Yang Paling Merugi





Salah satu hukuman terberat bagi seorang da'i adalah ketika seluruh waktu telah ia sibukkan untuk perkara-perkara akhirat, namun Allah biarkan hatinya penuh dengan angan-angan dunia, sehingga setiap peluhnya dalam timbangan di kemudian hari sirna tak bersisa. Jika kadang hati merasa telah melakukan amal-amal terbaik selama ini, ada baiknya kita tundukkan kembali diri dengan terus mengingat dan mentadabburi ayat 103 dan 104 dari Surat Al Kahfi,

(103) قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا 

Katakanlah (Muhammad): "Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"

(104) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا 

Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. 

[Al-Kahfi: 103-104]
Apalah arti seluruh payah dan lelah jika kita menjadi salah satu diantaranya. Semoga Allah jauhkan kita dari kerugian di kehidupan nanti. Aamiin.
Read More

Belajar dari Dinamika Pra-Peperangan

Jika kita belajar kisah perang dua umat dalam Al Qur'an (Bani Israil dan Islam), kita bisa ambil pelajaran betapa pentingnya sebuah ketenangan, apalagi dalam kondisi perang. Perang dalam islam tidak hanya perihal dimensi ibadah, perang sekaligus mendefinisikan suatu keadaan. Dalam kehidupan sehari-hari, ada hal-hal yang sangat dikecam, bahkan merupakan dosa besar, namun dalam kondisi perang, hal tersebut bisa jadi suatu yang dihalalkan. Oleh karenanya, peran ketenangan dan kemantapan hati seseorang adalah suatu syarat yang tidak boleh dihilangkan, apalagi dalam menghadapi peperangan.

Perang Badar menjadi saksi bagaimana dinamika perang perdana yang luar biasa. Perang ini awalnya dimaksudkan untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan, dikarenakan tercium adanya penguntitan, Abu sufyan meminta kiriman pasukan 1000 orang. Dari sini saja, sangat wajar jika 313 muslimin agak gentar dengan adanya tambahan pasukan yang datang. Tapi tentu keseluruhan pelajaran yang terjadi tidak sesederhana itu.

Sebelum memutuskan untuk mengubah rencana penyergapan menjadi konfrontansi peperangan, Rasulullah saw sangat paham pentingnya konsolidasi pasukan. Oleh karenanya, Nabi kita (saw) langsung mengumpulkan seluruh pasukan untuk ambil keputusan. Kira2 Rasulullah bertanya hal yang sama seperti ini 4 kali banyaknya.

"Wahai sahabat2, tujuan kita datang kesini sebenarnya untuk cegat kafilah dagang abu sufyan, namun akhirnya jejak kita ketahuan. Oleh karenanya, yg akan kita hadapi di depan adalah pasukan perang kiriman, kira2 bagaimana pendapat kalian?"

Tidak pikir panjang, rata2 dari muhajirin langsung bersemangat untuk melanjutkan ke medan peperangan. Yg unik, Nabi Muhammad saw bertanya hal seperti ini sampai 3 kali, hingga akhirnya Sa'ad sadar, bahwa nabi sebenarnya bukan bertanya kepada muhajirin yg memang punya banyak cerita lama bersama quraisy makkah, melainkan kepada kaum anshar yg kontrak mereka dalam membela Nabi hanya berbatas teritori kota Madinah.

Berdirilah Sa'ad ketika Nabi (saw) bertanya pertanyaan yg sama untuk ke-empat kalinya. Kala itu, Sa'ad meyakinkan Nabi bahwa dirinya bersama seluruh anshar yang lain akan terus ikut membela kaum muslimin hingga titik darah penghabisan.

Tentu hasil konsolidasi ini sukses besar, menghilangkan keraguan dan kegalauan di antara pasukan. Semua mantap, semua berangkat.

Sudah merupakan kearifan lokal, siapa yang pertama datang ke medan perang, berhak menentukan posisi mereka dan dimana lawan mereka nantinya. Jadi yang namanya sistem home-away dalam sepak bola itu sudah ada dari zaman perang dahulu kala. Tuan rumah yang menentukan kostum dan di sisi mana gawang mereka saat babak pertama. Jadilah kaum muslimin berada di bukit yang posisinya lebih tinggi, dan kaum kafir diposisikan di lembah bagian bawah.

Pada malam h-1 perang, kaum kafir yang tahu bahwa mereka menang secara jumlah fisik (pasukan, logistik, dan persenjataan), memilih untuk mengadakan pesta seolah kemenangan mereka berada di depan mata. Kaum muslimin malam itu sudah otomatis "nge-per" lihat musuh mereka sudah mulai merayakan kemenangan semu mereka. Hampir seluruh muslim kala itu cemas, gelisah, tidak terkecuali baginda tercinta kita. Hingga kita mengenal betapa syahdunya do'a Nabi Muhammad yang beliau lakukan pada malam yang genting itu.

Semua kita paham, tidak mudah berperang dalam kondisi keringatan, jadilah Allah turunkan rasa kantuk agar kaum muslimin bisa beristirahat dengan nyaman [Al Anfal:11]. Ini pertolongan kesekian yang Allah turunkan, ketenangan setelah kegelisahan.

Tidak selesai disitu, setelah seluruh muslim tidur dengan bantuan rasa kantuk, mereka semua kompak bermimpi bertemu pasangan masing2 dalam mimpinya. Masuklah godaan syaitan yang kembali menimbulkan kecemasan. Kira2, kala itu syaitan menggoda "apakah kalian berpikir akan mendapatkan syahid kala mati dalam keadaan janabah?". Pasukan bingung, tentu air untuk mandi besar tidak ada apalagi saat perang, jadilah mereka gelisah untuk kali kedua.

Tapi lagi-lagi kuasa Allah, berikan ketenangan kepada orang-orang yang dicintai nya.

"... dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)."  [8:11]

Sebelum kisah Badar pun, pertarungan tidak imbang antara thalut dengan jalut juga tidak lewat dengan karunia berupa ketenangan. Bani israil kala itu beda jauh kekuatan dengan militer Jalut, sang penguasa incumbent yang zalim luar biasa. Berkat kecakapan Thalut, bani israil berhasil menggalang kekuatan hingga ada kemungkinan menang. Terkumpulah 60.000 pasukan bani israil untuk menghadapi 70.000 pasukan Jaluth. Apadaya, karena ketidakpatuhan mayoritas pasukan, jadilah mereka yang siap hadapi Jaluth pada akhirnya hanya hitungan sepuluh ribuan.

10.000 vs 70.000, apa pertolongan yang Allah berikan? Lagi2 ketenangan...

"...Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [3: 249]

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir" [3: 250]

Kawan, ketahuilah, dari seluruh dinamika pra-peperangan, betapa banyak pertolongan Allah yang datang itu tidak jauh dari perkara hati yang tenang [8: 10], jiwa yang lapang [20:25], dan kokohnya pendirian [2:250]. Bagaimana dengan kita sekarang?
Read More

Etika Profesi


Bandung bagi saya pribadi bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu, ia juga melibatkan perasaan. Lol. Jelas bukan, maksudnya Bandung memiliki latar belakang sejarah yang cukup mengagumkan. Saya baru tahu belakangan bahwa daerah Ledeng di Bandung Utara itu dahulu digunakan Belanda sebagai sumber instalasi perairan. Adanya pipa-pipa berukuran besar ini yang kemudian membuat penduduk setempat menamakannya dengan daerah Ledeng. Menariknya, instalasi saluran air di daerah Ledeng masih berfungsi, setidaknya ini adalah karya nyata hasil dari APBD Belanda.

Ledeng adalah salah satu bukti nyata hebatnya performa Belanda dalam menjajah bangsa kita, tidak terhitung berapa jumlah jembatan, bangunan, termasuk pembangkit listrik yang sampai hari ini masih berdiri. Jika bukan dengan etika profesi yang tinggi, rasanya hampir mustahil artefak penjajahan itu dapat berdiri selama ratusan tahun lamanya. Memang tidak menarik bicara kecemerlangan sejarah, apalagi bukan karya negeri sendiri. Tapi apa boleh dikata, jembatan Kutai Kertanegara yang baru genap berfungsi 10 tahun saja sudah dapat menunjukkan bagaimana kualitas karya anak bangsa. Hal ini juga diikuti oleh infrastruktur serupa lainnya yang menunjukkan masih rendahnya kualitas rata-rata hasil karya generasi pasca proklamasi. Saya percaya ini bukan perkara teknologi, inilah alasan mengapa penting kita berbicara mengenai etika profesi. Salah seorang senior di PII yang telah berkiprah di banyak negara pernah bercerita, saat beliau membongkar dan meneliti hasil karya yang bertahan ratusan tahun di asia dan eropa, bisa dikatakan isinya itu ilmu semua. Setiap parameter yang ada diperhatikan dan nyaris tidak ada teori pada zaman itu yang lewat untuk diterapkan. Ini hal pertama, kepemilikan ilmu yang dalam, dan siap untuk diaplikasikan.

Di tingkat kedua ini kita perlu bicara pengalaman, jam terbang. Di negara kita, jam terbang itu paling banyak dimiliki oleh supir bus malam, oleh karenanya jangan heran kalau setiap tikungan mereka bisa tancap gas walau jalan depan tidak kelihatan. Ini jokes aja, pada intinya, suatu profesi memang tidak bisa dikuasai hanya dalam waktu semalam, seandainya bisa pun, itu namanya kuis atau ujian. Penting bagi seorang tukang untuk punya pengalaman, dan inilah misteri mengapa hasil karya orang Indonesia belum banyak yang bisa bersaing di kancah luar negeri. Alasannya, latar belakang keilmuan seseorang kadang kurang mendapat penghargaan di negeri sendiri. Setiap individu dinilai sebagai aset palugada "apa mau lu, gua ada", lihat saja pemangku kebijakan di negara kita, berapa presentase yang memang berlatar belakang sesuai dengan tangung jawabnya. Fokus itu penting, sebagaimana sindiran salah satu pengamat BUMN kita, "pertamina itu nanti sibuk bikin hotel lupa cara ngebor minyak". Oleh karena itu, santai aja, setiap keahlian pasti punya relung kebutuhan dan potensi yang berbeda-beda, jangan terlalu tergiur dengan hijaunya rumput tetangga.

Itulah narasi singkat tentang etika profesi, maaf jika agak ngasal dan tidak sesuai ekspektasi. Tulisan ini bukan untuk mencaci kegelapan, tapi percayalah, banyak diantara kita yang sudah memegang lilin, tapi tidak tau kenapa lilin tersebut harus dinyalakan. Intinya, setiap profesi itu berharga dan masing-masing dari kita perlu menekuninya dalam rangka membangun bangsa dan negara. Selamat dan terus semangat untuk bisa menjadi seorang ahli, apapun bidang yang sedang dan akan terus ditekuni.
Read More

Memahami Poligami sebagai Ibadah dalam Bab Nikah


Dalam memahami isu poligami, sering saya temukan kisah atau paradigma di masyarakat hanya berkisar seputar cinta, padahal, setelah memasuki fase pernikahan, kita semua akan sadar bahwa sebenarnya permasalahan cinta itu sederhana saja, karena masalah yang muncul setelah pernikahan akan jauh lebih besar dari sekedar cinta. Begitupun poligami, kompleksitas dari poligami tentu bukan hanya seputar konflik istri pertama dan istri kedua (sebagaimana yang sering diangkat dalam dunia per-film-an), oleh karenanya, hal ini perlu diluruskan, setidaknya dari beberapa sudut pandang.



Pertama, setiap amal ibadah dalam islam itu punya tingkatan-tingkatan. Dalam Islam ada ibadah shalat, shalat ini tingkatan paling tingginya adalah qiyamullail dan istikharah, tingkatan paling minimalnya ada shalat fardhu 5 waktu, selama seseorang shalat 5 waktunya bermasalah, pastikan dia juga tidak akan bisa laksanakan qiyamullail.

Dalam ibadah puasa, tingkatan paling tingginya ialah puasa Daud, tingkatan paling minimalnya puasa selama bulan ramadhan, selama seseorang melaksanakan puasa ramadhan aja tidak sanggup, pasti di luar ramadhan dia juga tidak akan laksanakan puasa daud. Nah, pemahaman akan tingkatan dalam ibadah ini penting, sehingga kita paham bahwa ibadah-ibadah wajib dalam islam, itu adalah taraf minimal yang harus kita lakukan dalam ibadah tersebut (karena kalau kita tinggalkan berdosa).

Tingkat amal ibadah ini, sepemahaman saya akan sesuai dengan tingkat keimanan, jika seseorang tingkat keimanannya hanya sanggup untuk memenuhi kewajiban shalat fardhu, ya belum bisa ia untuk rutin kerjakan shalat malam. Begitu pula kalo tingkat keimanan kita baru sampai puasa di bulan ramadhan saja, susah payah kalo mau puasa di luar bulan ramadhan. Oleh karenanya iman itu naik dan turun, naik karena amal shaleh dan ilmu, turun karena dosa dan maksiat, jangan heran kalau seseorang sibuk dengan ilmu dan amal shalehnya, akan mudah (lebih tepatnya Allah mudahkan) juga ia dalam mengerjakan kebaikan, sampai-sampai ia akan bisa mengerjakan setiap ibadah di tingkatan tertingginya (semoga kita termasuk di dalamnya). Nah, begitu pula ibadah yang akan jadi topik utama: poligami


Buat saya, nikah itu ibadah, dan poligami adalah tingkatan keimanan tertinggi dalam ibadah nikah. makanya, seseorang yang berpoligami dengan tujuan ibadah - dan sukses dengan poligaminya, dikarenakan driving force-nya tentu bukan sekedar kata "cinta", namun lebih dari itu, bahwa poligami adalah manifestasi ibadah dari keimanan tertinggi yang bisa seseorang lakukan dalam bab nikah.

Hal ini penting dipahami, sehingga ketika kita bicara poligami, maka kita sedang bicara tingkatan ibadah tertinggi, yang tentunya tidak bisa seseorang lakukan jika tingkat keimanannya belum mencapai kemampuan untuk melakukan poligami. Sederhananya, jika seseorang dengan satu istri saja masih sering bermasalah, setiap hari kerjanya cekcok, ya berarti memang keimanan dalam menjalankan ibadah nikahnya cukup dengan satu istri saja, jangan coba2 poligami, karena tentu tingkatan selanjutnya hanya untuk orang2 yang 'lulus' membangun keluarga dengan satu istri.


Poin kedua, jika kita bicara poligami, orang pada umunya akan bilang "si istri sakit hati" atau "wah, istri ikhlas dimadu". Pembicaraan yang muncul hanya seputar hubungan suami-istri. Di film2 bahkan dicitrakan konflik yang muncul hanyalah seputar kehidupan rumah tangga yang dipenuhi api cemburu antara istri pertama dengan istri kedua.

Sedikit mengupas, ternyata konsekuensi serta tanggung jawab dari poligami tentu jauh lebih besar dari pada itu, dari sejarah kita belajar justru konflik antar keturunan yang dampaknya jauh lebih besar. Seorang bapak bukan hanya harus kuat masalah finansial dan urusan membagi cinta dengan para istri, tapi juga menjaga kelangsungan keturunan dari istri-istri-nya. Anak-anak sang bapak dari beda ibu, mereka rawan konflik.

Sebagai contoh, kisah Yusuf a.s dan saudara tiri nya, satu ayah namun beda ibu, melahirkan kisah dahsyat yang lengkap diabadikan dalam Al Qur'an. Yusuf a.s dibenci saudara-saudaranya yg mengakibatkan penderitaan batin luar biasa bagi ayahnya, Ya'qub a.s.

Khalifah Harun Al Rasyid, memiliki anak Al Ma'mun dan Al Amin, satu dari ibu bangsa Persia, dan satu lagi dari ibu bangsa Arab. keduanya disumpah di depan ka'bah setelah kerajaan dibagi menjadi dua (Jazirah Arab dan Persia) untuk masing2 anak, namun, tak lama setelah Khalifah meninggal, mereka berperang sampai Al Amin terbunuh oleh pasukan saudara tirinya.

Kenalkah anda dengan Sultan Salahuddin al Ayyubi? Pahlawan al Quds. Setelah Salahuddin meninggal, anaknya Ali al Afdhal berperang melawan saudara tirinya Utsman al Aziz. Ada lagi Sultan Muhammad Al Fatih, pembuka konstantinopel, anaknya bernama Bayazid perperang dengan suadara tirinya, Cem. Keduanya berperang, tidak hanya itu, Cem didukung penuh Eropa untuk melawan saudara tirinya sendiri.

Poin pentingnya adalah, bahwa yang namanya ibadah nikah, wa bil khusus poligami, bukan hanya tentang cinta dan cemburu nya istri, kecemburuan itu normal, sesuatu hal yang wajar, namun poligami bicara jauh lebih besar dari pada itu, ia bicara tanggung jawab yang sangat besar bagi sang suami. Bahwa konflik poligami itu bukan hanya urusan kamar tidur, itu sudah by default seperti itu. Yang harus diperhatikan justru tanggung jawab terkait masa depan keturunannya dari istri yang berbeda, mereka rawan konflik, mulai dari berbagi kasih sayang (yang abstrak), hingga materi yang kongkret seperti menyoal warisan maupun kekuasaan.


Poligami itu hukumnya boleh atau sunnah (menurut pendapat yang lain), namun apa setiap orang bisa mengemban tanggung jawab serta dampaknya? Ibadah haji itu wajib, termasuk dalam rukun islam bahkan, namun dengan kondisi hari ini, apakah setiap muslim dapat melaksanakannya?

Dari beberapa sudut pandang di atas, saya hanya mau menyimpulkan bahwa isu poligami yang banyak diangkat sekarang ini, (mungkin) tujuannya hanya ingin terlihat seru saja, tergantung bagaimana permintaan pasar dan fenomena yang mayoritas ada di masyarakat, jauh dari sarana syiar apalagi pencerdasan terkait hikmah disyariatkannya poligami dalam islam. Sesuai dengan topik yang saya ungkap di bagian awal tulisan, bahwa sebenarnya, kembali isu yang ingin dimunculkan dengan adanya topik poligami ini ujung-ujungnya kembali hanya seputar cinta, sangat disayangkan.

Jika kita benar-benar memahami permasalahan poligami ini, kita akan melihat bahwa ternyata yang memiliki beban moral paling berat tentu saja sang suami, bukan sang istri. Lagi-lagi sisi tanggung jawab seorang laki-laki sekarang ini dibuat bias dengan diangkatnya topik poligami, sama bias nya seperti bicara "cinta" tanpa mengerti arti tanggung jawab sesungguhnya dalam mengemban sebuah rumah tangga. Saya kira, kita sudah harus berdamai dengan topik poligami sebagai seorang suami ataupun istri, di satu sisi, poligami merupakan ibadah yang telah Rasulullah SAW contohkan kepada kita, tapi di sisi lain, ia membutuhkan kapasitas serta tingkatan keimanan yang sangat tinggi, yang mungkin, tidak semua pria mampu melakukannya. Oleh karenanya jangan heran, "adil" menjadi syarat utama bagi orang yang ingin memiliki istri lebih dari satu, adil terhadap hak-hak setiap anggota keluarga, pun adil dalam memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Allahu a'lam.

Selasa, 8 September 2015
Disarikan dari berbagai tulisan dan pendapat beberapa muwajjih.
Read More

Sejatinya, Apa yang Kita Khawatirkan Dalam Hidup?


Adalah satu hal yang wajar, seorang murid khawatir akan hasil ujiannya, namun pernahkah rasa khawatir itu muncul jika ke-barakah-an diangkat dari ilmu yang ada? padahal seharusnya banyak manfaat yang bisa dihasilkan dari apa yang ia pelajari selama ini...

Terkadang, bisa saja seorang karyawan khawatir tidak terpenuhi deadline pekerjaannya, namun masihkah rasa khawatir itu ada ketika ibadah tidak lagi terlaksana diawal waktunya? padahal segala reminder sudah terpasang di setiap fasilitas kerja yang ada...

Sudah semestinya seorang anggota keluarga, khawatir akan kehilangan seseorang yang dikasihi selama ini, namun seberapa sering ia khawatir akan cinta Allah yang tidak lagi ada untuknya? padahal Allah selalu menunggu, kapan hamba tersebut bisa kembali mengadu kepada-Nya...

Merupakan kekhawatiran, saat kita tidak punya makanan, namun, pernah kah kita khawatir saat puasa sunnah tidak lagi dapat bertahan hitungan setengah hari hingga terbenamnya matahari? padahal kesehatan fisik telah Allah berikan selama puluhan kali matahari mengitari bumi...

Lalu, sejatinya, apa yang kita khawatirkan dalam hidup?
Khawatir akan rezeki dunia yang telah Allah tetapkan untuk kita? Atau kah perkara-perkara akhirat, yang tidak ada seorangpun bisa mengubah kecuali kita mengusahakan nya?

kawan, terlewatkannya kesempatan ibadah kita,
bisa jadi, bukan karena ilmu nya yang kurang, tapi kesungguhan dalam menjalankan nya yang hilang
bukan waktu kita yang sempit, tapi kondisi ruhiah kita yang sedang sakit
bukan akal yang tidak mampu memahami, tapi banyaknya maksiat yang telah menutupi kejernihan hati
bukan pula fisik kita yang tidak mampu, tapi itu bukti ketidakmampuan kita dalam mengendalikan hawa nafsu

"akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka..."
[At-Taubah: 46]

Khawatir lah, jika kebaikan-kebaikan akhirat perlahan mulai hilang dari sendi kehidupan,
karena bisa jadi, bukan kapasitas diri dan nikmat Allah yang belum mencukupi,
namun, hubungan dengan Rabb semesta alam, yang luput untuk kita perbaiki.
Read More