Wednesday, November 1, 2017

Digital Disruption - Tulisan Pakar Branding Indonesia


Tanpa kita sadari Digital Disruption sudah terjadi sejak 20 tahun yang lalu dan akan menggulung semua industri. Digital Disruption yang terjadi di depan mata di Indonesia adalah Go-Jek mendisrupt Blue Bird.

Blue Bird adalah perusahaan transportasi raksasa di Indonesia. Sedangkan Go-Jek bukan perusahaan transportasi. Go-Jek adalah perusahaan anabler alias solusi pemasaran lewat digital. Kok bisa?

Contoh Digital Disruption lain adalah bagaimana PT Pos Indonesia terdisrupt oleh e-mail, dan berbagai messenger, gara-gara terlambat mengantisipasi perubahan PERILAKU konsumen. Nah, PERILAKU adalah kata kuncinya.

Penting buat kamu: Optimisme, Kunci melewati Era Disruption ala Silicon Valley

Bagaimana perusahaan Anda yang besar saat ini, bisa beradaptasi dan bertahan sehingga nama besar Anda menjadi legenda seperti Kodak atau Nokia?

Pada tahun 1995, perusahaan musik, photography dan video rental sudah menjadi korban Digital Disruption. Sang raksasa musik dan video rental sekelas Disctara pun tumbang.

Pada tahun 2000, bisnis Print Media, bisnis televisi, bisnis Travel Agent dan Human Resource pun kehilangan konsumennya karena terlibas Digital Disruption.

Pada tahun 2015, industri Finance, Healthcare, Automotive, Retail, Education dan telko tidak luput dari Digital Disruption. Perbankan, industri taksi, took retail, sekolah dan telekomunikasi harus berbenah kalau masih mau eksis.

Nah, pada tahun 2020 semua perusahaan yang selamat sampai saat ini pun bakal punah karena tak luput dari Digital Disruption. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Masih juga belum melakukan digital marketing? Masih mau mempertahankan fenomena marketing masa lalu? Maka bersiaplah untuk punah.

Karena pilihannya adalah: Berubah atau punah.
Penulis: Pak Bi (Subiakto Priosoedarsono, Pakar Branding)

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search