Mengenal Filosofi Wayang Kulit

Mengenal Filosofi Wayang Kulit

Kesenian wayang kulit sebagai kekayaan kesenian tradisional Indonesia memang wajib kita jaga kelestariannya agar tidak punah dimakan jaman. Sebenarnya sangat miris dan menyedihkan ketika anak muda menganggap bahwa menonton wayang kulit adalah hal yang kuno. Wayang kulit hanya layak jadi tontonan orang tua saja adalah sebuah pandangan yang salah besar. Sebab dari kisah pewayangan kita bisa belajar banyak hal mengenai kehidupan melalui cerita tokoh-tokohnya.


Dalam kisah pewayangan Mahabarata kita mengenal kebaikan dan kejahatan dari Pandawa dan Kurawa. Bagaimana karakter para Pandawa tersebut dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari? inilah penjelasannya.

Filosofi dari Tokoh Pandawa


Puntadewa

Pandawa yang tertua ini digambarkan sebagai raja tanpa mahkota dan memiliki darah putih. Artinya tokoh tertua dari Pandawa tersebut sudah mencapai tingkatan paling atas dari manusia atau insan kamil. Dia memiliki tugas untuk menjaga dan memelihara dunia atau alam semesta karena sudah menjadi manusia yang “sempurna.

Bima (Werkudara)

Diceritakan sebagai tokoh paling kuat dengan badan yang paling besar diantara saudaranya yang lain. Nama Werkudara bisa diartikan sebagai menahan (werku) nafas atau udara (dara). Yang dimaksud dengan menahan nafas adalah kemampuan untuk mengendalikan hidup. Hal tersebut dikarenakan nafas merupakan inti dari kehidupan manusia. Berbagai proses kehidupan dilalui Bima untuk bisa mencapai tahapan mampu mengendalikan nafas.

Baca juga: Nilai Adiluhung dari Seni Wayang Kulit

Arjuna

Arjuna memiliki wajah yang paling menawan dalam Pandawa. Sedangkan nama Arjuna memiliki arti sebagai tempat yang tenang. Sehingga tokoh Arjuna mewakili kondisi hati dan jiwa yang dipenuhi ketenangan, hening, serta penuh kebijaksanaan. Jika sudah mencapai tingkatan seperti ini artinya manusia sudah mampu mempertimbangkan semua tindakannya secara bijaksana.

Nakula

Nama nakula memiliki makna aku (kula dalam bahasa Jawa) yang memiliki tingkatan paling santun atau krama inggil. Ini merupakan penggambaran individu yang sudah mampu menjadi lebih rendah hati dan memahami bahwa selalu akan ada langit di atas langit.

Sadewa

Nama Sadewa menggambarkan anggapan diri yang merasa tinggi seperti sifat dewa. Merupakan tingkatan manusia yang paling rendah karena masih merasa paling bisa, paling mampu, merasa sombong dan sifat angkuh lainnya.

Post a Comment

0 Comments