Ramadhan 1436H: Sebuah Pesan



Jika berkaca pada era 80an, mungkin kita akan dapati masjid yang ramai di malam hari di 10 hari terakhir ramadhan hanya segelintir, jika boleh disebut, Masjid Al Hikmah Jakarta adalah salah satu pelopornya, jumlahnya pun tidak seberapa, apalagi parkirnya, mungkin bisa dihitung jari berapa kendaraan yang ada di sana...

Hari ini, kita lihat di malam2 ganjil masjid itu penuh sesak. sebutlah Masjid UI, kita akan tahu, jam 11 malam - 4 pagi itu parkir kendaraan mobil membludak, halaman parkir yang luasnya 1/2 bangunan masjid sudah tidak mempu lagi menampung mobil2 para mu'takifiin

agak ke tengah kota sedikit, kita akan lihat Masjid BI itu tidak kalah ramai, jam 2 pagi orang2 dengan gaya kelas menengah atas itu berbondong2 ikut Qiyamul lail hingga akhir waktu sahur. Ini tentu bukan perkara sederhana, belum lagi kalau kita lihat fenomena malam ganjil 25 ramadhan kemarin, sekian masjid besar di jakarta penuh diserbu para jama'ahnya. Dari sini, kita lihat i'tikaf tidak lagi hanya untuk kalangan tertentu saja, semua lapisan masyarakat hari ini bisa menikmatinya

muslim ini kalau soal trend kencengnya luar biasa, kemaren2 rame isu hijaber, setidaknya permasalahan hijab untuk foto ijazah bisa jadi kenangan lama, bahkan sekarang ada hijab yang harganya sampe 2jt, itu yang salah da'i apa mad'u nya? Ini joke aja, yang jelas, semangat membawa perubahan setiap waktu itu harus tetap jadi ciri khas kita. Ini pesan pertama, transformasi masyarakat itu dimulai dari usaha, selanjutnya, "Allaha yahdii man yasyaa.."

pesan kedua

Jujur, saya dulu smp di bogor, sma di jakarta, sekian taun pulang pergi pakai kereta (KRL), jadi sudah lumayan khatam terkait dinamika yang terjadi di dalamnya. KRL itu kalo lagi peak time luar biasa, banyak maksiat bisa ditemukan disana, kalau2 rutin ikut gerbong paling depan, perilaku2 penumpang yang rata2 sudah saling kenal itu bisa bikin anda geleng2 kepala, harus banyak dzikir karena tau anda sedang ada di salah satu jurang neraka.

Belom lagi kalo bicara fenomena "NaKer" (naik di atas kereta), saya pernah sekali dapet kereta yang para komunitas NaKer-nya itu lagi asyik tawuran di atas gerbong KRL, mantap gak :D. Kalo anda suka ikutin berita, aturan perkertaapian dari dulu sudah coba dimodifikasi sedemikan rupa, ga berhasil2 juga, dari mulai masalah tiket, jadwal, infrastruktur dll. Dengan sentuhan seorang Jonan, kebuntuan perkeretaapian menemukan pintu keluarnya, tidak hanya itu, bahkan sekarang ada gerbong khusus wanita,...

Ini poin kedua, kalo di Al Qur'an, islam banyak cerita "amr ma'ruf nahi munkar" kita akan belajar aplikasi dalam lebih luasnya dalam konteks bernegara: good governance. Sederhana saja, ibu hamil dan orang tua mendapatkan haknya, sistem administrasi PT KAI hari ini tertib luar biasa, walau arah pengembangannya yang cenderung kapitalis, ya tentu ini PR bersama, bisa ga orang dg ideologi Islam lakukan hal yang sama.

Dari masa nya khilafah rasyidin ke-5 kita belajar bahwa kesejahteraan masyarakat itu diawali dari kebijakan ekonomi yang menyebabkan kelimpahan produksi. Kebijakan pajak bumi, istilah sirahnya kharaj, mampu jadi stimulus fiskal yang wujudkan pendapatan per keluarga rata2 kala itu 40 dinar/bulan (80 juta, itu baru masyarakat menengahnya). Tanah tandus, pasir, ga ada minyak, bagaimana seluruh wilayah kekhilafahan bani umayah bisa kena dampaknya?

Di poin kedua ini saya bicara pentingnya kita menguasai kebijakan strategis, insyaallah lewat ramadhan ini pula akan lahir cendekiawan2 muslim yang master dibidangnya (amiin)

mungkin itu pesan singkat dari Ramadhan 1436 H yang coba saya tangkap. semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon