilaksanakan pada mata pelajaran IPS pada pokok bahasan Negara Berkembang dan Negara Maju.

Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan pada bulan September 2010 yang lalu. PTK ini dilaksanakan selama 3 siklus. Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 6 september 2010. Siklus 2 dilaksanakan tanggal 13 september dan siklus 3 dilaksanakan pada tanggal 20 September 2010.

Teknik Analisis Data

PTK ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dalam hal perolehan nilai dan keaktifan belajar siswa. Diharapkan pada akhir kegiatan, guru bisa meningkatkan hasil belajar siswa dengan baik. Oleh sebab itu, guru perlu menentukan teknik analisis data. Teknik analisis data adalah membandingkan data T0, T1, T2, dan T3, Jika diperoleh T0 < T1 < T2 < T3 maka penelitian tersebut berhasil.

C. KERANGKA TEORI

Model Pembelajaran Student Team Achievement Divisions

Model pembelajaran adalah suatu bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan secara khas oleh guru (Sudradjat, 2008). Soetopo (2005) mendefenisikan model pembelajaran adalah pola untuk menerapkan kurikulum, merancang materi belajar, dan untuk melakukan pembimbingan siswa dalam kelas atau lainnya.

Lain lagi dengan Sukmadinata (2004) yang mengutip pendapat Chauchan. Ia berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perkembangan pada siswa.

Jadi model pembelajaran adalah rangkaian rencana yang menggambarkan pelaksanaan pembelajaran di kelas untuk mencapai target pembelajaran yang ditetapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD). Mdel STAD adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang sangat sederhana. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa ditempatkan dalam kelompok belajar yang terdiri dari empat orang yang heterogen. Anggota kelompok terdiri siswa yang tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku berbeda-beda. Pada awal pembelajaran, Guru menyajikan materi pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi tersebut secara individual. (Andayani, 2007).

Model pembelajaran STAD mengharuskan siswa belajar dalam kelompok kecil. Setiap siswa akan belajar dan saling mengajarkan. Keberbasilan yang dicapai oleh seorang siswa akan menentuka keberhasilan kelompoknya (Barlian, 2009). Biasanya dalam setiap kelompok ditunjuk seorang siswa yang mempunyai pemahaman lebih untuk dapat menjalankan kegiatan kelompok. Keberhasilan kolektif kelompok yang menjadi tujuan diskusi kelompok.

Herdian (2009) mengungkapkan bahwa ada 5 komponen utama pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:

1. Penyajian kelas.

2. Belajar kelompok.

3. Kuis.

4. Skor Perkembangan.

5. Penghargaan kelompok.

Menurut Fatimah (2008), tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model STAD ini adalah :

1. Pembentukan kelompok belajar.

2. Penyajian materi pembelajaran di depan Kelas oleh guru.

3. Setiap siswa mendapat tugas untuk dikerjakan anggota kelompok.

4. Guru memberikan kuis atau latihan (evaluasi)

5. Guru memberi salam.

6. Kesimpulan

D. PELAKSANAAN DAN HASIL PEMBELAJARAN

Pelaksanaan PTK di kelas IX.2 SMP Negeri 6 Toboali dilaksanakan dalam 3 siklus. Rencana kegiatan pembelajaran pada setiap siklus terdiri:

1. Siklus 1

a. Pra Pembelajaran, yaitu persiapan kegiatan perbaikan pembelajaran yang meliputi kegiatan persiapan perangkat pembelajaran, daftar nilai, lembarr observasi, dan sumber belajar.

b. Kegiatan Pembelajaran, secara singkat dapat dilihat dari deskripsi kegiatan berikut:

1) Pada awal pembelajaran guru terlebih dahulu mengecek kesiapan kelas.

2) Memberi apersepsi, yaitu mengaitkan materi yang akan dibahas dengan kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap pentingnya materi pelajaran.

3) Penyampaian materi dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

4) Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran.

5) Pembagian kelompok.

6) Pembelajaran secara klasikal dengan metode ceramah.

7) Mengerjakan LKS dengan cara diskusi kelompok

8) Evaluasi. Siswa mengerjakan tugas latihan.

9) Pemberian penghargaan kepada kelompok yang memperoleh nilai terbaik.

c. Kegiatan Pengamatan, yaitu kegiatan mengamati keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam mengamati keaktifan siswa, guru menggunakan perangkat observasi.

d. Refleksi. kegiatan ini bertujuan untuk mengobservasi kekurangan dan kelebihan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan sekaligus untuk menyusun rencana kegiatan pada siklus selanjutnya.

2. Siklus 2

a. Pra Pembelajaran, yaitu persiapan kegiatan perbaikan pembelajaran yang meliputi kegiatan persiapan perangkat pembelajaran, daftar nilai, lembar observasi, media pembelajaran, sumber belajar, dan hadiah.

b. Kegiatan Pembelajaran, secara singkat dapat dilihat dari deskripsi kegiatan berikut:

1) Pada awal pembelajaran guru terlebih dahulu mengecek kesiapan kelas.

2) Memberi apersepsi untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap pentingnya materi pelajaran.

3) Penyampaian materi dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

4) Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran.

5) Siswa membentuk kelompok seperti pada siklus 1

6) Siswa mengerjakan LKS secara berkelompok dengan bantuan referensi dan media pembelajaran.

7) Evaluasi

8) Pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan nilai terbaik.

c. Kegiatan Pengamatan.

d. Refleksi.

3. Siklus 3

a. Pra Pembelajaran, yaitu persiapan kegiatan perbaikan pembelajaran yang meliputi kegiatan persiapan perangkat pembelajaran, daftar nilai, lembar observasi, media pembelajaran, sumber belajar, dan hadiah.

b. Kegiatan Pembelajaran, secara singkat dapat dilihat dari deskripsi kegiatan berikut:

1) Memberi apersepsi untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap pentingnya materi pelajaran.

2) Penyampaian materi dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

3) Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran.

4) Siswa membentuk kelompok seperti pada siklus 1 dan 2.

5) Siswa mengerjakan LKS secara berkelompok dan dilakukan juga kegiatan tanya jawab dengan bantuan referensi dan media pembelajaran.

6) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum jelas

7) Siswa menyimpulkan materi pelajaran dengan bimbingan guru.

8) Evaluasi

9) Pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan nilai terbaik.

c. Kegiatan Pengamatan.

d. Refleksi. Karena ketuntasan belajar sudah mencapai 96,15%, maka PTK dihentikan sampai pada siklus 3.

4. Hasil dan Pembahasan

Berikut ini adalah rekapitulasi hasil belajar dan keaktifan belajar siswa Kelas IX SMPN 6 pada materi pokok Negara Berkembang dan Negara Maju:

Tabel 1

Hasil Belajar dan Keaktifan Belajar Siswa pada Siklus 1

No.

Komponen

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

A

Hasil Belajar

1.

Nilai Rata-Rata

39,45

55,96

70,96

88,08

2.

% Ketuntasan Belajar

15,38%

42,31%

73,08%

96,15%

3.

Siswa Tidak Tuntas

22

15

7

1

4.

% Siswa Tidak Tuntas

84,62%

57,69%

26,92%

3,85%

5.

Nilai Tertinggi

70

80

90

100

6.

Nilai Terendah

10

30

50

55

B.

Keaktifan Belajar

       

1.

Siswa menjawab pertanyaan

2

5

8

17

2.

Siswa bertanya

-

7

10

18

3.

Diskusi kelompok

D

C

C

B

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sebelum diadakan penelitian tindakan (pra siklus) rata-rata belajar siswa 39,45. Tingkat ketuntasan belajar di kelas IX.2 tersebut adalah 15,38%. Sedangkan nilai tertinggi dan terendah adalah70 dan 10.

Kemudian pada kegiatan siklus 1, nilai siswa mengalami kenaikan. Namun, nilai tersebut masih rendah. Rata-rata nilai siswa pada siklus 1 hanya mencapai angka 55,96. Tingkat ketuntasan belajar kelas adalah 42,31% atau 11 siswa dari 26 siswa. Perolehan nilai maksimal mencapai angka 80 dan nilai minimal adalah 30.

Setelah di adakan perbaikan kembali pada siklus 2 dan siklus 3 nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan. Pada kegaitan pembelajaran siklus 2 rata-rata siswa 70,96 dan siklus 3 adalah 88,08. Sedangkan Tingkat ketuntasan belajar klasikal pada siklus 2 adalah 73,08% atau 19 siswa dari 26 siswa. Pada kegiatan pembelajaran siklus 3 nilai rata-rata adalah 88,08 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 96,15%. Sedangkan nilai tertinggi yang diperoleh siswa pada siklus 3 mencapai angka maksimal, yaitu 100 dan terendah 55.

Dalam hal keaktifan siswa, kegiatan penelitian pembelajaran yang dilakukan juga berhasil meningkatkan keaktifan siswa. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran, kegiatan diskusi siswa sudah mulai berjalan. Pada kegiatan siklus 1 ada 7 kali siswa mengajukan pertanyaan dan 5 kali menjawab atau menanggapi pertanyaan.

Pada siklus 2 ada kegiatan pembelajaran mulai berjalan menarik. Siswa sudah mulai memperlihatkan keaktifan dalam proses Tanya jawab. Jumlah pertanyaan yang muncul dari siswa adalah 10 kali pertanyaan. Sedangkan siswa menjawab sebanyak 8 kali.

Begitu juga dengan siklus 3. Pada siklus 3 kegiatan diskusi berjalan dengan sangat baik. Terjadi proses tanya jawab antarsiswa dan antara siswa dengan guru. Ada 17 kali siswa menanggapi

Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD bisa meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar siswa di Kelas IX.2 SMPN 6 Toboali pada mata pelajaran IPS Pokok Bahasan Negara Berkembang dan Negara Maju.

E. PENUTUP

Kesimpulan

1. Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan kaktifan siswa Kelas IX SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, berdiskusi tentang materi pelajaran.

2. Selain meningkatkan keaktifan belajar, penerapan model pembelajran STAD juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX SMPN 6 Toboali Tahun Pelajaran 2010/2011 pada Mata Pelajaran IPS Pokok Bahasan Negara Berkembang dan Negara Maju.

Saran

1. Diharapkan penggunaan model pembelajaran STAD dapat menjadi salah satu alternatif inovasi pembelajaran dlam rangka meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa.

2. Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada dalam tulisan ini. Untuk itu, kami sangat memerlukan saran yang bersifat korektif dan konstruktif.

Referensi :

Andayani. 2007. Makalah : Model-Model Pembelajaran.

Barlian, Ikbal dan Dewi Koryati. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Palembang: Universitas Sriwijaya.

Dunne, Richard, dan Tedd Wragg. 1996. Pembelajaran Efektif. Jakarta:PT. Grasindo.

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo.

Jantimala. 2008. Penggunaan Papan Ekologi Sebagai Alat Peraga dalam Pembelajaran Biologi dengan Model Cooperatif Scrip pada Konsep Aksi Interaksi. Makalah pada Jurnal Kependidikan Care. Pangkal Pinang: LPMP Propinsi Kep. Bangka Belitung.

Herdian. 2009. Makalah : Model Pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division)

Siti Fatimah dan Sukardi. 2008. Model-Model Pembelajaran. Makalah pada Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru Rayon 4 Universitas Sriwijaya Palembang.

Solihatin, Hj. Etin, dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning. Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjiono, A. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada.

Supardi, et. al. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara

 

Identitas Pengirim

clip_image002Judul Artikel : UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX.2 SMPN 6 TOBOALI TAHUN PELAJARAN 2010/2011 PADA PELAJARAN IPS TENTANG NEGARA BERKEMBANG DAN NEGARA MAJU MELALUI MODEL STAD

Nama Pengarang : Jasman, S.Pd

Nomor Identitas, NIP, NIY : 19811121 201001 1 013

Institusi Kerja : SMP Negeri 6 Toboali, Kab. Bangka Selatan

Email : jasman_2111@yahoo.com, jsm_jibran@yahoo.co.id

Alamat Blog : -

Facebook : Jasman Jibran

BACA SELENGKAPNYA »

Ketrampilan Guru dalam Penguatan motivasi dikelas

Penguatan (motivasi) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang betujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi siswa atas jawaban atau perbuatannya sebagai suatu motivasi ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.

Penguatan diberikan dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, mengontrol dan memotivasi perilaku yang negatif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memelihara iklim kelas yang kondusif.

image

Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan non-verbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol.

Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut.

1. Kehangatan dan keantusiasan

2. Kebermaknaan

3. Hindari respon negatif

4. Penguatan harus bervariasi

5. Sasaran penguatan harus jelas

6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

BACA SELENGKAPNYA »

Mengatur Tautan kelas maya

Tautan adalah panel untuk mendaftarkan alamat-alamat tautan yang berhubungan dengan materi dari modul ajar yang sedang dibuat, sebagai bahan bacaan referensi.

1) Klik panel “Tautan” dan tombol “Kelola” di dalam panel Tautan, sehingga muncul jendela kelola Tautan seperti pada gambar berikut. clip_image002

2) Klik tombol “Tambah Baru”

3) Lengkapi nama, link, dan nomor urut dari tautan yang ingin dimasukkan, lalu klik tombol Simpan.

clip_image002[4]

4. Tarik dengan mouse nama tautan yang diinginkan, lalu lepaskan di atas konten layar editor yang diinginkan.

clip_image002[6]

5) Klik tombol “Tampilkan Preview” untuk melihat tampilan preview dari modul ajar yang dibuat. Klik tombol “Tampilkan Editor” untuk kembali ke layar editor.

image

 image

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 29 Juni 2013

Video Cara Aktivasi dan Pendaftaran NUPTK

Melalui Layanan Sistem Informasi PADAMU NEGERI akan diterbitkan layanan khusus Pengajuan NUPTK Baru secara Online. Layanan Pengajuan NUPTK Baru hanya berlaku bagi para PTK yang belum pernah mengajukan NUPTK atau sudah pernah mengajukan namun belum menerima NUPTK.

Untuk memperoleh NUPTK dengan persyaratan sebagai berikut :

  • Bertugas sebagai guru, kepala sekolah, dan pengawas pada jenjang TK,SD, SMP, SLB, SMA, dan SMK di sekolah dalam binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Memiliki status kepegawaian PNS/CPNS maupun Non PNS.
  • Bagi PTK yang Non PNS harus memenuhi syarat:
    • Bila bertugas di sekolah negeri dibuktikan dengan SK pengangkatan dari Bupati/Walikota.
    • Bila bertugas di sekolah swasta memiliki SK pengangkatan guru tetap yayasan (GTY) selama 4 tahun berturut-turut (terhitung mulai 1 Januari 2009) yang ditandatangani oleh Ketua Yayasan.  image

Untuk Login NUPTK silahkan mengakses alamat :

http://padamu.kemdikbud.go.id/ 

bila mengalami kesulitan/gangguan dapat mengakses IP http://118.98.222.83

Silahkan saksikan video berikut agar anda tidak mengalami kesulitan


BACA SELENGKAPNYA »

Kelompok Mata Pelajaran Peminatan Kurikulum2013 SMA/MA

Kelompok mata pelajaran peminatan bertujuan (1) untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan minat keilmuannya di perguruan tinggi, dan (2) untuk mengembangkan minatnya terhadap suatu disiplin ilmu atau keterampilan tertentu.

Struktur mata pelajaran peminatan dalam kurikulum SMA/MA adalah sebagai berikut:

image

BACA SELENGKAPNYA »

Media Lainnya Kelas Maya

Media lainnya merupakan panel yang berisi media-media yang sudah diunggah oleh guru-guru lain pada mata pelajaran yang sama.

1) Klik panel “ Media Lainnya”, sehingga muncul daftar media yang sudah diunggah oleh guru lain dengan mata pelajaran yang sama. Seperti yang terlihat pada gambar berikut:

clip_image002

2) Tarik dengan mouse nama file yang ingin disisipkan pada materi, lalu lepaskan di atas konten layar editor yang diinginkan.

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 28 Juni 2013

Guru Sebagai Pengarah Pembelajaran

Hendaknya guru senantiasa berusaha menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar. Dalam hubungan ini, guru mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar. Empat hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi adalah sebagai berikut.

  • Membangkitkan dorongan siswa untuk belajar
  • Menjelaskan secara konkret, apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
  • Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai hingga dapat merangsang pencapain prestasi yang lebih baik di kemudia hari.
  • Membentuk kebiasaan belajar yang baik.image

Pendekatan yang dipergunakan oleh guru dalam hal ini adalah pendekatan pribadi, di mana guru dapat mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam hingga dapat membantu dalam kesekuruhan PBM, atau dengan kata lain, guru berfungsi sebagai pembimbing . sebagai pembimbing dalam PBM, guru diharapkan mampu untuk :

  • Mengenal dan memahami setiap peserta didik, baik secara individu maupun secara kelompok
  • Membantu tiap peserta didik dalam mengatasi masalah pribadi yang dihadapinya
  • Memberikan kesempatan yang memadai agar tiap peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya
  • Mengevaluasi keberhasilan Rancangan Acara Pembelajaran dan langkah kegiatan yang telah dilakukannya.
Untuk itu, guru hendaknya memahami prinsip-prinsip bimbingan dan menerapkannya dalam proses pembelajaran
BACA SELENGKAPNYA »

Koleksi Pribadi Kelas Maya

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi adalah panel untuk mengunggah dan mengelola file-file pribadi dari komputer Anda ke Aplikasi Rumah Belajar Kelas Maya.

1) Klik panel “Koleksi Pribadi” dan tombol “Kelola” di dalam panel Koleksi Pribadi, sehingga muncul jendela kelola koleksi pribadi, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut. clip_image002[9]_thumb

2) Klik tombol “Unggah Koleksi Pribadi” untuk menggunggah file. Lengkapi  nama file dan pilih dokumen yang tersedia dalam komputer/laptop yang akan diunggah, kemudian klik tombol “Unggah”. clip_image002[11]_thumb

3) Tutup jendela Kelola Koleksi Pribadi untuk kembali ke halaman Modul Ajar.

4) Tarik dengan mouse nama file dari panel Koleksi Pribadi lalu lepaskan di atas konten layar editor yang diinginkan.

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 27 Juni 2013

Teknik Mengajar Yang Baik

Seorang guru/instruktur/dosen harus memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi yang diajarkannya, bila tidak… maka yang terjadi adalah siswa/mahasiswa akan kurang faham, tidak menyukai mata pelajaran tersebut atau bahkan anda sendiri sebagai pengajar tidak disukai. Tidak pelit nilai mungkin hal yang bijak sebagai seorang pengajar dan tentunya anda akan menjadi pengajar favorit dikelas, tetapi hal ini tidak mendidik dan merugikan siswa yang anda didik. Berikut ini ada beberapa tips yang biasa saya lakukan bila menyampaikan materi dikelas :

Sebelum Menyampaikan Materi :

  1. Pelajarilah kembali materi yang akan disampaikan dan buatlah rangkuman atau point-point penting pada materi tersebut, karena mungkin anda banyak mengajar mata pelajaran lainnya maka terkadang sudah agak lupa dengan materi ini sehingga perlu dipelajari lagi agar lebih siap.
  2. Buatlah diktat atau rangkuman yang dapat di fotocopy atau disalin oleh siswa, sehingga kita tidak perlu merujuk banyak buku kepada siswa. Hal ini juga memudahkan siswa sehingga ia tidak perlu banyak membeli buku. Apabila mata pelajarannya eksak/hitungan, buatlah rangkuman rumus kepada siswa.
  3. Siapkan soal-soal latihan sebanyak-banyaknya dan dibagi menjadi kategori ringan, sedang, dan susah. Rangkum semua soal tersebut dalam satu buku atau file dan buat memo disetiap soal tersebut… memo ini dibuat agar anda tahu kapan anda pernah memberikannya kepada siswa dan pada kelas berapa, sehingga soal yang sudah diberikan tidak disampaikan lagi pada pertemuan berikutnya.
  4. Milikilah absen siswa anda, dan buatlah tabel nilai dan presentase kemajuan siswa. Hal ini berguna agar anda dapat mengetahui apakah materi anda telah diserap dengan baik oleh siswa dan siswa mana yang perlu anda bimbing lebih ekstra agar nilainya tidak jatuh. image

Saat di Kelas :

  1. Buatlah suasana yang menarik dan tidak membosankan, untuk itu anda harus banyak latihan agar cara berbicara, sikap, dan metode ajar anda dapat diterima dengan baik oleh siswa. Menjadi guru yang garang dan terlalu disiplin terkadang akan membentuk siswa yang keras juga, untuk itu buatlah siswa takut karena hormat kepada anda dan bukan takut karena hukuman anda. Pernah ada siswa yang sangat nakal, namun ia justru malu dan takut dengan salah satu guru yang sangat dihormatinya. Berikan perhatian anda dengan penuh kasih sayang, bukan mencari kesalahan mereka..
  2. Buatlah quiz di awal dan akhir penyampaian materi, bila waktu tidak memungkinkan lakukan hanya di akhir materi bukan diawalnya… hal ini dapat menjadi indikator apakah materi yang telah disampaikan sudah diterima dengan baik oleh siswa. Saya banyak mengalami quiz dilakukan hanya di awal materi, hal ini hanya membuang waktu dan tidak efisien karena secara logika tentunya siswa belum mengetahui materi yang akan disampaikan. Kalo soal quiznya materi hari kemaren itu namanya ulangan… jadi perlu bedakan antara quiz dengan ulangan yach…
  3. Sampaikan materi dengan menyampaikan point-point pentingnya saja, jangan terlalu banyak bertele-tele atau terlalu banyak bercerita yang bukan dalam ruang lingkup materi anda. Untuk materi eksak, perbanyaklah contoh soal… sampaikan perlahan dan buat agar siswa juga sama2 ikut berfikir.
  4. Lakukan sistem ajar yang lebih interaktif berupa tanya jawab, pancinglah siswa agar banyak bertanya. Selain itu ada juga perlunya anda bersenda gurau disela-sela penyampaian materi agar tidak terlalu tegang.
  5. Pekerjaan Rumah (PR) dapat anda berikan setiap akhir penyampaian materi, namun bila ternyata itu tidak efektif misalnya banyak yang tidak mengerjakan atau ternyata banyak yang saling mencontek pekerjaan teman2nya sebaiknya metode PR nya anda ubah misal dengan beda soal tiap siswa atau cara lainnya.
  6. Anda perlu melakukan evaluasi terhadap cara anda mengajar, ini bisa dilakukan dengan memberikan questioner pada siswa terhadap cara mengajar anda.
  7. Anda juga dapat melakukan quiz interaktif, yaitu dengan membaca soal satu persatu dan mahasiswa langsung menjawab.. anda berikan waktu yang terbatas untuk menjawab soal tersebut. Misal bacakan soal no. 1 kemudian langsung dijawab oleh siswa, setelah itu bacakan soal no.2 kemudian siswa menjawab, demikian seterusnya… metode ini membuat siswa berfikir cepat dan tidak dapat mencontek.
BACA SELENGKAPNYA »

Cara Mengelola Modul Ajar Kelas Maya

Langkah selanjutnya setelah melakukan pengisian pada Rencana Pembelajaran adalah mengisi Modul Ajar. Untuk mengisi Modul Ajar, ikuti langkah-langkah berikut:

1. Klik menu “Modul Ajar” untuk mulai membuat dan mengelola modul ajar.

image

2. Modul Ajar terdiri atas beberapa tahap materi modul ajar yang harus diisi, antara lain: Identitas, Pengantar, Kegiatan Awal, Kegiatan Inti, dan Kegiatan Akhir.

3. Klik salah satu tahap tersebut, lalu mulailah mengisi layar editor yang tersedia dengan konten yang diinginkan, lalu klik tombol “Simpan”.

4. Tombol Tampilkan Preview digunakan untuk melihat tampilan modul ajar pada layar siswa.

5. Tombol Aktifkan digunakan untuk mengaktifkan modul ajar yang sudah diisi materi ajar secara lengkap. Dengan mengaktifkan modul ajar ini, maka siswa dapat melihat
modul ajar yang sudah dibuat oleh guru.

clip_image002

 

Pada bagian Identitas terdapat dua kolom yang harus diisi yakni Indikator

Pencapaian Kompetensi dan Deskripsi. Kedua kolom ini harus diisi, karena akan dibaca oleh siswa pada halaman awal Materi Belajar dan Kelas Maya.

- Pengantar, diisi dengan tujuan pembelajaran, apersepsi (bisa disertai dengan media, seperti: gambar, animasi, maupun video), serta petunjuk belajar.

- Kegiatan Awal, diisi dengan materi pembuka sesuai dengan indikator atau tujuan pembelajaran yang sudah dituliskan sebelumnya, serta petunjuk belajar yang mengarahkan siswa pada diskusi 2-2 di kelas maya. Deskripsi materi dapat disertai dengan media, seperti: gambar, animasi, maupun video.

- Kegiatan Inti, diisi dengan materi pelengkap atau materi inti sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dituliskan sebelumnya, serta petunjuk belajar yang mengarahkan siswa pada diskusi 4-4 di kelas maya. Deskripsi materi dapat disertai dengan media, seperti: gambar, animasi, maupun video.

- Kegiatan Akhir, berisi kesimpulan materi yang telah diberikan serta petunjuk belajar yang mengarahkan siswa untuk mengerjakan tugas dan latihan.

 

6. Anda juga dapat menambahkan file-file tambahan untuk melengkapi modul ajar yang dibuat, melalui panel Koleksi Pribadi, Katalog Media, dan Tautan.

clip_image002[5]

BACA SELENGKAPNYA »

Rabu, 26 Juni 2013

Guru Sebagai Pengelola Kelas

Dalam hal ini tentu saja guru berharap siswa mau belajar, baik dalam jam pelajaran tersebut atau sesudah materi dari guru ia terima. Belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik jika guru dan siswa sama-sama mengerti bahan apa yang akan dipelajari sehingga terjadi suatu interaksi yang aktif dalam PBM di kelas dan hal ini menjadi kunci kesuksesan dalam mengajar. Dengan demikian proses pembelajaran terjadi  dalam diri siswa. Pembelajaran merupakan suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan siswa turut  merespon situasi tertentu yang ia hadapi. image

Siswa sebagai subjek belajar, mempunyai pandangan/harapan dalam dirinya untuk seorang guru yang mereka anggap sukses mengajar di kelas. Apa sajakah pandangan para siswa tersebut? Bahwa para siswa menilai guru yang sukses mengajar itu adalah guru yang:

· tidak membuat siswa bosan dan takut

· mempunyai selera humor

· tidak mudah marah

· mau diajak berdialog dengan siswa

· menghargai pendapat siswa dan tidak mudah menyalahkan

· menghargai keberadaan siswa

· tidak pilih kasih terhadap  siswa

· menguasai & menjelaskan materi dengan baik dan dimengerti oleh siswa serta mau memaparkan kembali ketika ada siswa belum jelas/belum paham.

Ternyata beragam pendapat siswa tersebut tidak ada satupun yang menganggap kesuksesan seorang guru jika seluruh kelas tuntas saat uji ompetensi/ulangan. Jika demikian, apakah ketuntasan dalam  ujian menjadi tidak perlu? Para siswa menjawab bahwa ketuntasan dalam ujian merupakan bagian tanggung jawab siswa dalam belajar karena hal tersebut berhubungan dengan keberhasilan individu. Namun, sebagai guru, kita pun tentu tidak akan melepaskan tanggung jawab atas hasil belajar siswa.

Selain siswa, penulis pun dapat sedikitnya menggambarkan pendapat para guru tentang topik tersebut.  Bapak & ibu guru berpendapat bahwa mengajar dengan sukses itu:

· jika siswa dapat menerima materi/bahan ajar  dan hasilnya sesuai target yang diharapkan,

· jika siswa antusias menyimak dan memberikan pertanyaan mendalam tentang materi yang mereka terima serta mengaplikasikannya,

· jika program tercapai tepat waktu, materi dapat diterima siswa, dan terjadi perubahan dalam diri siswa

· jika mampu membuat siswa mengerti apa yang diajarkan oleh guru serta ada perubahan dalam diri siswa, dan mereka me rasa nyaman dalam PBM,

· jika dapat menyampaikan materi dengan cara/metode yang baik dan menarik, siswa memahami serta merespon dengan positif, aktif, dan hasil evaluasinya baik,

· jika suasana kelas kondusif untuk belajar,

· jika ada interaksi dalam PBM secara aktif, perubahan terjadi pada semua aspek.

Dari berbagai pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa mengajar dengan sukses adalah jika guru dapat memberikan materi kepada siswa dengan media dan metode yang menarik, menciptakan situasi belajar yang  kondusif dalam kelas sehingga tercipta interaksi belajar aktif. Dengan begitu akan terjadi proses perubahan dalam diri siswa bukan hanya pada hasil belajar tetapi juga pada perilaku dan sikap siswa.

Jadi, mengajar dengan sukses itu tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan yang bersifat kognitif saja, tetapi di dalamnya harus ada perubahan berpikir, sikap, dan kemauan  supaya siswa mau terus belajar. Timbulnya semangat belajar dalam diri siswa untuk  mencari sumber-sumber belajar lain merupakan salah satu indikasi bahwa guru sukses mengajar siswanya. Dengan demikian kesuksesan dalam mengajar adalah seberapa dalam siswa termotivasi untuk mau terus belajar sehingga mereka akan menjadi manusia-manusia pembelajar. Caranya? Sebagai guru mari kita mau membuka diri dan melihat secara jernih apa yang menjadi harapan siswa dalam diri kita

BACA SELENGKAPNYA »

Rencana Pembelajaran kelas maya

Rencana pembelajaran merupakan kontrak belajar yang akan dibaca siswa pada saat pertama kali memilih mata pelajaran pada guru yang diinginkan. Setelah guru memilih topik yang ingin diisi materi ajarnya, akan muncul tampilan berikut:

clip_image002

Terdapat 4 (empat) alur yang harus diisi oleh guru. Untuk menulis deskripsi pada setiap alur, klik tombol Ubah, kemudian tuliskan deskripsi yang diinginkan.

1 . Pengantar : berisi tujuan mempelajari topik, apersepsi tentang topik yang akan dipelajari dan kuis yang terkait, serta arahan kepada siswa untuk membaca petunjuk belajar sebelum mulai membaca materi ajar.

2. Kegiatan Awal : berisi penjelasan tentang materi awal yang terdapat pada modul ajar, serta petunjuk belajar yang harus diikuti siswa setelah membaca materi pada modul ajar.

3. Kegiatan Inti : berisi penjelasan tentang materi ajar yang lebih lengkap, serta petunjuk belajar yang harus diikuti siswa setelah membaca materi pada modul ajar.

4. Kegiatan Akhir : berisi penjelasan tentang umpan balik, evaluasi, dan tugas/proyek yang akan diberikan dalam modul ajar.

Tombol Aktifkan digunakan oleh guru jika topik yang dipilih guru sudah terisi secara lengkap hingga pengisian latihan. Setelah tombol diaktifkan, maka siswa dapat melihat materi ajar yang ditulis oleh guru. Jika sudah ada siswa yang mengikuti kelas maya dan memilih materi ajar ini, maka tombol Non Aktifkan tidak akan berfungsi.

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 25 Juni 2013

KURIKULUM 2013 SMK TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI Kompetensi Struktur Kurikulum 2013

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

BIDANG KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Teknik Broadcasting

Program Keahlian : Teknik Komputer Dan Informatika

Program Keahlian : Teknik Telekomunikasi

clip_image002

DOWNLOAD KURIKULUM 2013 SMK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Ketrampilan Guru menutup pelajaran

Belajar dapat dikatakan suatu proses yang tidak pernah berhenti karena merupakan suatu proses yang berkelanjutan ke arah kesempurnaan dan setiap kali suatu interaksi di kelas diakhiri pada minggu berikutnya interaksi itu pasti akan dilanjutkan. Menutup pelajaran identik dengan mengakhiri pelajaran, menutup pelajaran bukan berarti selesainya saluruh proses belajar mengajar akan tetapi menutup pelajaran berarti mengakhiri pelajaran ini dari pelajaran dan menyimpulkan apa yang telah dipelajari. Jangan mengakhiri pelajaran dengan tiba-tiba. Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. image Guru perlu merencanakan suatu penutup yang tidak tergesa-gesa dan juga dengan doa sekitar tiga sampai lima menit. Dalam menutup pelajaran yang telah diberikan seorang guru harus mampu menguasai beberapa cara yaitu:

1. Merangkum Pelajaran

Sebagai penutup, hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Misalnya, kebenaran- kebenaran yang penting dalam pelajaran, pelajaran praktis yang telah diajarkan, penerapan akhir yang harus dibuat, Kristus dinyatakan sebagai Juru Selamat orang berdosa, atau bagaimana pelajaran dapat dilakukan di rumah, sekolah, atau saat beraktivitas.

2. Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya

Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar mereka.

Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang.

3. Bangkitkan minat

Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang mengesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks” sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar.

4. Memberikan tugas

Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama, bahkan sebelum pelajaran dimulai. Perlu diingat pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas.

BACA SELENGKAPNYA »

Mengelola Materi Ajar pada Kelas Maya

untuk mengelola materi ajar pada kelas maya rumah belajar anda harus login terlebih dahulu sebagai guru. jika anda belum melakukan pendaftaran kelas maya silahkan baca artikel pendaftaran kelas maya.

Jika anda belum login maka ikuti lengakah berikut.J ika guru sudah pernah mendaftar, maka ikuti langkah berikut untuk membuka kelas maya:

1. Buka alamat aplikasi : http://belajar.kemdikbud.go.id/kelasmaya

2. Masukkan username dan password pada kolom yang disediakan, lalu klik tombol
“Masuk”

clip_image002

Halaman awal muncul setelah pengguna berhasil melakukan login sebagai guru, berisi daftar materi ajar dan kelas maya yang telah dibuat, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.

clip_image002[4]

1. Untuk memilih materi ajar yang diinginkan, klik tombol Kelola Materi Ajar kemudian klik salah satu Materi Ajar yang diinginkan. Mata pelajaran yang sudah dipilih akan muncul pada halaman awal ini.

2. Jika guru belum membuat kelas maya, maka pada kolom Kelas Maya yang Diajar belum ada daftar kelas maya. Jika kelas maya sudah dibuat, maka pada kolom ini akan muncul daftar kelas maya. Untuk membuka kelas maya, Klik salah satu Kelas Maya yang diinginkan (yang terdapat pada daftar kelas maya) untuk langsung menuju halaman Kelola Kelas Maya yang bersangkutan.

Menu Materi Ajar berisi halaman untuk mulai membuat materi ajar yang baru atau mengelola materi ajar yang telah dibuat.

1. Untuk membuat materi ajar, klik menu Materi Ajar.

clip_image002[6]

2. Pilih Mata Pelajaran yang ingin dibuat materi ajarnya.

clip_image002[8]

3. Selanjutnya akan muncul preview daftar topik yang tersedia untuk mata pelajaran tersebut. Klik tombol “Buat Materi Ajar Ini” untuk membuat materi ajar.

clip_image002[10]

4. Dari jendela konfirmasi yang muncul, klik OK untuk melanjutkan.

clip_image002[12]

5. Di halaman selanjutnya, yaitu halaman Ubah Materi Ajar, nama dari Materi Ajar secara default adalah sama dengan nama mata pelajaran. Anda dapat melakukan perubahan untuk judul nama materi ajar maupun deskripsi dari mata pelajaran tersebut. Klik tombol Simpan untuk menyimpan.

clip_image002[14]

6. Status publikasi bisa dicentang jika guru telah selesai membuat seluruh konten materi ajar pada topik yang dipilihnya dan ingin agar siswa dapat melihat materi ajar tersebut. Secara default, status publikasi berada dalam kondisi tidak tercentang.

7. Tombol Kelola Ujian adalah fitur untuk guru jika sudah ingin membuat soal ujian untuk materi yang sudah dipilih, untuk ujian evaluasi pembelajaran satu semester atau tergantung jumlah topik yang diisi konten materi oleh guru.

8. Tombol Kelola Penilaian merupakan fitur yang digunakan guru untuk menentukan bobot atau presentase nilai ujian dan nilai topik.

9. Tombol Daftar Nilai berisi daftar peserta didik yang sudah mengerjakan ujian dan menyelesaikan topik yang dipilihnya.

10. TopikAjar berisi daftar topik yang bisa diisi oleh guru dengan konten materi ajar yang diinginkan. Klik salah satu topik yang ingin dibuat Modul Ajarnya. Guru dapat memilih lebih dari satu topik untuk diisi materi ajar secara lengkap.

BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 24 Juni 2013

KURIKULUM 2013 SMK /MAK SENI RUPA DAN KRIYA Kompetensi dan Struktur Kurikulum 2013

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

DOWNLOAD STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : SENI RUPA DAN KRIYA

BIDANG KEAHLIAN : SENI RUPA DAN KRIYA (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Desain Dan Produksi Kriya

Program Keahlian : Seni Rupa

clip_image002

DOWNLOAD KURIKULUM 2013 SMK SENI RUPA DAN KRIYA (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Guru Sebagai Pelaksana Kurikulum

Kurikulum adalah perangkat pengalaman belajar yang akan didapat oleh peserta didik selama ia mengikuti suatu proses pendidikan. Secara resmi sebenarnya kurikulum meruapakan sesuatu yang diidealisasikan atau dicita-citakan (Ali, 1985 : 30). Keberhasilan dari suatu kurikulum yang ungin dicapai sangat bergantung pada faktor kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru. Artinya, guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam upaya mewujudkan segala sesuatu yang telah tertuang dalam suatu kurikulum resmi. Bahkan pandangan mutakhir menyatakan bahwa meskipun suatu kurikulum itu bagus, namun berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak di tangan pribadi guru.

Untuk pernyataan tersebut terdapat beberapa alasan, yaitu:

  1. Guru adalah pelaksana langsung dari kurikulum di suatu kelas
  2. Gurulah yang bertugas mengembangkan kurikulum pada tingkat pembelajaran, karena ia melakukan tugas sebagai berikut.
    • Menganalisis tujuan berdasarkan apa yang tertuang dalam kurikulum resmi
    • Mengembangkan alat evaluasi berdasarkan tujuan
    • Merumuskan bahan yang sesuai dengan isi kurikulum
    • Merumuskan bentuk kegiatan belajar yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik dalam melaksanakan apa yang telah diprogramkan
  3. Gurulah yang langsung menghadapi berbagai permasalahan yang muncul sehubungan dengan pelaksanaan kurikulum di kelas
  4. Tugas gurulah yang mencarikan upaya memecahkan segala permasalahan yang dihadapi dan melaksanakan upaya itu. image

Sehubungan dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum, permasalahan yang sering kali muncul dan harus dihadapi oleh guru yaitu :

  1. Permasalahan yang berhubungan dengan tujuan dan hasil-hasil yang diharapkan dari suatu lembaga pendidikan
  2. Permasalahan yang berhubungan dengan isi/materi/bahan pelajaran dan organisasi atau cara pelaksanaan dari kurikulum
  3. Permasalahan dalam hubungan dengan proses penyusunan kurikulum dan revisi/perbaikan kurikulum
Sedangkan peranan guru dalam pembinaan dan pengembangan kurikulum secara aktif dapat dijabarkan sebagai berikut.
a. Dalam perencanaan kurikulum
Kurikulum di tingkat nasional dirancang dan dirumuskan oleh para pakar dari berbagai bidang disiplin ilmu yang terkait, sedangkan guru-guru yang sudah berpengalaman biasanya terlibat untuk memberikan masukan berupa saran, ide, dan/atau tanggapan terhadap kemungkinan pelaksanaannya di sekolah.
b. Dalam pelaksanaan di lapangan
Para guru bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikuluim, baik secara keseluruhan kurikulum maupun tugas sebagai penyampaian mata pelajaran sesuai dengan GBPP yang telah dirancang dalam suatu kurikulum.
c. Dalam prose penilaian
Selama pelaksanaan kurikulum akan dinilai seberapa jauh tingkat ketercapaiannya. Biasanya guru diminta saran atau pendapat maupun penilaian kurikulum yang sedang berjalan guna melihat kebaikan dan kelemahan yang ada, dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek filosofis, sosiologis, dam metodologis.
d. Pengadministrasian
Guru harus menguasai tujuan kurikulum, isi program (pokok bahasan/subpokok bahasan) yang harus diberikan kepada peserta didik. Misalnya pada kelas dan semester berapa suatu pokok bahasan diberikan dan bagaimana memberikannya. Biasanya dengan menyusun suatu bagan analisis tugas pembelajaran dan rencana pembelajaran
e. Perubahan kurikulum
Guru sebagai pelaku kurikulum mau tidak mau tentua akan selalu terlibat dalam pembaruan yang sedang dilakukan sebagai suatu usaha untuk mencari format kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman. Masukan sebagai input berupa saran, ide dan kritik berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan oleh guru sangat besar artinya bagi perubahan dan pengembangan suatu kurikulum.
Sebagai kesimpulan dapat dijelaskan bahwa seorang guru haruslah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum, selain tugas utamanya sebagai pembina kurikulum. Ini berarti bahwa guru dituntut untuk selalu mencari gagasan baru demi penyempurnaan praktik pendidikan dan praktik pembelajaran pada khususnya. Hal ini harus dilakukan agar hasil belajar peserta didik dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Untuk itu, seorang guru harus menganggap bahwa kurikulum sebagai program pembelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik bukan sebagai barang mati, sehingga apa yang terdapat dalam kurikulum dapat dijabarkan oleh guru menjadi suatu materi yang menarik untuk disajikan pada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
BACA SELENGKAPNYA »

Sekolah Ikatan Dinas

Sekolah tinggi atau perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masing – masing lembaga negara (kementrian) ada 2 jenis yaitu Sekolah ikatan dinas dan sekolah kedinasan, Apa perbedaan ikatan dinas dengan kedinasan ? Ikatan dinas adalah jika anda lulus dari perguruan tinggi tersebut maka status anda langsung sebagai pegawai negeri (PNS). Sedangkan untuk kedianasan jika anda lulus anda langsung ditempatkan di kantor BPN dengan status honorer/magang.image

Berikut ini adalah daftar Sekolah Ikatan Dinas dibawah naungan masing masing Kementrian RI

1. STIN – Sekolah Tinggi Intelejen Negara – di bawah Badan Intelejen Negara.
Pendaftaran online http://www.bin.go.id/stin

2. STPDN/IPDN – Institut Pemerintahan Dalam Negeri di bawah Kementerian Dalam Negeri RI.
pendaftaran dan info http://www.ipdn.ac.id/ Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jalan Otto Iskandardinata No 64C, Jakarta Timur,
website http://stis.ac.id/

3. Sekolah Tinggi AKuntansi Negara (STAN), Jalan Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang,
website http://www.stan.ac.id/

4. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Jalan Dr Setiabudi 186, Bandung,
website http://stp-bandung.ac.id/

5. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug Banten, Jalan Raya PLP Curug, Tangerang,
website http://www.stpicurug.ac.id/

6. AKIP – Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM.

Jalan Raya Gandul Cinere, Jakarta selatan,
website http://www.akip.ac.id/

7. Akademi Kimia Analis Jawa Barat, Jalan Ir H Juanda 7, Bogor,
website http://www.aka.ac.id

8. Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Jalan Timbul 34, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan,
website  www.app-jakarta.ac.id

9. AKAMIGAS-STEM – Akademi Minyak dan Gas Bumi (Sekolah Tinggi Enerji dan Mineral) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (Kawasan Rig dan pengeboran minyak) – 
website http://www.akamigas.ac.id/stem/

10. Akmil - Akademi Militer RI. Untuk pendaftaran http://www.akmil.ac.id/

11. Akpol - Akademi Kepolisian RI. Untuk pendaftaran http://akpol.ac.id/

12. Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Jalan Perhubungan I No 5, Komplek Metro, Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, website http://www.amg.ac.id/

13. MMTC – Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo) Pendaftaran online http://www.mmtc.ac.id/

14. Politeknik Kesehatan DEPKES Surabaya, Jalan Pucang Jajar Tengah 56, Surabaya,
website http://poltekkesdepkes-sby.ac.id/

15. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Jalan Cimandiri 34-38, Bandung,
website http://www.stialan.ac.id/ http://www.stialanbandung.ac.id/ http://www.stialanmakassar.ac.id/

16. Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jakarta, Jalan Letjen Suprapto 26, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, website http://www.stmi.ac.id/

17. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Jalan AUP, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,
website INFO SEKOLAH

18. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta, Jalan Tata Bumi 5, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta,
website http://www.stpn.ac.id/

19. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Jalan Raya Haji Usa, Desa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor,
website http://stsn-nci.ac.id/

20. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Jawa Barat, Jalan Jakarta No 31, Bandung,
website http://www.stttekstil.ac.id/

21. Sekolah Tinggi Transportasi Darat Jawa Barat, jalan Raya Setu Km 3,5 Cibuntu, Cibitung, Bekasi, Jawa barat,
website http:// www.sttd.ac.id/

22. Sekolah Tingi Kesejahtraan Sosial Jawa Barat, Jalan H Juanda 367, Bandung,
website http://stks.kemsos.go.id/

23. STIS – di bawah Badan Pusat Statistik (dapat uang saku per bulannya Rp. 850.000),
pendaftaran online http://stis.ac.id/ Lokasi kuliah Jakarta

BACA SELENGKAPNYA »

Minggu, 23 Juni 2013

KURIKULUM 2013 SMK/MAK SENI PERTUNJUKAN Kompetensi dan Struktur Kurikulum 2013

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

DOWNLOAD STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : SENI PERTUNJUKAN

BIDANG KEAHLIAN : SENI PERTUNJUKAN (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Seni Karawitan

Program Keahlian : Seni Musik

Program Keahlian : Seni Pedalangan

Program Keahlian : Seni Tari

Program Keahlian : Seni Teater

clip_image002

DOWNLOAD KURIKULUM 2013 SMK SENI PERTUNJUKAN (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Cara Pendaftaran Kelas Maya Rumah Belajar Kemdikbud

Langkah pertama yang harus dilakukan guru untuk masuk ke Kelas Maya yakni mendaftarkan diri sebagai guru di Kelas Maya dengan mengakses aplikasi Rumah Belajar Kelas Maya, pada alamat berikut: http://belajar.kemdikbud.go.id/kelasmaya.
Pendaftaran dilakukan pada menu login yang muncul pada halaman muka, yang akan ditemui oleh pengguna saat pertama kali dengan tampilan sebagai berikut:

 

clip_image002

REGISTRASI

Menu Registrasi merupakan menu yang dapat diakses langsung dari halaman login, untuk anonymous user (pengguna yang tidak dikenal atau pengguna baru) yang ingin melakukan registrasi ke dalam aplikasi, yaitu untuk mendaftar sebagai guru atau mendaftar sebagai siswa. Ikuti langkah-langkah berikut:

1. Buka alamat aplikasi : http://belajar.kemdikbud.go.id/kelasmaya

2. Klik tombol “Daftar Sekarang! Gratis!” clip_image002[4]

3. Halaman pilihan registrasi yang muncul adalah seperti pada gambar berikut.

clip_image002[8]

Registrasi Guru

4. Klik “Daftar Sebagai Guru” untuk mendaftar sebagai guru.

5. Lengkapi data asal Provinsi, Kabupaten, Jenjang, dan Sekolah, lalu klik tombol
“Simpan Pilihan” clip_image002[10]

 

6. Lengkapi data Nama Depan, Nama Belakang, NUPTK, Username, Password, dan konfirmasi password, lalu klik tombol “Daftar” clip_image002[12]

 

7. Tunggu selama beberapa saat hingga akun Anda selesai dipersiapkan, lalu lakukan login kembali ke dalam aplikasi Rumah Belajar Kelas Maya dengan akun yang baru.

8. Setelah login berhasil dilakukan, tandai mata pelajaran yang diajar, lalu klik tombol “Simpan Pilihan”

clip_image002[14]

 

 

Jika guru sudah pernah mendaftar, maka ikuti langkah berikut untuk membuka kelas maya:

1. Buka alamat aplikasi : http://belajar.kemdikbud.go.id/kelasmayaimage

2. Masukkan username dan password pada kolom yang disediakan, lalu klik tombol
“Masuk”

BACA SELENGKAPNYA »

Keterampilan Bertanya Bagi Guru

Bertanya merupakan tingkah laku yang sangat penting di dalam kelas bertanya untuk mengetahui apakah kualitas berfikir siswa dari sederhana terjadi perubahan frerfikir secara kompleks setelah diberikan pelajaran.Bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan siswa untuk berfikir dan mengemukakan jawaban yang sesuai dengan harapan guru.

Sardinian 1987 dalam bukunya ‘Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar’ mengatakan bahwa pertanyaan yang baik mempunyai ciri-ciri:

1. Kalimatnya singkat dan jelas.

2. Tujuannya jelas.

3. Setiap pertanyaan hanya -satu masalah.

4. Mendorong anak untuk berfikir kritis.

5. Jawaban yang diharapkan bukan sekedar ya atau tidak.

6. Bahasa dalam pertanyaan dikenal baik oleh siswa, dan

7. Tidak menimbulkan tafsiran ganda

image

Tujuan penggunaan keterampilan bertanya

1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap pokok bahasan

2. Memusatkan perhatian

3. Mengembangkan SCL (Studen Center Learning)

4. Menarik siswa dalam pokok pembicaraan

5. Mengembangkan cara belajar siswa aktif

6. Mengetahui kesulitan belajar siswa

7. Memotifasi siswa mengeluarkan pendapat

8. Mengukur hasil belajar siswa.

Yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan:

1. Kehangatan Dan Keantusiasan

Baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun menerima jawaban siswa, sikap dan gaya guru suara, ekpresi wajah, gerakan badan, dan sebagainya. Menampilkan ada tidaknya kehangatan.

– Kebiasaan Yang Harus Dihindari

– Mengulangi Pertanyaan Sendiri

Contoh: Sebelum siswa dapat berpikir maksimal terhadap pertanyaan guru mengulangi pertanyaan kembali akibatnya siswa tidak konsentrasi.

2. Mengulangi Jawaban Siswa

Menyebabkan waktu terbuang, siswa tidak mendengar jawaban dari temanya    yang lain karena guru akan mengulanginya.

3. Mejawab Pertanyaan Sendiri

Pertanyaan dijawab guru sebelum siswa mendapatkan kesempatan cukup untuk memikirkan jawabanya sehingga anak beranggapan tidak perlu memikirkan jawabanya karena guru akan memikirkan jawabanya.

4. Pertanyaan Yang Memancing Jawaban Serentak

Contoh : Apa ibu kota RI?

Akibatnya guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan  menutut kemungkinan terjadi interaksi selanjutnya.

5. Pertanyaan Ganda

Contoh : Siapa pemimpin orang belanda yang pertama datang ke Indonesia, mengapa mereka datang, dan apa akibat mereka itu bagi bangsa Indonesia. Hal ini akan mematahkan semangat siswa yang hanya sanggup menyelesaikan satu dari semua tugas itu.

6. Menentukan siswa tertentu untuk menjawabnya. Akibatnya anak yang   tidak ditunjuk tidak memikirkan jawabanya.

Komponen Ketrampilan bertanya

1. Pengungkapan pertanyaan yang jelas dan singkat

2. Pemberian acuan

3. Penyebaran ; beberapa pertanyaan yang berbeda disebarkan giliranya kepada siswa yang bertanda

4. Pemberian waktu berfikir

5. Pemberian tuntunan

6. Mengungkapkan sekali lagi pertanyaan dengan cara lain yang lebih sederhana.

7. Mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana

8. Mengulangi penjelasan sebelumnya yang berhubungan pertanyaan.

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 22 Juni 2013

KURIKULUM 2013 SMK/MAK PARIWISATA Kompetensi dan Struktur Kurikulum 2013

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

DOWNLOAD STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : PARIWISATA

BIDANG KEAHLIAN : PARIWISATA (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Kepariwisataan

Program Keahlian : Tata Boga

Program Keahlian : Tata Busana

Program Keahlian : Tata Kecantikan

clip_image002

DOWNLOAD KURIKULUM SMK PARIWISATA (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Kurikulum 2013 SMA Kelompok Mata Pelajaran Wajib

Struktur kelompok mata pelajaran wajib dalam kurikulum SMA/MA adalah sebagai berikut:

image

Keterangan:

Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 21 Juni 2013

SMK/MAK KESEHATAN : Kompetensi dan Struktur Kurikulum 2013

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

DOWNLOAD STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : KESEHATAN

BIDANG KEAHLIAN : KESEHATAN (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Pekerjaan Sosial

Program Keahlian : Kefarmasian

Program Keahlian : Keperawatan

clip_image002

Download Krikulum SMK KESEHATAN (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Manager or Instruction Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran

Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran (Manager or Instruction), Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar dan bekerja, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. image

Selain itu, guru juga berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari kea rah pengenalan tingkah laku dan kepribadiannya sendiri. Salah satu cirri manajemen kelas yang baik adalah tersedianya kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya pada guru hingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri.

Sebagai manajer, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori belajar mengajar dari teori perkembangan hingga memungkinkan untuk menciptakan situasi belajar yang baik mengendalikan pelaksanaan pengajaran dan pencapai tujuan.

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 20 Juni 2013

Kompetensi STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN BISNIS DAN MANAJEMEN

Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK/MAK berdasarkan Spektrum SMK 2013

DOWNLOAD STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMK/MAK BIDANG KEAHLIAN : BISNIS DAN MANAJEMEN

BIDANG KEAHLIAN : BISNIS DAN MANAJEMEN (Download)

Meliputi:

Program Keahlian : Administrasi

Program Keahlian : Keuangan

Program Keahlian : Tata Niaga

clip_image001

Silahkan Download BIDANG KEAHLIAN : BISNIS DAN MANAJEMEN (Download)

untuk Struktur Kurikulum 2013 Sekolah Dasar SD/MI silahkan klik disini

untuk Struktur Kurikulum 2013 SMP/MT’s silahkan klik disini

untuk STRUKTUR KURIKULUM 2013 SMA/MA  silahkan klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Guru daman Mendorong Pertumbuhan dan Prestasi Siswa

Peran guru dalam pembelajaran diharapkan dapat mencakup tiga hal, yaitu: mengembangkan pertumbuhan sosial, pertumbuhan emosional, dan pertumbuhan perolehan pengetahuan bagi para peserta didiknya. Seorang guru dapat mendorong siswanya dalam sebagai pembelajar yang aktif. Pembelajar yang aktif ini merupakan  salah satu aspek konstruktivisme, sebuah pandangan yang sedang berkembang mengenai pembelajaran yang nantinya akan kita bahas dalam bab khusus. Selain perolehan pengetahuan yang diinginkan, peningkatan sosial dan intelektual siswa merupakan tujuan utama yang harus dicapai oleh guru sebagai salah satu peran terpenting guru yang profesional. Secara social siswa didorong untuk saling berinteraksi di pusat-pusat pembelajaran. image

Pertanyaan umum yang dihadapi oleh para guru adalah, Komponen pertumbuhan siswa apa yang merupakan tujuan terpenting yang harus dicapai dalam institusi sekolah umum? Apakah pertumbuhan intelektual akademik atau pertumbuhan emosional sosial? Selain dijelaskan dalam bentuk - bentuk apa yang seharusnya diajarkan, kurikulum seharusnya juga didasarkan pada gudang pengetahuan yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan peradaban, atau seharusnya pembelajaran kita fokus dalam membantu siswa berinteraksi secara lebih baik dengan teman - teman untuk meningkatkan harga diri dan prestasi akademik dan menyediakan kesempatan - kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan pertemanan (Campbell, & Dickinson, 2004).

Peran guru yang utama adalah memfasilitasi pembelajaran siswa, yang secara luas dijabarkan, dengan berbagai cara. Hal ini kemudian melahirkan suatu pertanyaan yang fundamental: Bagaimana kita belajar? Kita belajar dengan cara yang berbeda-beda, mulai dari pembelajaran eksperimental (pembelajaran berbasis pengalaman) hingga pembelajaran dari orang lain.

 

a.      Konstruktivisme dalam Kelas

Meskipun konstruktivisme memiliki definisi yang beragam, pandangan umumnya kebanyakan membantah bahwa pengetahuan menetap hanya dalam diri pembelajar dan bahwa kita tidak dapat mengajar representasi yang akurat mengenai “kebenaran”. Kita hanya dapat menegosiasikan makna-makna bersama (shared meaning) dengan para siswa dan memberikan mereka kesempatan untuk membangun pemahaman yang bermakna saat mereka terlibat dalam aktivitas yang dilakukan dengan sengaja (Jacobsen, 2003a).

Meskipun pandangan radikal mengenai kontruktivisme ini begitu diapresiasi oleh para akademisi, pandangan tersebut sering kali gagal menerapkan realitas praktis yang dihadapi guru dalam ruang kelas saat ini. Meskipun banyak bukti mengindikasikan bahwa para pembelajar sesunguhnya membangun pemahaman, tidak semua bentuk pemahaman valid seluruhnya, dan ada sebuah realitas yang bebas dari pemahaman individu (Eggen & Kauchauk, 2007). Jika hal ini tidak benar, para guru akan memiliki peran kecil dalam pendidikan, dan akibatnya, konstruktivisme akan muncul begitu saja. Tentu saja, kondisi ini tidak sesuai dengan kenyataan bahwa para guru saat ini makin dibebani oleh tangung jawab untuk menfasilitasi perolehan pengetahuan kognitif konkret yang diukur berdasarkan penilaian yang terstandarisasi dan berpatokan tinggi.

Lingkungan pembelajaran konstruktivis mengutamakan dan menfasilitasi peran aktif siswa. Lingkungan pembelajaran konstruktivis mengubah fokus dari penyebaran informasi oleh guru, yang mendorong peran pasif siswa, menuju otonomi dan refleksi siswa, yang mendorong peran aktif siswa. Strategi - strategi pembelajaran aktif menganjurkan aktivitas - aktivitas pembelajaran yang di dalamnya siswa diberikan otonomi dan control yang luas untuk mengarahkan aktivitas-aktivtas pembelajaran. Aktivitas-aktivitas pembelajaran aktif meliputi pemecahan masalah, bekerja dalam bentuk kelompok kecil, pembelajaran kolaboratif, kerja investigative, dan pembelajaran eksperiential. Sebaliknya, aktivitas-aktivitas pembelajaran pasif, yang di dalamnya siswa hanya menjadi penerima informasi, melibatkan peran siswa hanya dalam aktivitas mendengarkan (listening) apa yang dikatakan oleh guru dan tak jarang mereka diberi pertanyaan-pertanyaan yang kurang berkualitas. Pergeseran paradigma pembelajaran konstruktivis ini didasarkan pada gagasan bahwa secara alamiah para pembelajar sebenarnya sudah memiliki sikap aktif dan rasa ingin tahu, yang kedua sifat ini kemudian menjadikan metode ceramah (lecture) dan buku ajar (textbook) bukan sebagai penekanan utama dalam pembelajaran kelas. Pergeseran semacam ini bukan berarti bahwa guru tidak perlu menjelaskan materi pelajaran pada siswa; sebaliknya, ia justru menyiratkan bahwa kita -sebagai guru- seharusnya curiga mengenai seberapa banyak pemahaman yang telah dikembangkan oleh para pembelajar dari penjelasan-penjelasan yang telah kita berikan dan sejauh mana rekaman atau catatan mereka tentang  pengetahuan tersebut. Meyakini bahwa para pembelajar membangun daripada sekedar mencatat/merekam pemahaman memiliki implikasi yang penting pada cara-cara kita m engajar. Selain beberapa peringatan yang telah terinci sebelumnya, sebagai para pendidik, kita seharusnya melakukan hal-hal berikut ini (Eggan & Kauchak, 2007):

ü  Menyediakan beragam contoh dan representasi materi pelajaran pada para pembelajar.

ü  Mendorong tingkat interaksi yang tinggi dalam pembelajaran kita.

ü  Menghubungkan materi pelajaran dengan dunia nyata.

 Meskipun tidak ada satu pun teori konstruktivis yang memerinci berikut ini, banyak pendekatan konstruktivias yang merekomendasikan pada kita (Ormrod, 2000):

ü  Lingkungan-lingkungan pembelajaran yang menantang dan rumit, dan tugas-tugas yang autentik.

ü  Negosiasi sosial dan tangungjawab bersama (shared responsibility) sebagai bagian dari pembelajaran.

ü  Representasi-representasi materi pelajaran berganda.

ü  Pemahaman bahwa pengetahuan dapat dibangun.

ü  Pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Selain konstruktivisme, pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki fokus atau perhatian yang juga beragam. Pertama, saat siswa membangaun pemahaman mereka mengenai suatu materi pelajaran, mereka mengembangkan perasaan personal bahwa pengetahuan adalah milik mereka. Kedua, pemusatan siswa menekankan adanya penelitian dan pembelajaran berbasis masalah dan kerja kelompok. Aktivitas-aktivitas pemecahan masalah dalam ruang kelas semacam ini, beserta dengan komponen-komponen teori konstruktivis lain yang berpusat pada siswa, dibangun berdasarkan filsafat John Dewey (1906, 1938), seorang filsuf dari Amerika yang paling berpengaruh. Sebelumnya Dewey, pendidikan di Amerika Serikat masih bertujuan untuk menfasilitasi perolehan pengetahuan siswa. Namun, seiring dengan munculnya teori-teori Dewey dan metode reflektif, para pendidik kemudian sangat tertarik pada kemampuan siswa dalam berpikir mengenai informasi dan melibatkan diri mereka dalam pemecahan masalah yang nyata. Para guru yang menerapkan teori-teori Dewey lebih menekankan kurikulum yang berpusat pada siswa dan berorientasi pada aktivitas (a student-centered, activity-oriented curriculum) di setiap pembelajaran kelas mereka (Jacobsen, 2002b). Dewey lebih jauh percaya bahwa aktivitas-aktivitas seperti ini seharusnya berguna dan bernilai praktis, bahwa aktivitas-aktivitas pembelajaran yang efektif bagi siswa pada akhirnya dapat melibatkan mereka untuk belajar dengan tindakan (learning by doing), dan bahwa pembelajaran seharusnya menjadi pengalaman seumur hidup yang berkelanjutan dimana “otak/pikiran yang aktif dapat berorientasi dengan dunia terbika yang luasuntuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terus menerus muncul bersama dengan pengalaman sebelumnya meski dalam bentuk yang berbeda.” (Reed & Johnson, 2000: 91).

Teori-teori konstruktivis mengenai pembelajaran juga dipengaruhi oleh teori-teori pengembangannya Piaget (1952, 1959) dan teori-teori pembelajaran sosialnya Vygotsky. Kajian Piaget fokus pada pengalaman-pengalaman individu langsung yang menggerakkan pembelajaran secara berurutan pada periode waktu tertentu untuk membangun pengetahuan perseptual, konkret dan pada akhirnya abstrak. Kajian Vygotsky menekankan pentingnya interaksi socsal saat siswa berpartisipasi dalam tugas tugas pembelajaran. Para pembelajar meningkatkan pemikiran mereka sendiri dengan bersikap terbuka pada pandangan-pandangan dan wawasan-wawasan orang lain. Salah satu strategi pembelajaran kerja kelompok yang paling umum diimplementasikan adalah pembelajaran kooperatif  yang di dalamnya guru berperan mendorong pembelajar dengan menekankan pada kerja team/kelompok  sebagai lawan dari pendekatan kompetitif dalam pembelajaran. Dengan peran ini, guru dapat menfasilitasi usaha siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan.

Namun, kata yang penting untuk diperhatikan pada kalimat sebelumnya adalah kata dapat. Secara khusus, pandangan bahwa interaksi sosial menfasilitasi konstruksi pemahaman merupakan prinsip yang menggaris bawahi teori pembelajaran konstruktivis. Hal ini terkadang dimaksudkan pada tujuan bahwa seorang guru yang menerapkan pembelajaran kooperatif adalah seorang “konstruktivis,” padahal seseorang yang mengandalakan aktivitas-aktivitas pembelajaran berkelompok besar bukanlah seorang konstruktivis. Sebenarnya, ada guru yang mungkin mendasarkan pembelajaran mereka pada pandangan-pandangan konstruktivis, namun ada pula yang tidak. Pembelajaran berkelompok besar, yang dilakukan secara efektif, dapat mendorong konstruksi pemahaman, sementara pembelajaran kooperatif, yang dijalankan dengan kurang maksimal, tidak dapat mendorong konstruksi pemahaman (Eggen & Jacobsen, 2001). Oleh karena itu, yang perlu digarisbawahi bukanlah bagaimana para guru mengajar, tetapi lebih pada apa dan bagaimana para siswa belajar. Efektivitas suatu strategi pembelajaran dapat kita capai tidak dalam hal bagaimana strategi tersebut diimplementasikan, tetapi dalam hal apakah strategi dapat mendorong perolehan dan pemahaman personal siswa akan pengetahuan. Hal ini menyiratkan bahwa selama proses-proses perencanaan, para guru seharusnya tidak hanya mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan tradisional mengenai pembelajaran – bagaimana mengatur dan menerapkan aktivitas aktivitas pembelajaran, bagaimana memotivasi siswa, dan bagaimana mengevaluasi pembelajaran- tetapi juga menganalisis semua hal tersebut dalam bentuk-bentuk pembelajaran siswa (Eggen & Kauchak, 2007).

 

b.      Memotivasi Siswa

Peran guru yang penting dalam mendorong pembelajaran siswa adalah meningkatkan keinginan siswa atau motivasi untuk belajar. Untuk melakukan tugas ini, guru perlu memahami siswa dengan baik agar nantinya guru mampu menyediakan pengalaman-pengalaman pembelajaran, yang darinya siswa akan menemukan sesuatu yang menarik, bernilai, dan secara instrinsik memotivasi, menantang, dan berguna bagi mereka (Kellough, 2000). Semakin baik guru memahami minat-minat siswa, dan menilai tingkat-tingkat keterampilan siswa, maka semakin efektif menjangkau dan mengajari mereka. Untuk memperoleh informasi, beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada mereka adalah sebagai berikut (McCarty & Siccone, 2001):

ü  Menurut anda hal-hal apa saja yang harus diketahui oleh orang “dewasa cerdas” ?

ü  Apa minat, hobi, dan cara-cara favorit yang anda gunakan untuk menghabiskan waktu anda?

ü  Skill, bakat, aktivitas, atau sesuatu apa yang membuat anda menikmatinya?

ü  Apa yang sangat tidak anda sukai?

ü  Apa yang paling anda takuti?

Orang tua dan guru mendorong motivasi siswa dengan berbagai cara. Contoh, sebagian besar orang tua memperkuat dan menghadiahi anak anak mereka dengan mengatakan kata-kata seperti “silakan/tolong” dan “terima kasih.” Hal ini dapat diterapkan secara efektif melalui modeling apabila orang tua menggunakan istilah-istilah ini dan secara personal mengilustrasikan daya tarik perilaku-perilaku sosial tersebut pada anak-anak mereka. Motivasi awal pada anak-anak dalam proses ini mungkin melibatkan konsep tentang nilai instrinsik. Ketika menggunakan “silakan/tolong” dan “terima kasih,” anak-anak mendapatkan apa yang mereka inginkan sekaligus berusaha menyenangkan orang tua mereka dengan proses ini pula. Namun, orang tua bukan berarti langsung mengajarkan proses tersebut pada anak-anak mereka; mereka hanya menfasilitas kemampuan anak-anak untuk menggali nilai ekstrinsik dengan menggunakan istilah-istilah ini dalam percakapan sehari-hari mereka. Meski demikian, beberapa pendidik kurang nyaman dengan aplikasi faktor-faktor motivasional yang didasarkan penghargaan - penghargaan instrinsik semacam ini karena menyenangkan orang lain dan menerima reward hanya akan menghasilkan keuntungan pembelajaran jangka pendek. Hanya saja, para pendidik ini mungkin masih menggunakan aplikasi penghargaan - penghargaan ekstrinsik, namun kemudian mereka membantu siswa untuk membuat perubahan dari penghargaan - penghargaan tersebut. Hal ini berarti bahwa siswa melakukan perubahan dari kebutuhan ekstrinsik untuk menyenangkan orang lain dan berpartisipasi agar memperoleh penghargaan menuju kebutuhan instrinsik untuk memperoleh pengetahuan atau memuaskan minat mereka. Sealin menawarkan reward untuk perilaku yang baik dan bagus, para guru seharusnya menekankan nilai atas aktivitas pembelajaran tertentu dan mendesain aktivitas ini dengan cara - cara yang membuat semua siswa yakin bahwa mereka akan sukses (Parsons & Brown, 2002).

Adakalanya, anda mungkin pernah mendengar seorang guru yang berkata, “ada anak -anak yang tidak dapat dimotivasi.” Sebenarnya para siswa tidak pernah tidak termotivasi, hanya saja mereka mungkin tidak tertarik dengan apa yang diajarkan guru. Berhubungan dengan “anak-anak yang tidak termotivasi” ini, tantangan guru adalah membantu siswa memahami relevansi atau aplikasi praktis dari tugas pembelajaran yang diberikan. Selain itu yang tak kalah penting adalah bahwa tugas yang diberikan harus sesuai dengan kapabilitas mereka. Jika tugas tersebut terlalu sulit atau terlalu mudah, mereka mungkin menghindarinya karena mereka bisa saja dibuat pusing atau justru bosan (Pintrich & Schunk, 2002; Stipek, 2002). Siswa sering kali meneruskan pekerjaan mereka pada tugas - tugas yang diberikan jika mereka mengalami perasaan pencapaian dan kepuasan yang benar - benar nyata. Keinginan untuk menghadapi, mengeksplorasi, dan mengatasi tantangan - tantangan, baik itu tantangan intelektual ataupun tantangan fisik, merupakan inti dari motivasi instrinsik dalam kelas yang harus digalakkan oleh guru. Siswa yang termotivasi karena keharusan untuk memahami dan menguasai suatu tugas (orientasi penguasaan/kemahiran) menunjukkan perilaku - perilaku dan pemikiran yang lebih positif daripada siswa yang mengerjakan sesuatu untuk hasil tertentu (orientasi performa) (McMillan, 2004).

Salah satu dari peran terpenting guru adalah meyakinkan pada siswa bahwa kita terlibat bersama mereka di setiap tantangan dan berada “dalam sudut mereka” di setiap saat. Hal ini tentu saja membutuhkan strategi - strategi organisasional dan personal yang fokus pada nilai dan kekuatan motivasi instrinsik dan dampak positipnya pada prestasi akademik siswa. Sulit bagi siswa untuk berhasil jika mereka kekurangan motivasi untuk tetap fokus pada tugas-tugas yang menentang. Para guru perlu mempertimbangkan faktor – faktor berikut ini untuk mendorong siswa fokus pada hasil pembelajaran yang diinginkan (Guillaume, 2004):

ü  Mempertemukan kebutuhan-kebutuhan dan minat-minat.

ü  Memusatkan tingkat-tingkat perhatian.

ü  Menfasilitasi tanggapan atau kesadaran terhadap usaha - usaha yang masuk akal.

ü  Memusatkan kemungkinan akan kesuksesan.

ü  Menyediakan pengetahuan langsung atas hasil yang diperoleh.

Semakin banyak prestasi, atau kesuksesan, yang siswa alami, semakin besar kesempatan siswa mempertinggi harapan - harapan mereka dan semakin bertambah motivasi yang mereka dapatkan untuk mempertahankan dan mengupayakan tugas - tugas lain. Penelitian menunjukkan bahwa motivasi merupakan variabel yang kuat dalam proses pembelajaran, bahkan boleh jadi merupakan variabel yang lebih penting daripada kemampuan (Pintrich & Shunk, 2002).

Meskipun keterlibatan merupakan komponen penting dalam memotivasi atau menarik siswa, strategi - strategi organisasional guru seharusnya juga fokus pada dukungan struktur dan otonomi. Dengan menciptakan struktur-struktur organisasional ruang kelas yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mencukupi kebutuhan kompetensi mereka. Selain strategi-strategi organisasional, interaksi-interaksi guru dengan siswa merupakan factor motivasional yang juga penting. Strategi - strategi pembelajaran personal untuk meningkatkan motivasi memerlukan sikap tulus, positip, semangat, dan suportif dari seorang guru. Selain itu, salah satu dari cara paling ampuh dalam mengkomunikasikan minat kita sebagai guru adalah dengan mendengarkan apa yang siswa katakan dan membiarkan mereka mengetahui bahwa kita menghargai pemikiran - pemikiran dan kontribusi - kontribusi mereka pada kelas. Pada akhirnya, humor dapat menjadi perangkat yang mutlak dilakukan untuk mendorong hubungan positip antara guru dan siswa.

 

Daftar Pustaka

Campbell, L., Campbell, B., & Dickinson, D. (2004). Teaching and Learning Through Multiple Intelligences. Boston: Pearson

Education.

Dewey, J. (1906). Democracy and Education. New York: Macmillan.

Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.

Eggen, P., & Jacobsen, D. (2001). Constructivism and the Architecture of Cognition: Implications for Instruction. Seattle, WA:

American Education Research Association.

Eggen, P, & Kauchak, D. (2007). Educational Psychology: Windows and Classrooms (7th Ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.

Guillaume, A. (2004). K-12 Classroom Teaching: A Primer for New Professionals (2nd Ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson

Education.

Jacobsen, D. (2002). Philosophy in Classroom Teaching: Bridging the Gap (2nd Ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.

Jacobsen, D. (2003). Historical Foundations of Cognitive and Social Constructivism: A Philosophical Perspective. Chicago: Midwest

History of Education Society.

McCarty, H., & Siccone, F. (2001). Motivating Your Students. Boston: Allyn and Bacon.

McMillan, J. (2004). Classroom Assessment: Principles and Practice for Effective Instruction. Boston: Pearson Education.

Ormord, J. (2000). Educational Psychology. Columbus, OH: Merrill/Prentice Hall

Pearsons, R., & Brown, K. (2002). Teacher and reflective Practitioner and Action Researcher. Belmont, CA: Wadsworth.

Piaget, J. (1952). Origins of Intelligence in Children. New York: International Universities Press.

Piaget, J. (1959). Language and Thought of the Child (M. Grabain, Trans). New York: Humanities press.

Pintrich, P., & Schunk, D. (2002). Motivation in Education: Theory, Research, and Applications (2nd Ed.) Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Reed, R., & Johnson, T. (2000). Philosophical Documents in Education. (2nd ed, hlm. 91). New York: Longman.

Stipek, D. (2002). Motivation to Learn: Integrating Theory and Practice (4th ed.). Boston: Allyn Bacon

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit