Tampilkan posting dengan label kurikulum 2013. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label kurikulum 2013. Tampilkan semua posting

Minggu, 14 September 2014

KOMPETENSI GURU SMK DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

TINJAUAN KOMPETENSI GURU SMK DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Puji Lestari

STKIP GARUT, Jl. Pahlawan 32 Sukagalih Kab. Garut 44151;neng_nji@yahoo.com

Abstrak. Kurikulum 2013 telah mulai diberlakukan pada beberapa sekolah diwilayah Indonesia. SMK sebagai salah satu jenjang tingkat satuan pendidikan tidak luput sebagai sasaran implementasi kurikulum 2013 ini. Pada awal implementasi kurikulum 2013, beberapa hal penting yang terjadi di lapangan terkait pelaksanaannya mulai banyak bermunculan, baik dari segi positif maupun negatif. Kesiapan para guru sebagai implementator menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan instrument berupa kuesioner serta wawancara terbatas dengan pengambilan sampel secara purposive sampling di Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketidaksiapan guru-guru SMK sebagai implementator, kandungan materi matematika, serta program keahlian yang berbeda-beda pada masing-masing rumpun baik Teknik maupun Non Teknik menjadi kendala utama dalam implementasi kurikulum 2013 di SMK.

Kata Kunci. SMK rumpun Teknik, SMK rumpun non Teknik, Kurikulum 2013

clip_image001

1 Pendahuluan

Kurikulum adalah alat atau sarana untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran. Menurut UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam pandangan klasik, kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah.

Terkait dengan kurikulum 2013 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, pemerintah mengembangkan kurikulum tersebut atas dasar 6 prinsip utama, yaitu standar kompetensi lulusan yang diturunkan dari kebutuhan; standar isi yang diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran; semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik; mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai; semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti; keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian (Nuh, 2013). Aplikasi yang taat akan keenam prinsip tersebut diharapkan menjadi hal yang essensial dalam pengembangan kurikulum 2013. Namun ada hal lain yang harus menjadi pertimbangan dalam reformasi pendidikan yang terjadi saat ini, diantaranya yaitu tantangan internal berupa 8 poin standar nasional pendidikan yaitu standar isi; standar (proses) penilaian; standar proses (pembelajaran); standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pembiayaan; dan standar pengelolaan (Sunendar, 2013). Karena apabila tantangan internal tersebut telah teratasi dengan baik maka implementasi kurikulum 2013 juga akan semakin mengarah pada target tujuan.

Dalam implementasi kurikulum 2013 yang telah berjalan saat ini, beberapa kendala mulai banyak ditemui di lapangan, diantaranya dari segi ketidaksiapan guru sebagai implementator di kelas. Ketidaksiapan tersebut mencakup bagaimana kompetensi guru yang ditunjuk menjadi guru sasaran dalam implementasi kurikulum 2013. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Terdapat 4 macam kompetensi utama yang harus dikuasai oleh guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Semua kompetensi utama tersebut jelas sekali sangat berperan dalam keberhasilan seorang guru menjalankan profesinya.

Sebagai bagian dari kompetensi utama, kompetensi profesionalitas guru menjadi sorotan penting terutama bagi guru sasaran sebagai implementator di lapangan. Namun dengan masih adanya para guru sasaran yang memiliki rasa tidak siap terhadap dokumen kurikulum 2013 jelas akan menjadi kendala tercapainya keberhasilan kurikulum 2013. Untuk mengantisipasi hal ini pemerintah telah berusaha memberikan pelatihan-pelatihan yang bersifat kontinu kepada para guru baik guru inti maupun guru sasaran. Namun sampai sejauh ini pelatihan tersebut dirasa masih belum cukup untuk mampu memberikan bekal serta pengetahuan yang mumpuni kepada para guru. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meninjau kesiapan para guru terutama guru SMK dalam hal ini bagaimana kompetensi profesional mereka terhadap kurikulum 2013. Guru SMK menjadi pilihan utama dalam penelitian ini berdasarkan asumsi bahwa penyamaan materi matematika antara SMA maupun SMK dalam kurikulum 2013 ini akan menjadi sebuah tantangan baru bagi SMK. Bagaimanapun juga peran dari guru sebagai pendidik akan sangat mempengaruhi keberhasilan implementasi kurikulum 2013 ini. Selain itu apabila seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan demikian kompetensi profesional guru sebagai pelaksana menjadi sorotan utama dalam makalah ini.

2 Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan instrumen berupa kuesioner serta wawancara terbatas terhadap 7 orang guru SMKN baik pada rumpun teknik maupun non-teknik. Adapun pengambilan sampel sekolah tidak secara acak, namun berdasarkan pertimbangan tertentu (purposive sampling). Pertimbangan tersebut berdasarkan keterbatasan lokasi sekolah untuk daerah kota Bandung, serta keterbatasan SMKN yang mengimplementasikan kurikulum 2013 di kabupaten Garut. Untuk kota Bandung, dari 14 SMKN yang telah mengimplementasikan kurikulum 2013, hanya 3 SMKN yang dipilih sebagai sampel yaitu 2 SMKN rumpun teknik dan 1 SMKN rumpun non teknik. Sedangkan untuk kabupaten Garut, karena SMKN yang yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 hanya 2 sekolah, maka peneliti mengambil 1 sampel SMKN dengan rumpun teknik juga non teknik.

3 Hasil

Untuk mengetahui bagaimana kompetensi profesional guru dalam implementasi kurikulum 2013, maka pernyataan dalam angket memuat tiga aspek, yaitu aspek data guru, aspek kompetensi guru, serta aspek implementasi di kelas. Ketiga aspek ini diharapkan dapat mewakili kompetensi profesionalitas guru. Berikut merupakan paparan secara deskriptif mengenai hasil angket serta wawancara singkat hasil dari penelitian.

3.1. Aspek Data Guru

Aspek data guru terbagi menjadi dua indikator, yaitu pengalaman mengajar di sekolah dan status guru dalam implementasi kurikulum 2013. Dan sebagai permulaan, dalam angket dikemukakan pertanyaan mengenai data guru terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kriteria guru yang dijadikan guru inti ataupun guru sasaran dalam implementasi kurikulum 2013. Untuk indikator yang pertama yaitu pengalaman mengajar di sekolah, berikut paparannya:

1. Guru sasaran ataupun guru inti yaitu guru dengan pengalaman mengajar selama 5-10 tahun yaitu sebanyak 57,14%;

2. Guru dengan pengalaman mengajar >10 tahun sebanyak 28,57%, dan

3. Guru sasaran dengan pengalaman mengajar <5 tahun yaitu 14,29%.

Seluruhnya mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sedangkan untuk indikator status guru dalam implementasi kurikulum 2013, seluruhnya merupakan guru pada kelas yang mengimplementasikan kurikulum 2013, dan sebanyak 28.57% sekaligus merupakan guru inti. Namun untuk guru inti tidak sekaligus menjadi guru pendamping, karena berdasarkan aturan serta informasi, untuk dapat menjadi guru pendamping harus mengikuti seleksi kembali.

3.2. Aspek Kompetensi Guru

Aspek kompetensi guru, yang menjadi indikator adalah memahami dokumen kurikulum 2013. Indikator ini selanjutnya dapat berkembang kembali menjadi beberapa pernyataan. Secara umum guru yang telah memahami dengan baik dokumen kurikulum 2013 hanya sebesar 57,14%. Nilai ini mengindikasikan bahwa dari keseluruhan guru yang menjadi subjek hanya setengahnya yang baru memahami dokumen secara keseluruhan. Informasi mengenai dokumen kurikulum 2013 umumnya diperoleh melalui pelatihan implementasi kurikulum 2013. Namun ada beberapa temuan dan menjadi catatan dalam pelaksanaan pelatihan ini, diantaranya:

  1. Tidak semua guru mengikuti pelatihan, artinya masih ada guru sasaran yang tidak mengikuti pelatihan sama sekali namun tetap diberi wewenang untuk mengajar di kelas yang mengimplementasikan kurikulum 2013. Guru tersebut hanya memperoleh informasi dari guru inti di sekolahnya.
  2. Adanya perbedaan waktu pelatihan bagi guru sasaran, diantaranya ada yang mengikuti pelatihan selama 5 hari penuh, namun ada juga guru yang hanya diikutkan pelatihan beberapa hari dengan waktu pelatihan yang hanya beberapa jam saja, dan hal ini dirasa sangat tidak efektif.
  3. Berdasarkan hasil wawancara terbatas, diketahui bahwa beberapa fasilitator pelatihan tidak berlatar belakang matematika. Walaupun didampingi oleh fasilitator dengan latar belakang matematika, namun hal ini menjadi indikasi akan timbulnya permasalahan baru bagi para guru sasaran karena tutor dalam pelatihan bukan berlatar belakang matematika jelas tidak akan mampu memfasilitasi ataupun menjadi solutor bagi para guru sasaran yang masih kesulitan atau ingin bertanya terkait masalah teknis di kelas nanti.
  4. Materi dalam pelatihan dirasa masih kurang aplikatif terhadap materi yang harus disampaikan di kelas.

Untuk dapat memahami dokumen kurikulum 2013, juga ditinjau mengenai pertanyaan terkait kepemilikan buku guru, dan hasilnya menunjukkan bahwa umumnya guru sudah memiliki walaupun dalam format softcopy (terkecuali guru inti sudah memiliki buku copy-nya). Selanjutnya pertanyaan dikembangkan menjadi bagaimana para guru memahami isi dari buku guru tersebut, dan sebanyak 85,71% guru menjawab masih belum memahami dengan baik, dikarenakan materi terlalu banyak. Artinya para guru SMK baru memahami sebagian kandungan materi dalam buku, dan para guru merasa permasalahan dalam buku terlalu rumit terutama bagi siswa SMK.

Dari beberapa jawaban yang dikemukakan oleh para guru SMK terkait dokumen kurikulum 2013, ada beberapa hal yang menjadi kesulitan para guru dalam memahami dokumen, diantaranya:

  1. Kandungan materi SMK yang menjadi setara dengan SMA menyebabkan para guru SMK terutama rumpun non Teknik perlu waktu untuk memahami kembali materi yang selama ini tidak ada di SMK.
  2. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam buku dirasa sulit dimengerti oleh para guru SMK.
  3. Ada beberapa sub materi, serta latihan soal yang tidak bertingkat sehingga sulit untuk diaplikasikan. Selain itu materi dalam buku dirasa tidak memenuhi empat prinsip yang mendasari penyajian urutan materi dalam kurikulum yaitu dari hal yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks, pelajaran prasyarat, secara keseluruhan, kronologis atau kejadian.

Selanjutnya dikembangkan pertanyaan kepada para guru SMK terkait analisis kesesuaian antara buku guru dan buku ajar siswa, sebanyak 71,42% guru telah melakukannya karena merupakan menganalisa kesesuaian buku merupakan bagian dalam pelatihan implementasi kurikulum 2013 bagi para guru sasaran. Para guru menjelaskan bahwa antara buku guru dan buku siswa sudah sesuai namun masih banyak yang harus diperbaiki, di samping itu juga ada guru yang meminta modul penyetaraan lagi agar disesuaikan dengan kondisi siswa.

Untuk meninjau kompetensi guru terhadap pemahaman dokumen kurikulum 2013, diajukan pertanyaan terkait pendekatan pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum 2013. Pendekatan pembelajaran yang dimaksud adalah pendekatan scientific dengan 5 tahapan. Umumnya para guru SMK sudah mengetahui terkecuali bagi guru yang belum mengikuti pelatihan kurikulum 2013. Selanjutnya untuk model-model pembelajaran, umumnya seluruh guru sasaran sudah mengetahui model-model tersebut seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning dsb. Begitu pula dengan konsep penilaian, umumnya para guru sudah mengetahui mengenai konsep penilaian yang terdapat pada kurikulum 2013. Selanjutnya mengenai RPP serta pemanfaatan media dalam pembelajaran, umumnya para guru juga sudah mengetahui. Artinya paradigma perubahan pola pikir dari kurikulum terdahulu ke Kurikulum 2013, para guru sasaran secara umum sudah mengetahuinya. Namun bagaimana implementasi kurikulum 2013 di kelas selanjutnya akan dibahas.

3.3. Aspek Implementasi Pembelajaran di Kelas

Untuk aspek implementasi pembelajaran di kelas, indikator yang diukur adalah mengimplementasikan isi dokumen kurikulum 2013 ke dalam proses pembelajaran. Hal ini juga berkembang menjadi beberapa pertanyaan terkait pelaksanaannya secara teknis di kelas. Ketika para guru SMK kedua rumpun ditanya bagaimana pelaksanaan tahap-tahap scientific di kelas, jawaban yang didapat menyebutkan bahwa mereka belum dapat mengaplikasikan keseluruhan tahapan scientific tersebut di kelas. Pelaksanaan tahapan-tahapan scientific masih dirasa sulit bagi para guru SMK. Adapun 5 tahapan scientific yang dimaksud adalah Mengamati fakta (matematika), Menanya (perwujudan dari berfikir divergen), Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya), Mencoba serta Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain).

Kesulitan yang dihadapi oleh guru SMK rumpun Teknik dan non Teknik ternyata berbeda. Bagi para guru SMK rumpun Teknik, tahapan yang dianggap sulit adalah mulai dari tahapan 2 hingga tahapan 5. Tahapan dua yaitu bagaimana memancing siswa untuk bertanya dianggap sulit dikarenakan kemampuan siswa SMK yang heterogen, sehingga dalam hal pemahaman konsep dasar serta mengubah paradigma berpikir siswa itu memakan waktu banyak.

Sedangkan untuk guru SMK rumpun non-Teknik mereka merasa kesulitan pelaksanaan tahapan scientific mulai dari tahap 1. Untuk tahapan mengamati fakta, guru merasa kesulitan dikarenakan para guru belum sepenuhnya mengetahui fakta-fakta dalam kehidupan sehari-hari yang terkait langsung dengan konsep-konsep matematika, terutama konsep-konsep matematika yang selama ini tidak pelajari oleh siswa SMK non-Teknik, sehingga dalam tahap ini guru merasa kesulitan. Penyebab lainnya adalah guru kesulitan mengaitkan fakta dilapangan terutama yang terkait dengan masing-masing program keahlian siswa SMK rumpun non-Teknik yang dapat memancing siswa untuk bertanya dan bernalar, karena aplikasi materi matematika untuk SMK rumpun non-Teknik sangat terbatas sekali. Intinya tidak semua materi matematika aplikatif dengan program keahlian siswa. Selain itu sangat sulit untuk menggali keingintauan siswa karena siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran metode ceramah, sehingga pada langkah ke-2 untuk mengajarkan konsep menjadi sangat lambat dan jelas berpengaruh pada waktu pembelajaran yang juga terbatas. Akibatnya target sasaran waktu untuk tiap bab menjadi tidak tepat. Begitu pula pada tahap menyimpulkan dan mengkomunikasikan, siswa SMK masih belum mampu menyimpulkan dengan baik dan ketika proses mengkomunikasikan hasil diskusinya, penjelasan siswa masih belum bisa dimengerti oleh temannya yang lainnya.

Untuk aplikasi model-model pembelajaran yang sudah diketahui, umumnya para guru belum menggunakan model tersebut dengan alasan karakteristik siswa, kondisi kelas serta kajian materi yang sedang dibahas. Kesulitan utama yang mereka hadapi adalah bagaimana membuat permasalahan yang sesuai dengan karakteristik siswa pada masing-masing program keahlian. Selain itu juga input siswa SMK sendiri menjadi penghambat para guru, serta daya serap siswa pada masing-masing program keahlian yang berbeda.

Untuk konsep penilaian, para guru mengapresiasi dengan sangat baik bahkan sudah menerapkannya. Para guru sudah melakukan penilaian secara komprehensif. Sedangkan untuk RPP serta pemanfaatan media pembelajaran, pada umumnya mereka sudah membuat RPP namun sulit sekali mengaplikasikan RPP yang ideal dengan pelaksanaannya di kelas, sehingga seringkali pembelajaran yang dilaksanakan di kelas tidak sesuai dengan RPP, karena semuanya bergantung pada kondisi kelas serta materi yang diajarkan. Berbeda dengan pemanfaatan media pembelajaran, karena masing-masing sekolah memiliki sarana teknologi yang berbeda, maka jelas saja pemanfataannya bergantung pada sarana yang tersedia. Untuk beberapa sekolah, pemanfaatan media berupa powerpoint sudah bisa diaplikasikan dengan baik, sedangkan bagi sekolah yang sarana medianya terbatas masih belum dapat memanfaatkan secara maksimal.

Selain yang termasuk ketiga aspek diatas, dalam angket juga dilontarkan pertanyaan terkait materi pelajaran matematika untuk SMK baik rumpun Teknik dan non-Teknik, ada beberapa temuan hasil dari wawancara:

  1. Perubahan kandungan materi matematika dari KTSP yang disesuaikan dengan rumpun di SMK menjadi 12 bab yang sifatnya pembelajaran terputus, menjadi kesulitan utama dalam implementasi di kelas. Untuk SMK rumpun non-Teknik, para guru kesulitan dalam mengejar bab yang menjadi target, sementara siswa pun sulit memahami dengan cepat materi-materi tersebut. Namun hal serupa juga diungkapkan oleh guru SMK rumpun Teknik. Terutama karena kualitas input siswa yang berbeda di setiap program keahlian menjadi kendala utama dalam penyamarataan pemahaman konsep dasar.
  2. Permasalahan yang ada di buku dirasa rumit bagi siswa SMK serta kurang aplikatif dalam mendukung mata pelajaran produktif mereka. Sehingga para guru SMK merasa kesulitan dalam mengaitkan materi dengan program keahlian siswa.
  3. Untuk masalah konten, para guru juga menyatakan bahwa materi dalam tiap bab tidak jelas batasannya terutama untuk materi yang nantinya diulang kembali pada jenjang berikutnya, hal ini juga menjadi masalah karena selama ini siswa SMK terbiasa belajar tuntas.
  4. Adanya penghilangan materi-materi dasar yang esensial dan sangat aplikatif sekali terhadap program keahlian di SMK seperti materi perbandingan serta aproksimasi, menjadi salah satu bukti bahwa matematika sebagai mata pelajaran adaptif di SMK yang seharusnya merupakan penunjang bagi mata pelajaran produktif sudah tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di SMK.

4 Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan pemaparan secara deskriptif hasil angket serta wawancara terbatas terhadap guru sasaran implementasi kurikulum 2013, ada beberapa hal penting yang penulis simpulkan terkait tinjauan kompetensi guru SMK dalam kurikulum 2013.

  1. Pemilihan guru sasaran sudah tepat berdasarkan pengalaman mengajar serta kualifikasi pendidikan.
  2. Pembekalan pemahaman guru SMK mengenai kurikulum 2013 yang diselenggarakan melalui pelatihan masih dirasa belum cukup untuk memberikan pemahaman secara komprehensif, sehingga dirasa perlu ada pelatihan terus menerus yang berkelanjutan dengan materi pelatihan yang memang fokus terhadap materi pelajaran serta gambaran aplikatifnya terhadap program keahlian di SMK.
  3. Kandungan materi merupakan faktor utama kesulitan guru-guru SMK dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di kelas, karena selain para guru harus mampu mengaitkan materi-materi dalam pelajaran matematika dengan program keahlian yang berbeda-beda, mereka juga dituntut untuk dapat mencapai target materi yang harus terpenuhi. Hal ini merupakan suatu tantangan tersendiri mengingat kemampuan siswa untuk masing-masing program keahlian adalah berbeda.

Sedangkan yang menjadi saran dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk kandungan materi matematika, penyamarataan antara SMA dan SMK merupakan suatu persoalan baru walaupun jika kita menilik dari segi tujuan kurikulum 2013 itu diantaranya kompetensi yang ingin diharapkan adalah kompetensi yang berimbang antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Namun tujuan ini berlaku umum sedangkan jika menilik dari tujuan serta fungsi dari mata pelajaran matematika di SMK yaitu sebagai mata pelajaran adaptif yang berfungsi untuk mendukung mata pelajaran produktif, hal ini menjadi sesuatu yang tidak relevan. Sebaiknya kandungan materi matematika di SMK dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa agar mereka dapat berkembang secara optimal dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Untuk mencapai kompetensi tersebut, materi-materi dalam kurikulum matematika dipilih dengan memperhatikan struktur keilmuan, tingkat kedalaman materi, serta sifat esensial materi dan keterpakaiannya dalam dunia kerja yang akan dimasuki oleh siswa kelak serta dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Adanya batasan yang jelas mengenai materi matematika terutama untuk materi-materi yang diulang kembali pada jenjang berikutnya, karena pembelajaran yang terputus-putus akan sangat membingungkan terutama siswa SMK yang selama ini terbiasa belajar secara tuntas.
  3. Karena tuntutan kompetensi guru dalam kurikulum 2013 ini adalah guru yang mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, maka ada baiknya sarana serta prasarana teknologi sebagai media pembelajaran perlu ditingkatkan.

5 Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Prof. Tatang Herman sebagai dosen yang telah banyak memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini, serta kepada para guru SMKN di Bandung maupun di kabupaten Garut yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

Daftar Pustaka

[1] Hasan, H.S. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Kerjasama SPs UPI & Rosdakarya. (2009)

[2] Lestari, P. Peningkatan Kemampuan Pemahaman serta Koneksi Matematis Siswa SMK melalui Pembelajaran Kontekstual. Tesis UPI: Tidak dipublikasikan. (2009).

[3] Nuh, M. Materi Pelatihan Guru: Implementasi Kurikulum 2013 SMA Matematika. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013).

[4] Sunendar, T. Kerangka dan Satuan Kurikulum 2013. Tersedia: www.lpmpjabar.go.id [24 september 2013].

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 28 Agustus 2014

Penilaian otentik (Authentic assessment) pada pembelajaran tematik.

Penilaian otentik (Authentic assessment) pada pembelajaran tematik. image

Penilaian dalam pembelajaran tematik menggunakan jenis penilaian otentik.

a. Karakteristik penilaian otentik menurut Nurhadi (2004:173) adalah sebagai berikut:

1) Melibatkan pengalaman nyata (involves real-word experience)

2) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.

3) Mencakup penilaian pribadi (self assessment) dan refleksi.

4) Yang diukur ketrampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.

5) Berkesinambungan.

6) Terintegrasi .

7) Dapat digunakan sebagai umpan balik.

8) Kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dangan jelas.

b. Tujuan penilaian otentik

1) Menilai kemampuan individu melalui tugas tertentu.

2) Menentukan kebutuhan pembelajaran.

3) Membantu dan mendorong siswa.

4) Membantu dan mendorong guru untuk membelajarkan lebih baik.

5) Menentukan strategi pembelajaran.

6) Akuntabilitas lembaga.

7) Meningkatkatkan kualitas pendidikan.

c. Prinsip-prinsip penilaian otentik

1) Keeping track, penilaian otentik mampu menelusuri dan melacak kemajuan siswa sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan.

2) Checking up, penilaian otentik mampu mengecek ketercapaian kemampuan siswa dalam proses pembelajaran.

3) Finding out, penilaian harus mampu mencari dan menemukan serta mendeteksi kesalahan-kesalahan yang menyebabkan terjadinya kelemahan dalam proses pembelajaran

4) Summing up, penilaian harus mampu menyimpulkan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan.

d. Jenis penilaian otentik

1. Tes standar prestasi

2. Tes buatan guru

3. Catatan kegiatan

4. Catatan anekdot

5. Skala sikap

6. Catatan tindakan

7. Konsep pekerjaan

8. Tugas individu

9. Tugas kelompok atau kelas

10. Diskusi

11. Wawancara

12. Catatan pengamatan

13. Peta perilaku

14. Portofolio

15. Kuesioner

16. Pengukuran sosiometri.

BACA SELENGKAPNYA »

Rabu, 27 Agustus 2014

Langkah-langkah penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik

Langkah-langkah penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik,

a. Invitasi/apersepsi

Pada tahap ini guru melakukan brainstrorming dan menghasilkan kemungkinan topik untuk penyelidikan. Topik dapat bersifat umum atau khusus, tetapi harus mampu menimbulkan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan. Menurut Aisyah (2007), apersepsi dalam kehidupan dapat dilakukan, yaitu dengan mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas. Dengan demikian, tampak adanya

kesinambungan pengetahuan karena diawali dari hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya dan ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual)

b. Eksplorasi

Pada tahap ini siswa dibawah bimbingan guru mengidentifikasi topik penyelidikan. Pengumpulan data dan informasi selengkap-lengkapnya tentang materi dapat dilakukan dengan bertanya (wawancara), mengamati, membaca, mengidentifikasi, serta menganalisis (menalar) dari sumber-sumber langsung (tokoh, obyek yang diamati) atau sumber tidak langsung misalnya buku, Koran, atau sumber-sumber informasi publik yang lain.  image

c. Mengusulkan penjelasan/solusi

Pada tahap ini seluruh informasi, temuan, sintesa yang telah dikembangkan dalam proses penyelidikan dibahas dengan teman secara berpasangan ataupun dalam kelompok kecil. Saling mengkomunikasikan hasil temuan, menguji hipotesis kemudian melaporkan atau menyajikannya di depan kelas untuk menggambarkan temuan setelah pembahasan. Menurut Aisyah (2007) tahap ini adalah tahap proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan ketrampilan proses, life skill, demonstrasi, eksperimen, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain.

d. Mengambil tindakan

Berdasarkan temuan yang dilaporkan siswa menindaklanjuti dengan menyusun simpulan serta penerapan dari emuan-temuannya. Untuk mengungkap pengetahuan dan penguasaan siswa terhadap materi dapat dilakukan melalui evaluasi. Evaluasi merupakan suatu bentuk pengukuran atau penilaian terhadap suatu hasil yang telah dicapai.

Evaluasi meliputi:

1) Pemahaman konsep dan prinsip sains dalam kehidupan sehari-hari.

2) Penerapan konsep dan ketrampilan sains dalam kehidupan sehari-hari.

3) Penggunaan proses ilmiah dalam pemecahan masalah.

4) Pembuatan keputusan yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. e. Penilaian pembelajaran tematik menggunakan 5 (lima) domain, yaitu:

1) Konsep, meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi.

2) Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep pada saat penyelidikan (eksplorasi)clip_image001[9]

3) Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.

4) Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk memvalidasi penjelasan secara personal.

5) Sikap, mengembangkan sikap positif.

Penilaian otentik sesuai diterapkan dalam penilaian pembelajaran tematik integrative.

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 26 Agustus 2014

Implikasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

Implikasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

a. Bagi guru

Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. image

 

b. Bagi siswa

1) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.

2) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah

 

c. Terhadap sarana prasarana, sumber belajar dan media pembelajaran.

1) Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.

2) Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).

3) Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.

4) Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini demikian pula cara guru membelajarkannya. Namun masih dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen sebagai bahan pengembangan.

BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 25 Agustus 2014

Hakikat Pembelajaran Tematik

Hakikat Pembelajaran tematik Kurikulum 2013

1). Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan yang terjadi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan pengetahuan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

2). Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. image

3.) Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur

kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Dahulu siswa ”diberi” tahu, sekarang siswa ”mencari” tahu. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi pembelajaran bermakna maka guru harus selalu berusaha menciptakan aktivitas siswa untuk selalu mencari tahu.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera dari pada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

BACA SELENGKAPNYA »

Minggu, 24 Agustus 2014

Konsep model pembelajaran tematik

Konsep pembelajaran tematik merupakan konsep pembelajaran terpadu. Konsep model pembelajaran tematik yang dipelajari di Indonesia adalah konsep pembelajaran terpadu yang dikembangkan oleh Fogarty (1990). Model pembelajaran terpadu yang dikembangkan oleh Fogarty berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (Hesti;2008)

Model pembelajaran tematik yang digunakan pada kurikulum di Indonesia ada tiga yakni:

a). Model hubungan/terkait (connected model)

Pada model pembelajaran ini ciri utamanya adalah adanya upaya untuk menghubungkan beberapa materi (bahan kajian) ke dalam satu disiplin ilmu. Sebuah model penyajian yang menghubungkan, materi satu dengan materi yang lain. Menghubungkan tugas/keterampilan yang satu dengan tugas/ketrampilan yang lain. Keunggulan model ini, peserta didik memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok dikembangkan secara terus menerus.

Model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image002

 

2). Model jaring laba-laba (webbed model)

Model pembelajaran ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan

berdasarkan sub-sub tema yang sudah ditentukan. Keuntukan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.

Model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

clip_image005

3).Model terpadu (integrated model)

Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan. Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan yang tumpang tindih dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai dan ketrampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai mata pelajaran. Keuntungan medel pembelajaran ini bagi peserta didik adalah lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran. Model inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di kurikulum 2013.

BACA SELENGKAPNYA »

Landasan utama pembelajaran tematik

National Science Teacher Association (NSTA) mendefinisikan pendekatan ini sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang fenomena alam dan sosial yang meliputi produk dan proses. image

Landasan utama konsep pembelajaran tematik yaitu:

a.    filosofis
Secara filosofis pengembangan kurikulum mengacu pada filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

b.    Yuridis
Landasan yuridis pengembangan kurikulum ada dua yakni:
1)    RPJMN 2010-2014 sektor pendidikan, yaitu tentang perlunya perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
2)    Inpres nomor 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

c.    Psikologis
Landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah mengacu pada teori Gestalt. Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti bentuk yang utuh atau pola kesatuan. Teori ini memandang kejiwaan manusia  terikat  pada  pengamatan  yang  berbentuk  wujud  menyeluruh “whole configuration”

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 23 Agustus 2014

Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial. Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia. image

Dalam pembelajaran tematik terpadu, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Untuk kelas I, II, dan III, keduanya merupakan pemberi makna yang substansial terhadap mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni-Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Di sinilah Kompetensi Dasar dari IPA dan IPS yang diorganisasikan ke mata pelajaran lain memiliki peran penting sebagai pengikat dan pengembang Kompetensi Dasar mata pelajaran lainnya.

Dari sudut pandang psikologis, peserta didik belum mampu berpikir abstrak untuk memahami konten mata pelajaran yang terpisah kecuali kelas IV, V, dan VI sudah mulai mampu berpikir abstrak. Pandangan psikologi perkembangan dan Gestalt memberi dasar yang kuat untuk integrasi Kompetensi Dasar yang diorganisasikan dalam pembelajaran tematik. Dari sudut pandang transdisciplinarity maka pengotakan konten kurikulum secara terpisah ketat tidak memberikan keuntungan bagi kemampuan

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 22 Agustus 2014

Keseimbangan soft skils dan hard skills dalam Kurikulum 2013

Kurikulum tahun 2013 mengakomodir keseimbangan antara soft skils dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan. kompetensi dikembangkan melalui pembelajaran tematik terpadu yang dilaksanakan dengan pendekatan sains. image

Pada kurikulum 2013 pembelajaran tematik terpadu diberlakukan di seluruh kelas di sekolah dasar. Model pembelajaran tematik terpadu perlu dikupas di dalam salah satu materi diklat yang akan diawali dari pengkajian ruang lingkup berbagai mata pelajaran. Kupasan atau kajian ini tentunya masih membutuhkan motivasi, kontribusi dan adaptasi dari pengawas, kepala sekolah, guru dan siswa setempat. Karena suatu model pembelajaran sangat cocok dengan siswa A di kelas A belum tentu cocok apabila disajikan untuk siswa B di tempat B.

Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran yaitu: Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang disajikan secara terpadu dengan tema sebagai pemersatu.

Pembelajaran Tematik meliputi berbagai mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dengan tema sebagai pemersatunya. Untuk menyatukan berbagai kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran, perlu penelaahan atau kajian yang mendalam dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Pembelajaran tematik disajikan secara fleksibel, tidak dipaksakan, melainkan mengalir begitu saja keterpaduannya, saling melengkapi, saling mengkait, dan tidak terpisahkan. Pelaksanaan pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik.

BACA SELENGKAPNYA »

Kamis, 14 Agustus 2014

Penilaian Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual

Penilaian Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual, Komponen yang merupakan ciri khusus dari pembelajaran kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Dengan demikian, penilaian otentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran sedang berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran. image

Dalam pembelajaran kontekstual hal-hal yang biasa digunakan sebagai dasar menilai hasil belajar peserta didik adalah proyek kegiatan/laporan, PR, kuis, karya peserta didik,kinerja, presentasi atau penampilan peserta didik , demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tertulis, karya tulis. Dengan penilaian sebenarnya peserta didik dinilai kemampuannya dengan berbagai

cara, salah satunya adalah tes tertulis sebagai sumber data untuk meihat kemampuan/prestasipeserta didik .

Penilaian Otentik mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1) penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, 2) menggunakan penilaian ulangan harian, ulangan tengah semester ulangan akhir semester, 3) mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, 4) berkesinambungan, 5) terintegrasi dan 6) dapat digunakan sebagai umpan balik. Penilaian Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual.

BACA SELENGKAPNYA »

ANGKET PEMINATAN BELAJAR CALON PESERTA DIDIK BARU SMK KURIKULUM 2013

ANGKET PEMINATAN BELAJAR CALON PESERTA DIDIK BARU SMK KURIKULUM 2013

A. Pengantar

Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang identitas dan minat Anda terhadap pendidikan dan keahlian yang Anda inginkan. Informasi/ data yang anda sampaikan akan dipergunakan sebagai bahan pertimbangan penerimaan dan penempatan pilihan bidang keahlian diri Anda di sekolah ini. Untuk itu, isilah secara hati-hati dan benar sesuai dengan diri Anda, sebab kekeliruan isian ini akan berpengaruh terhadap karir Anda. Semoga cita-cita Anda dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. image

B. Petunjuk pengisian:

1. Berdo’a lah sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini

2. Bacalah secara teliti

3. Jawablah semua pertanyaan secara jujur sesuai dengan diri Anda.

C. Pertanyaan-pertanyaan.

 

1. Identitas diri.

a. Nama lengkap : ……………………………………………….

b. Tempat dan tanggal lahir : ………………………………………………

c. Agama : ………………………………………………

d. Alamat tempat tinggal : ………………………………………………

e. Asal sekolah: ………………………………………………

f. Status sekolah asal : ………………………………………………

g. Bulan/ Tahun masuk sekollah SMP/MTs : ……………………………………

h. Bulan/ Tahun lulus sekollah SMP/MTs : ……………………………………

 

2. Peminatan Belajar

Tulislah satu bidang studi, satu program studi , dan 3 kompetensi keahlian yang sesuai dengan potensi Anda dan kesempatan yang ada sesuai dengan daftar pilihan yang kami selenggarakan. Pilihan Anda tentang bidang, program, dan kompetensi harus satu alur keahlian.

No.

Bidang Studi Keahlian

Program Studi Keahlian

Kompetensi Keahlian

       
       
       

 

3. Minat Matapelajaran :

Tulislah 5 (lima) matapelajaran yang disenangi (urutkan dari yang paling disenangi , dan tidak harus 5 matapelajaran ).

No.

Nama Matapelajaran

Alasan disenangi

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

4. Minat pekerjaan :

Tulislah 5 (lima) jenis pekerjaan yang disenangi ( urutkan dari yang paling disenangi dan tidak harus 5 jenis pekerjaan ).

No.

Nama Pekerjaan

Alasan disenangi

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

5. Minat Jabatan

Tulislah 5 (lima) jenis jabatan yang disenangi ( urutkan dari yang paling disenangi dan tidak harus 5 jenis jabatan).

No.

Nama Pekerjaan

Alasan dipilih

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

6. Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi

Tulislah 5 (lima) nama program studi yang disenangi ( urutkan dari yang paling

disenangi dan tidak harus 5).

No.

Nama Program Studi

Alasan dipilih

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

7. Studi Lanjut ke Pondok Pesantren

Apakah Anda memiliki keinginan untuk belajar di Pondok Pesantren?

a. Ya, sebab, ……………………………………………

b. Tidak, sebab, …………………………………………

 

…………………, …………………

Calon peserta didik baru

 

 

(……………………………)

BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 12 Agustus 2014

Penerapan Contextual Teaching and Learning CTL pada Kurikulum 2013

Penerapan Contextual Teaching and Learning CTL pada Kurikulum 2013, Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran (dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output). Implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran menerapkan pendekatan saintifik dan penilaian otentik untuk mengukur semua kompetensi peserta didik, dengan menggunakan instrumen utama penilaian adalah portofolio yang dibuat oleh peserta didik. Berarti dituntut adanya keseimbangan antara proses dan hasil. Hal ini akan diaplikasikan pada setiap jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA. Tetapi khusus untuk SD, pendekatan dalam sistem pembelajaran yang digunakan berbasis Tematik Terpadu

Pada jenjang SMP/MTs, IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan yang berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Oleh karena itu pembelajaran IPA dan IPS di SMP/MTs diberikan secara terpadu (IPA/IPS Terpadu) Sedangkan untuk jenjang SMA, menggunakan pendekatan mata pelajaran. image

clip_image004Bagi peserta didik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang masih berada pada taraf operasional konkrit yaitu pemahaman pada suatu yang nyata atau tidak abstrak, maka peserta didik perlu pengalaman belajar langsung dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut didasarkan pada perkembangan peserta didik secara holistik, berlangsung secara terpadu (aspek dimensi satu mempengaruhi aspek dimensi yang lain). Maka salah satu alternatif pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan di SMP/Mts adalah pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

clip_image005dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan dalam merancang dan melaksanakan pendidikan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan agar dapat mengikuti perkembangan jaman yang semakin maju dengan menerapkan Pembelajaran Kontekstual dan Terpadu pada mata pelajaran IPA dan IPS di SMP , sedangkan mata pelajaran lain tetap kontekstual dan berbasis disiplin ilmu. Penerapan Contextual Teaching and Learning CTL pada Kurikulum 2013

BACA SELENGKAPNYA »

Penambahan Volume Belajar Kurikulum 2013 Dihitung Per Minggu

Penambahan Volume Belajar Kurikulum 2013 Dihitung Per Minggu, Jakarta, Kemdikbud --- Sejak diterapkan, Kurikulum 2013 memberikan penambahan jam belajar bagi setiap jenjang pendidikan. Kewenangan untuk menjalankan kebijakan ini diberikan kepada pemerintah daerah untuk mengatur penambahan volume belajar bagi peserta didik.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, meskipun kebijakannya diserahkan ke daerah,  pertimbangan penerapan penambahan jumlah jam belajar dihitung setiap minggu. "Penambahan itu berlaku untuk per minggu, bukan per hari,” kata Mendikbud usai membuka acara Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini Berprestasi 2014, di Bandung, Minggu (10/8). Penambahan jam belajar di setiap jenjang adalah sebanyak tiga sampai dengan enam jam untuk jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga Sekolah Menengah Kejuruan. image

Mendikbud mencontohkan, pada kelas satu sampai dengan tiga SD, jumlah jam belajar yang ditambah adalah empat jam pelajaran. Sehingga secara keseluruhan, peserta didik yang awalnya mendapat 26 jam pelajaran setiap minggu maka akan bertambah menjadi 30 jam. Penambahan empat jam belajar ini bukan berarti diberlakukan untuk empat jam dalam satu hari. Tapi, enam jam dibagi ke dalam lima atau enam hari masuk sekolah, dengan lama belajar untuk setiap jam belajar sebanyak 45 menit. “Jadi, empat jam itu untuk empat jam pelajaran, bukan empat jam dikalikan 60 menit,” ucapnya. image

Pada penambahan jam belajar yang lebih panjang, Menteri Nuh menjelaskan kelas empat sampai dengan enam SD akan mendapatkan penambahan jam belajar sebanyak enam jam. Sehingga, peserta didik kelas tersebut akan belajar selama 34 jam seminggu, dari 28 jam pelajaran sebelumnya. “Ketika ditambahkan, penambahan enam jam itu diecer dalam lima hari, dengan lama belajar untuk setiap jam adalah 45 menit,” jelasnya. image

Dengan perhitungan penambahan total jam belajar tadi, Menteri kelahiran Surabaya ini berharap bagi sekolah yang pembelajarannya selama ini berlangsung selama lima hari, dapat tetap melakukan seperti biasa yaitu Senin-Jumat. " Tadinya, kan pulang jam 12 atau jam 1, dengan waktu 45 menit untuk tiap jamnya. Kemudian, nambahnya hanya setengah jam-an," tutupnya. (Gloria Gracia)

Sumber : http://kemdikbud.go.id
BACA SELENGKAPNYA »

ANGKET PEMINATAN BELAJAR CALON PESERTA DIDIK BARU (SMA) KURIKULUM 2013

ANGKET PEMINATAN BELAJAR CALON PESERTA DIDIK BARU (SMA) KURIKULUM 2013image

A. Pengantar.

Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang identitas dan minat Anda terhadap pendidikan dan keahlian yang Anda inginkan. Informasi/ data yang anda sampaikan akan dipergunakan sebagai bahan pertimbangan penerimaan dan penempatan pilihan bidang keahlian diri Anda di sekolah ini. Untuk itu, isilah secara hati-hati dan benar sesuai dengan diri Anda, sebab kekeliruan isian ini akan berpengaruh terhadap karir Anda. Semoga cita-cita Anda dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

B. Petunjuk Pengisian:

1. Berdo’a lah sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini

2. Bacalah secara teliti

3. Jawablah semua pertanyaan secara jujur sesuai dengan diri Anda.

C. Pertanyaan-pertanyaan.

1. Identitas diri

a. Nama lengkap : ………………………………………………………

b. Tempat dan tanggal lahir: …………………………………………………………

c. Agama

d. Alamat tempat tinggal e. Asal sekolah

f. Status sekolah asal

: …………………………………………………………

: …………………………………………………………

: …………………………………………………………

: ……………………………………………………

g. Bulan/ Tahun masuk sekollah SMP/MTs : …………………………………………

h. Bulan/ Tahun lulus sekollah SMP/MTs : …………………………………………

 

2. Peminatan belajar

a. Tulislah pada kolom pilihan dengan angka 1 atau 2 pada kolom pilihan dan tulislah alasan Anda memilih peminatan belajar tersebut.

Angka 1 berarti pilihan pertama, Angka 2 berarti pilihan ke dua

No.

Peminatan

Pilihan

Alasan memilih

1

Matematika dan Sains (Matematika, Biologi, Fisika,Kimia)

   

2

Sosial (Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi, Ekonomi)

   

3

Bahasa ( Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Asing lainya, Antropologi)

   

d. Pilihlah matapelajaran sejumlah 6 JP matapelajaran pendalaman peminatan yang Anda pilih atau matapelajaran yang tertera dalam kelompok peminatan lainnya yang ditawarkan sekolah.

No.

Nama Matapelajaran

JP

Alasan memilih

1.

     

2.

     

3.

     

4.

     

5.

     

3. Minat matapelajaran :

Tulislah 5 (lima) matapelajaran yang disenangi (urutkan dari yang paling disenangi, dan tidak harus 5 matapelajaran )

No.

Nama Matapelajaran

Alasan disenangi

1.

   

66

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

4. Minat pekerjaan :

Tulislah 5 (lima) jenis pekerjaan yang disenangi ( urutkan dari yang paling disenangi dan tidak harus 5 jenis pekerjaan ).

No

Nama pekerjaan

Alasan disenangi

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

5. Minat Jabatan

Tulislah 5 (lima) jenis jabatan yang disenangi ( urutkan dari yang paling disenangi dan tidak harus 5 jenis jabatan).

No.

Nama pekerjaan

Alasan dipilih

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

 

6. Minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi

Tulislah 5 (lima) nama program studi yang disenangi ( urutkan dari yang paling disenangi dan tidak harus 5).

No.

Nama Program Studi

Alasan dipilih

1.

   

2.

   

3.

   

4.

   

5.

   

7. Studi Lanjut di Pondok Pesantren

Apakah Anda memiliki keinginan untuk belajar di Pondok Pesantren?

a. Ya, sebab …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

b. Tidak, sebab …………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

…………………, ………………

 

Calon peserta didik baru

(…..………………………)

BACA SELENGKAPNYA »

Senin, 11 Agustus 2014

Pemetaan Peminatan Peserta didik SMA SMK Kurikulum 2013

Pemetaan Peminatan Peserta didik SMA/SMK Kurikulum 2013, Peminatan peserta didik dapat dimaknai sebagai fasilitasi pengembangan potensi sesuai minat peserta didik sesuai tujuan yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Layanan peminatan belajar peserta didik baik di SMA maupun di SMK senantiasa melalui proses yang meliputi (1) layanan informasi tentang peminatan belajar (2) layanan pemilihan dan penetepan peminatan belajar peserta didik, (3) layanan pendampingan melalui pembelajaran yang mendidik dan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, (4) pengembangan potensi peserta didik melalui praktik lapangan dan magang dan pengembangan potensi peserta didik melalui penyaluran bakat dan minat akademik maupun non akademik. Sebagaimana yang telah diuraikan diatas tentang ruang lingkup atau macam bidang keahlian dan data peminatan peserta didik serta perhatian orang tua, berikut ini disajikan diagram tentang pemetaan peminatan belajar peserta didik sebagai berikut.

Pemetaan Peminatan Peserta Didik SMA dan SMK clip_image002

Keberhasilan belajar dan karir peserta didik dapat dipengaruhi oleh pemilihan dan penetapan peminatan belajar yang tepat, pembinaan minat belajar melalui pembelajaran yang mendidik yang dilakukan oleh guru matapelajaran dan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling, serta penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran yang diciptakan bersama oleh guru matapelajaran bersama guru bimbingan dan konseling. Peserta didik dalam proses pembelajaran akan melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap bidang keahlian atau peminatannya dan kondisi lingkungan yang baru. Hal ini memerlukan pendampingan agar jangan sampai mengalami kesulitan dan dapat berkembang secara cepat dan optimal sesuai dengan potensinya.

Arah peminatan peserta didik dapat dimulai saat peserta didik mengenal objek dan diberi kesempatan atau ada kesempatan untuk berbuat. Semenjak anak usia dini yang dikembangan melalui Pendidikan Anak Usia Dini, dilanjutkan ke pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama, Sekolah Menengah Tingkat Atas dan sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Arah peminatan peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangannya yang dapat berupa peminatan terhadap matapelajaran, studi lanjut, keahlian, pekerjaan, jabatan, dan kehidupan keluarga. Harapan akhir dari pendidikan adalah peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas dan terampil, serta dapat mencapai kemandirian, kebahagiaan, dan kesejahteraan yang berlandaskan akhlak mulia.

BACA SELENGKAPNYA »

Minggu, 10 Agustus 2014

Kriteria Penetapan Peminatan Peserta Didik SMA SMK Kurikulum 2013

Kriteria Penetapan Peminatan Peserta Didik SMA SMK Kurikulum 2013, Kegiatan pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan penerimaan siswa batu, maka terdapat dua hal penting yaitu kriteria yang secara formal diselenggarakan penetapannya adalah nilai ujian nasional ditambah nilai kegiatan/ kejuaraan yang secara formal diselenggarakan secara resmi oleh pemerintah atau organisasi profesi atau organisasi sosial. Di samping itu, sesuai dengan karakteristik progam peminatan belajar tertentu atau kompetensi keahlian tertentu memerlukan persyaratan khusus berupa tes fifik atau kesehatan, maka dipersilakan menyelenggarakan tes fisik/ kesehatan bagi peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk kelancaran pembelajaran bagi peserta didik, sedangkan rambu-rambu kriteria penetapan peminatan belajar peserta didik sebagai berikut ini sedangkan alternative komponen dalam pemilihan dan penetapan peminatan dalam dipilih sebagai berikut.

1. Peminatan belajar bagi peserta didik SMA a. Peminatan Matematika dan Sains

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Matematika dan Sains sebagai pilihan pertama

2. Memiliki Nilai rata-rata Mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Semester 1,2,3,4,5,6 dan UN ≥ 7,00

3. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik Mata Pelajaran yang relevan dengan bidang Matematika dan Sains.

4. Memiliki data perhatian orang tua

5. Memiliki Rekomendasi Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Matematika dan Sains (kalau ada)

b. Peminatan Sosial

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Sosial sebagai pilihan pertama

2. Memiliki Nilai rata-rata Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

3. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang mata Ilmu Pengetahuan Sosial

4. Memiliki data perhatian orang tua

5. Memiliki Rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Sosial (kalau ada)

c. Peminatan Bahasa

1. Diutamakan bagi yang memilih Peminatan Bahasa sebagai pilihan pertama

2. Memiliki Nilai rata-rata Mata Pelajaran Bahasa (Indonesia dan Inggris), pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

3. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang mata pelajaran Bahasa (Indonesia dan Inggris)

4. Memiliki data perhatian orang tua

5. Memiliki Rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs pada peminatan Bahasa (kalau ada)

image

2. Peminatan belajar bagi siswa SMK a. Teknologi dan Rekayasa

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Teknologi dan Rekayasa sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal (menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki Nilai rata-rata matapelajaran Matematika dan Bahasa Inggris pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Teknologi dan Rekayasa

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Teknologi dan Rekayasa (kalau ada)

b.Teknologi Informasi dan Komunikasi

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Teknologi dan Rekayasa sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal (menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki nilai rata-rata Mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Informasi dan Komunikasi.

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP pada peminatan Teknologi dan Rekayasa (kalau ada)

c. Kesehatan

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Kesehatan sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal ( menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki nilai rata-rata matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Kesehatan

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs pada peminatan Kesehatan (kalau ada)

d. Agribisnis dan Agroteknologi

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Agribisnis dan Agroteknologi sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal ( menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki nilai rata-rata Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika dan Bahasa Inggris pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Agribisnis dan Agroteknologi.

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Agribisnis dan Agroteknologi (kalau ada)

e. Perikanan dan Kelautan

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Perikanan dan Kelautan sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal ( menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki Nilai rata-rata Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika dan Bahasa Inggris pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Perikanan dan Kelautan.

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Perikanan dan Kelautan (kalau ada)

f. Bisnis dan Manajemen

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Bisnis dan Manajemen sebagai pilihan pertama

2. Memiliki Nilai rata-rata Mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Sosial pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

3. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Bisnis dan Manajemen.

4. Memiliki data perhatian orang tua

5. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Bisnis dan Manajemen (kalau ada)

g.Pariwisata

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Pariwisata sebagai pilihan pertama

2. Hasil tes fisik dan kesehatan = normal ( menyesuaikan kebutuhan sekolah)

3. Memiliki Nilai rata-rata Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika dan Bahasa Inggris pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

4. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang relevan dengan bidang Pariwisata.

5. Memiliki data perhatian orang tua

6. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Pariwisata (kalau ada)

h.Seni Kerajinan

1. Diutamakan bagi yang memilih peminatan Kelompok Seni Kerajinan sebagai pilihan pertama

2. Memiliki Nilai rata-rata Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, dan Bahasa (Indonesia dan Inggris) pada semester 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan UN ≥ 7,00

3. Diutamakan memiliki Prestasi Non Akademik yang Kerajinanrelevan dengan

4. Memiliki data perhatian orang tua

5. Memiliki rekomendasi dari Guru BK SMP/MTs. pada peminatan Seni Kerajinan (kalau ada)

Nilai rata-rata 7,00 merupakan angka standar untuk menentukan pilihan peminatan peserta didik . Kondisi SDM dan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh satuan pendidikan menjadi penentu penetapan kuota jenis peminatan. Informasi yang jelas disampaikan secara tertulis sebelum proses pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik, antara lain tentang kuota keseluruhan, kuota minimal-maksimal setiap jenis peminatan, komponen pertimbangan penetapan, kriteria penetapan, mekanisme kerja dalam penetapan peminatan, waktu layanan untuk pemilihan dan penetapan peminatan belajar peserta didik. Bila terdapat jumlah peserta didik yang melebihi kuota untuk setiap jenis peminatan, maka dalam penetapannya dilakukan berdasarkan ranking. Kriteria Penetapan Peminatan Peserta Didik SMA SMK Kurikulum 2013.

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 09 Agustus 2014

Pengorganisasian Peminatan Peserta didik Kurikulum 2013

Pengorganisasian Peminatan Peserta didik Kurikulum 2013, Layanan pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik diperlukan berbagai data peserta didik dan orang tua yang mempunyai makna dan saling berkaitan dalam pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik. Data yang berkaitan dengan peminatan peserta didik dapat diperoleh dengan menggunakan teknik non tes dan teknik tes. Teknik non tes dapat diyakini sebagai teknik untuk memperoleh data pokok untuk penetapan peminatan peserta didik. Namun pada sekolah tertentu yang memiliki daya dukung dana dan tenaga serta mengaharapkan data lebih banyak lagi, maka dapat juga menggunakan teknik tes untuk menditeksi potensi peminatan peserta didik. Data yang diperlukan untuk menetapkan peminatan peserta didik meliputi :

a. Data prestasi belajar peserta didik dari sekolah sebelumnya (SMP/MTs) kelas VII, VIII, dan IX dicermati perkembangan dan jumlah nilai setiap matapelajaran yang terkait dengan peminatan belajar.

b. Data prestasi/nilai belajar UN dicermati relevansinya dengan peminatan dan nilai UN digabungkan dengan nilai raport, sebagai pertimbangan menyusun ranking.

c. Data prestasi non akademik yang diperoleh dicermati relevansinya dengan peminatan dan dapat diberi skore tingkat sekolah =1, kecamatan = 2, kabupaten = 3, provinsi = 4, nasional = 5, dan internasional =7. Pemberian skore ini diperlukan sebagai bahan menyusun ranking.

d. Data tentang minat studi lanjut, minat pekerjaan, minat jabatan, minat matapelajaran, cita-cita kehidupan di masa depannya dan bidang peminatan yang dipilih, harus dicermati apakah terdapat relevansinya. Bila terdapat kesesuaian, maka mendukung untuk penetapan peminatan belajar peserta didik. Namun bila tidak relevan dengan peminatannya, maka dalam wawancara lebih ditekankan klarifikasi dan diberikan informasi yang memberikan wawasan lebih luas.

e. Data perhatian, fasilitasi, harapan, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi orang tua diharapkan memberikan dukungan terhadap peminatan belajar peserta didik, terutama data tentang keinginan bidang keahlian diharapkan terdapat kesesuaian antara anak dan orang tua. Bila hasil pencermatan data orang tua peserta didik tidak memberikan dukungan terhadap peminatan belajar peserta didik, maka perlu dipahami lebih lanjut tentang perhatian orang tua melalui wawancara.. Dalam penetapan peminatan belajar perlu lebih mendasarkan pada data prestasi dan minat anak yang telah diperoleh dan ditambah hasil wawancara dan observasi.

f. Data diteksi potensi peserta didik di SMP/MTs atau rekomendasi Guru Bimbingan dan Konseling SMP/ MTs tentang peminatan belajar peserta didik.

g. Data diteksi potensi peserta didik melalui tes peminatan yang dilaksanakan di SMA/ SMK, akan diperoleh rekomendasi kecenderungan jenis peminatan belajar peserta didik.

Secara skematis dapat dilihat diagram pengorganisaian peminatan belajar peserta didik sebagai berikut.

clip_image002

 

Memperhatikan data yang dapat diperoleh dalam proses peminatan belajar peserta didik dan diagram tersebut, maka dapat disajikan dan dipilih salah satu alternative penetapan peminatan belajar peserta didik yang sesuai dengan kondisi dan daya dukung masing-masing satuan pendidikan sebagai berikut.

a. Alternative pertama adalah bahwa guru bimbingan dan konseling dalam proses pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik berdasarkan 5 komponen sebagai berikut.

1) Prestasi belajar peserta didik kelas VII, VIII, IX yang diperoleh di SMP/MTs. 2) Prestasi UN yang diperoleh di SMP/MTs

3) Prestasi non akademik yang diperoleh dari SD/MI s/d SMP/MTs.

4) Minat belajar peserta didik yang diperoleh dari angket saat pendaftaran/ pendataan

5) Perhatian dan harapan orang tua akan peminatan belajar putra-putrinya.

b. Alternative kedua adalah bahwa guru bimbingan dan konseling dalam proses pemilihan dan menetapkan peminatan peserta didik berdasarkan berdasarkan enam komponen sebagai berikut :

1) Prestasi belajar peserta didik kelas VII, VIII, IX yang diperoleh di SMP/MTs. 2) Prestasi UN yang diperoleh di SMP/MTs

3) Prestasi non akademik yang diperoleh dari SD/MI s/d SMP/MTs.

4) Minat belajar peserta didik yang diperoleh dari angket saat pendaftaran/ pendataan.

5) Data diteksi potensi/ rekomendasi guru bimbingan dan konseling SMP/MTs. 6) Perhatian dan harapan orang tua akan peminatan belajar putra-putrinya.

c. Alternative ketiga adalah bahwa guru bimbingan dan konseling dalam proses pemilihan dan menetapkan peminatan peserta didik berdasarkan enam komponen sebagai berikut.

1) Prestasi belajar peserta didik kelas VII, VIII, IX yang diperoleh di SMP/MTs. 2) Prestasi UN yang diperoleh di SMP/MTs

3) Prestasi non akademik yang diperoleh dari SD/MI s/d SMP/MTs.

4) Minat belajar peserta didik yang diperoleh dari angket saat pendaftaran/ pendataan.

5) Data diteksi potensi peserta didik menggunakan tes peminatan yang dilaksanakan di SMA/SMK.

6) Perhatian dan harapan orang tua akan peminatan belajar putra-putrinya.

d. Alternative keempat adalah bahwa guru bimbingan dan konseling dalam proses pemilihan dan menetapkan peminatan peserta didik berdasarkan tujuh komponen sebagai berikut

1) Prestasi belajar peserta didik kelas VII, VIII, IX yang diperoleh di SMP/MTs. 2) Prestasi UN yang diperoleh di SMP/MTs

3) Prestasi non akademik yang diperoleh dari SD/MI s/d SMP/MTs.

4) Minat belajar peserta didik yang diperoleh dari angket saat pendaftaran/ pendataan.

5) Data diteksi potensi peserta didik menggunakan tes peminatan yang dilaksanakan di SMP/MTs.

6) Data diteksi potensi peserta didik menggunakan tes peminatan yang dilaksanakan di SMA/SMK.

7) Perhatian dan harapan orang tua akan peminatan belajar putra-putrinya. Proses pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik terdapat berbagai personal yang terlibat yang meliputi peserta didik sebagai subjek belajar; orang tua memberikan perhatian dan dukungan; guru bimbingan dan konseling menelusuri dan mengorganisasikan serta menetapkan peminatan belajar peserta didik dan menciptakan kondisi yang kondusif untuk pembelajaran yang mendidik, guru mata pelajaran melakanakan pembelajaran; dan kepala sekolah memberikan kebijakan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya dan kuota kelompok peminatan belajar peserta didik yang diselenggarakan.

BACA SELENGKAPNYA »

Jumat, 08 Agustus 2014

Komponen Peminatan Peserta didik Kurikulum 2013

Komponen Peminatan Peserta didik Kurikulum 2013, Minat merupakan gejala psikologis, berkaitan dengan pikiran dan perasaan terhadap suatu objek. Perhatian, pemahaman, dan perasaan yang mendalam terhadap suatu objek dapat menimbulkan minat. Objek yang menarik bagi pengamat cenderung akan menimbulkan minat bagi pengamat. Minat merupakan perasaan suka, rasa tertarik, kecenderungan dan gairah atau keinginan yang tinggi seseorang terhadap suatu objek. Dalam kaitannya dengan peminatan belajar peserta didik dalam satuan pendidikan SMA, objek yang dimaksudkan adalah bidang peminatan belajar yang meliputi peminatan matematika dan sains, social dan bahasa. Sedangkan peminatan belajar dalam satuan pendidikan SMK, objek yang dimaksudkan adalah bidang studi keahlian, program studi keahlian, dan kompetensi keahlian. Peserta didik dihadapkan kepada objek tersebut, dan diberi kesempatan untuk memilih sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kesempatan yang ada. Pemilihan peminatan belajar yang tepat dan dapat mempunyai arti penting bagi prospek kehidupan peserta didik masa depan adalah tidak mudah, untuk itu memerlukan layanan bantuan yang tepat, yang dilakukan oleh tenaga profesional. Dalam konteks ini, profesi bimbingan dan konseling diperlukan untuk memfasilitasi secara tepat dalam pemilihan peminatan belajar peserta didik. Minat dipengaruhi oleh factor dalam diri peserta didik dan juga dapat dari luar diri peserta didik. image

Komponen pokok yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pemilihan dan penetapan minat belajar secara tepat bagi peserta didik SMA dan SMK dapat meliputi prestasi belajar, prestasi non akademik, pernyataan minat peserta didik, perhatian orang tua dan diteksi potensi peserta didik. Berikut ini disajikan uraian peran masing-masing komponen dalam penetapan peminatan belajar peserta didik.

a. Prestasi belajar yang telah dicapai selama proses pembelajaran merupakan cerminan kecerdasan dan potensi akademik yang dimiliki. Prestasi belajar

peserta didik pada kelas VII, VIII, dan IX merupakan profil kemampuan akademik peserta didik, yang dapat dijadikan dasar pertimbangan pokok dalam peminatan belajar. Profil kondisi prestasi belajar yang dicapai dapat sebagai prediksi keberhasilan belajar selanjutnya. Kesungguhan dan keajegan belajar dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar pada program pendidikan selanjutnya. Prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan erat sekali dengan kecerdasannya dan prestasi belajar setiap matapelajaran mempunyai makna yang berkaitan bakat minat peserta didik. Prestasi belajar merupakan cerminan potensi peserta didik, sehingga dapat dijadikan komponen pokok dalam pertimbangan pemilihan dan penetapan peminatan belajar peserta didik. Data prestasi belajar diperoleh melalui teknik dokumentasi di sekolah dan diharapkan semua calon peserta didik menyerahkan fotocopy raport SMP/MTs yang disyahkan oleh kepala sekolah yang bersangkutan.

b. Prestasi non akademik merupakan cerminan bakat tertentu pada diri peserta didik. Prestasi non akademik yang telah dicapai, seperti kejuaraan dalam lomba melukis, menyanyi, menari, pidato, bulu tangkis, tenis meja, dll., merupakan indikasi peserta didik memiliki kemampuan khusus/ bakat tertentu. Terdapat relevansi antara kejuaraan lomba tersebut dengan kemudahan melakukan aktivitas dan keberhasilan belajar matapelajaran tertentu yang sesuai dengan kemampuan khusus yang dimiliki. Data ini dapat diperoleh melalui isian (angkt) yang disiapkan dan teknik dokumentasi berupa fotocopy piagam penghargaan yang dimiliki calon peserta didik sejak Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

c. Prestasi/ nilai ujian nasional (UN) yang dicapai merupakan cerminan kemampuan akademik mata pelajaran tertentu berstandar nasional. Prestasi belajar dapat sebagai pertimbangan untuk pemilihan dan penetapan peminatan belajar lebih lanjut yang relevan. Diasumsikan bahwa peserta didik tidak mengalami kecelakaan fisik atau psikis dan kebiasaan belajar tetap dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan, maka prestasi/nilai UN tepat sebagai pertimbangan penetapan peminatan belajar peserta didik sesuai matapelajaran UN. Prestasi/nilai UN diperoleh melalui teknik dokumentasi berupa fotocopy daftar prestasi UN dan daftar isian (angket) yang disiapkan.

d. Minat belajar tinggi yang ditunjukkan dengan perasaan senang yang mendalam terhadap peminatan belajar tertentu (bidang studi keahlian, program studi keahlian, kompetensi keahlian, mata pelajaran) berkontribusi positif terhadap proses dan hasil belajar. Peserta didik merasa senang, antusias, tidak merasa cepat lelah, sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran di sekolah maupun aktivitas belajar di rumah disebabkan memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang dipelajarinya. Pernyataan minat dapat secara tertulis, yang dapat mencerminkan apa yang diinginkan dan merupakan indikasi akan kesungguhan dalam belajar sebab aktivitas belajar berkaitan erat dengan minatnya.

e. Cita-cita peserta didik untuk studi lanjut, pekerjaan, dan jabatan sangat erat dengan potensi yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh hasil pengamatan terhadap figur dan keberhasilan seseorang/ sekelompok dalam kehidupannya. Di samping itu, atas dasar informasi yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung juga berpengaruh terhadap munculnya cita-cita peserta didik. Informasi yang jelas dan prospesktif dari pendidik di sekolah juga dapat merangsang munculnya cita-cita. Keinginan yang kuat untuk mencapai bidang studi lanjut, jabatan, dan pekerjaannya sangat berpengaruh positif dalam melakukan aktivitas belajar. Sinkronisasi antara cita-cita dengan potensi peserta didik dan prestasi yang dicapai dengan kesempatan belajar untuk mencapai cita-cita, dapat menumbuhkan semangat belajar yang dipilihnya. Instrument untuk mengungkap tentang minat dan cita-cita peserta didik sebagaimana lampiran1 dan 2

f. Perhatian orang tua, fasilitasi dan latar belakang keluarga berpengaruh positif terhadap kesungguhan-ketekunan-kedisiplinan dalam belajar. Restu orang tua merupakan kekuatan spiritual yang dapat memberikan kemudahan yang dirasakan oleh peserta didik dalam belajar dan mencapai keberhasilan belajar. Anak mempunyai hubungan emosional dengan orang tua, juga berkaitan dengan semangat belajar. Intensitas hubungan orang tua dengan anak dapat menumbuhkan motivasi belajar yang berdampak kualitas proses dan hasil belajar anak. Namun disadari bahwa yang belajar adalah anak, dan orang tua sebatas mengharapkan hasil belajar anak dan memfasilitasi belajar. Untuk itu, perhatian, fasilitasi, dan harapan orang tua terhadap peminatan belajar anak penting dipertimbangkan, namun bukan sebagai penentu peminatan peserta didik. Bila terdapat perbedaan antara peminatan putranya dengan orang tua, maka yang perlu dikaji lebih mendalam adalah prospek peminatan dan kesiapan belajar anak. Orang tua diharapkan lebih pada memberikan dukungan atas pilihan peminatan belajar putranya. Namun demikian, guru Bimbingan dan Konseling hendaknya cermat dalam dialog dengan orangtua tentang peminatan belajar putra-putrinya, apalagi orang yang bersangkutan sangat berharap atas

peminatan putra-putrinya. Instrumen untuk mengungkap tentang harapan dan latar belakang orang tua disiapkan instrument sebagaimana lampiran 4.

g. Diteksi potensi menggunakan instrument tes psikologis atau tes peminatan bagi calon peserta didik tentang bakat minat dapat dilakukan oleh tim khusus yang memiliki kemampuan dan kewenangan. Hasil diteksi potensi dapat diperoleh kecenderungan peminatan belajar peserta didik. Rekomendasi peminatan berdasarkan diteksi menggunakan instrument tes psikologis dapat dipergunakan sebagai pertimbangan bila terjadi kebimbangan pemberian arah peminatan bagi peserta didik. Pelaksanaan diktesi menggunakan instrumen tes psikologis yang standar dilakukan oleh tenaga ahlinya atau tes peminatan yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling. Hasil diteksi potensi peserta didik dapat menggunakan hasil diteksi pada saat di SMP/MTs, namun dapat juga menggunakan hasil tes peminatan yang diselenggarakan di SMA/SMK, dan atau menggunakan data dari SMP/MTs dengan data hasil tes peminatan yang diselenggarakan di SMA/SMK.

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit