Featured Posts

  • Arti Pendidikan

    Pendidikan bukan persiapan untuk hidup, Pendidikan adalah hidup itu sendiri

    (John Dewey)

    Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan generasi muda. Untuk mendidik diri mereka sendiri seumur hidup mereka.

    (Robert Maynard Hutchins)

  • Guru

    Salah satu tanda seorang pendidik yang hebat Adalah kemampuan memimpin murid-murid Menjelajahi tempat-tempat baru Yang bahkan belum pernah didatangi sang pendidik

    (Thomas Groome)

  • Kreatif

    Adalah suatu kemampuan luar biasa dalam diri guru bila ia mampu menggugah rasa cinta anak didiknya akan daya cipta kreatif dan ilmu pengetahuan

    (Albert Einstein)

  • Bakat

    Bertindaklah seolah apa yang kau lakukan membuat perbedaan. Karena kenyataannya memang begitu Ajari murid-murid menggunakan bakat apapun yang mereka miliki.

    (Stacia Tusher)

  • Yang Terbaik

    Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari mereka apa yang perlu diperhitungkan

    (Bob Talbert)

Rabu, 23 April 2014

TUTORIAL CMS FORMULASI GRATIS

CMS Formulasi telah didownload lebh dari 7.000 pengguna diseluruh dunia, berikut ini adalah tutorial cara Instalasi CMS Formulasi dan cara Update CMS Formulasi.

Bagi Anda yang belum mengetahui apa itu CMS Formulasi ada baiknya menyaksikan Video ini




Berikut adalah video Tutorial Install CMS Formulasi




Berikut ini adalah cara Update CMS Fomulasi dari versi sebelumnya


Bagi anda yang mau mendownload CMS Formulasi, dapat mendownload secara gratis.
Silahkan download di link berikut DOWNLOAD CMS FORMULASI, klik disini
Bila ada kesulitan anda dapat bergabung dengan group Formulasi, klik disini

Semoga bermanfaat.

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 19 April 2014

Update CMS Formulasi versi 2.1.0

CMS Formulasi telah Update versi terbaru, Terimakasih untuk pengguna setia CMS Formulasi yaitu CMS asli Indonesia, syukur Alhamdulillah CMS Formulasi telah update Versi 2.1.0. CMS Formulasi telah di download lebih dari 27 ribu pengguna di indonesia maupun luar negeri.

dan kami berharap terus meningkat sehingga makin banyak sekolah/lembaga/guru memiliki website/blog, karena di versi terbaru ini bisa digunakan tidak saja untuk website sekolah tetapi untuk website Pondok Pesantren, Perguruan tinggi, Instansi/kantor/lembaga, perusahaan, komunitas, dan blog pribadi.



Pada versi terbaru ini kami membuat beberapa perbaikan kode.


LOG PERUBAHAN
======================================================
Versi 2.1.0 (15 April 2014)
Perubahan
- Update sistem keamanan data.
- Update Captcha Pesan untuk menghindari spam,
- Perbaikan fitur chat.
- Perbaikan Data Guru.
- Perbaikan Peta.
- Perbaikan komentar.

Penambahan
- Multi Site, CMS Formulasi kini bisa digunakan untuk semua jenis website, tidak hanya website sekolah, antaralain :
  WEBSITE SEKOLAH, WEBSITE PONDOK PESANTREN, WEBSITE PERGURUAN TINGGI, INSTANSI/KANTOR/LEMBAGA PERUSAHAAN, KOMUNITAS, BLOG PRIBADI.
- Halaman Data Profile
- Terintegrasi Gmap Api V3 pada menu Peta
- Token pada adminpanel
- Pembatasan waktu login untuk admin
- Guru dapat mengampu lebih dari 1 mata pelajaran
- Tema Responsive (kompatibel dengan layar Laptop, Tablet, dan Smartphone)

silahkan download versi terbaru CMS Formulasi Gratis klik disini

BACA SELENGKAPNYA »

Sabtu, 02 November 2013

PTK-PELAKSANAAN MODEL QUCHING BERKELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI STATIKA PADA PESERTA DIDIK


PELAKSANAAN MODEL QUCHING BERKELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI STATIKA PADA
 PESERTA DIDIK  KELAS X TEKNIK KONSTRUKSI KAYU 1
SMK NEGERI 2 SRAGEN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN  2012 / 2013

Irmina Titik Purwanti*)
Subyantoro **)
Abstrak
Masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah rendahnya prestasi rata-rata peserta didik untuk bidang study Statika pada kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.Rendahnya keaktifan peserta didik dan sikap kemandirian pada peserta didik  kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pencapaian standart kompetensi Menerapkan ilmu Statika dan tegangan, pada peserta didik kelas X Teknik kontruksi Kayu 1 SMK Negeri 2 Sragen tahun ajaran 2012/2013 nilai KKM 75 dengan jumlah prosentase ketuntasan kopetensi 91,2%, dari 34 pserta didik. Pencapaian keaktifan belajar peserta didik 87,9%, Pencapaian sikap kemandirian pserta didik 93,3%. Berdasarkan hasil penelitian , maka peneliti merekomendasikan bahwa model Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik , sikap kemandirian  peserta didik dan meningkatkan kompetensi belajar Statika  kelas X Teknik kontruksi kayu 1  SMK Negeri 2 Sragen.
 Kata kunci : Model quantum teaching dengan study group , prestasi belajar Statika.
abstract
The issues raised in this study is the low average achievement of students for field study in class X Statics TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen. The low active learners and independent attitude in class X students of SMK Negeri 2 TKK 1 Sragen.
The results showed that there was an increase in the achievement of competency standards Statics Applying science and voltage, the students of class X 1 Wood construction technique SMK Negeri 2 Sragen school year 2012/2013 the KKM 75 percent the number of completeness competencies 91.2%, from 34 pserta learners . Achievement of the learning activity of students 87.9%, Achieving independence stance pserta students 93.3%. Based on the research results, the researchers recommended that models with Quantum Teaching Study Group to increase active learners, learners' attitude of self-reliance and improve the learning competencies Statics class X 1 wood construction techniques SMK Negeri 2 Sragen.
  Keywords: quantum models to study group teaching, learning achievement Statics.
*(  peneliti guru SMK Negeri 2 Sragen)
* ( Dosen Pembimbing  PTK dari UNES)


PENDAHULUAN
Permasalahan rendahnya kemampuan belajar dan aktifitas belajar Statika pada peserta didik jika tidak diatas akan menyebabkan rendahnya kemampuan menyelesaikan soal, rendahnya penguasaan kompetensi mata pelajaran Statika, sehingga nilai ulangan harian rendah akibatnya hasil belajar Statika secara umum juga rendah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hopkins dalam Zainal Agib (2009 : 44) menjelaskan :  
 “ Actions research combines as substantive act with a research procedure, it is action disciplined  by enquiry a personal attempt at under standing while enyaged in a process of improvement and reform ”.
Berdasarkan latarbelakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut, 1)Bagaimana proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, 2)Bagaimana peningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran quantum Teaching dengan Study Group?
Tujuan Penelitian dalam penelitian ini, sebagaimana perumusan masalah yang disusun, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)Mendiskripsikan proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, 2)Mendiskripsikan peningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group.
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORTIS
Penelitian  ini merujuk pada penelitian sebelumnya, beberapa penelitian yang berhubungan dengan topik ini, yaitu  tentang dampak penerapan quqntum teaching pada siswa semasa orientasi  siswa (MOS)2007, Iyan Humas, Jurnal pendekatan quantum teaching dalam pembelajaran IPA, (jurnal.fkip.uns.ac.id/ index .phpl / pgsdkebumen / article /view /255/143), .  Irmina TP, 2010, Pelaksanaan Model Quantum Teaching dengan Study Group untuk Peningkatan Sikap Percaya Diri Siswa dan Prestasi Belajar Fisika, Kusumo Wardani . 2008. Metode Quantum Teaching Dengan Study Group Untuk Peningkatan Prestasi Belajar Geografi.

Kajian teoritis yang digunakan sebagai kerangka teoristis pada penelitian adalah :
1. Kerangka perencanaan Pembelajaran Quantum
Kerangka perencanaan pembelajaran Quantum dikenal dengan singkatan “ TANDUR” yaitu:1). Tumbuhkan: Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “ bawalah dunia mereka kedunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan ( persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial ( komunikasi belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada peserta didik, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu. Strategi untuk melaksanakan TUMBUHKAN tidak harus dengan tanya jawab, menulis tujuan pembelajaran di papan tulis, melainkan dapat pula dengan penyajian gambar/ media yang menarik atau lucu, isu mutakhir, atau cerita pendek tentang pengalaman seseorang. 2). Alami :Tahap ini jika tulis pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada kegiatan inti. Konsep ALAMI mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran guru harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun peserta didik sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Strategi konsep ALAMI dapat menggunakan jembatan keledai, permainan atau simulasi dengan memberikan tugas secara individu atau kelompok untuk mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki.3). Namai: Konsep ini berada pada kegiatan inti. Yang NAMAI mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak ( membuat peserta didik penasaran, penuh pertannyaan mengenahi pengalaman) untuk memberikan identita, menguatkan dan mendifinisikan..4). Demostrasikan:Tahap ini masih pada kegiatan ini, Inti pada tahap ini adalah memberikan kesempatan siswa untuk menunjukan bahwa peserta didik tahu. Hal ini sekaligus memberikan kesempatan peserta didik untuk menunjukan tingkat pemahamanan terhadap materi yang dipelajari.Panduan guru untuk memahami tahap ini yaitu dengan cara apa peserta didik dapat memperagakan tingkat kecakapan peserta didik dengan pengetahuan yang baru? 5. Ulangi:Tahap ini jika kita tuangkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada penutup. Tahap ini dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku ini “  kegiatan ini dilakukan secaa multi modalitas dan multi kecerdasan Panduan guru untuk memasukan tahap ini yaitu cara apa yang bagi siswa untuk mengulang pelajaran ini? 6). Rayakan: Tahap ini dituangkan pada penutup pembelajaran. Dengan maksud memberikan rasa rampung, untuk menghormati usaha, ketentuan, dan kesuksesan yang  akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar  lebih lanjut.(http// Quantum teaching, 2009, Quantum teaching , mengajar yang menyenangkan. Com , 1 febuari 2013)
2. Mengkombinasikan dengan study group
Study group adalah kelompok belajar didalam kelas. Dalam pelaksanaan Quantum teaching di SMK Negeri 2 Sragen, study group dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan Quantum teaching . Adapun pelaksanaan model Quantum teaching dengan study group ini adalah sebagai berikut :
a) Pembentukan kelompok :Dalam pembentukan kelompok ini dilakukan dengan strategi yang dianggap baik dalam proses pembelajaran. Dalam setiap kelompok dimasukkan peserta didik yang memiliki prestasi baik, sehingga dapat mendukung perumusan konsep yang baik dalam kelompok.. Hal ini dilakukan dengan cara yang sama untuk siklus I dan siklus II.
b).Pemberian nama kelompok:
Pemberian nama kelompok ini, guru menganut konsep pemaksimalan memori belajar, dimana nama-nama kelompok adalah nama konsep yang harus difahami oleh peserta didik, seperti kelompok profsor, cindekiawan, insinyur, kontraktor, konsultan, pelaksana. Fasilitasi study group
1) Menumbuhkan minat belajar dalam kelompok
Di dalam menumbuhkan minat belajar dalam kelompok perlu ditumbuhkan dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut:
a) Memberikan motivasi atau dorongan secara langsung.
Dorongan secara langsung dilakukan melalui penumbuhan keyakinan setiap kelompok pasti memiliki ciri khas keunggulan masing-masing. Guru menunggu keunggulan apa yang akan ditunjukkan oleh setiap kelompok.
b) Motivasi untuk meraih penghargaan.
Motivasi ini ditumbuhkan melalui perbandingan kelompok. Perbandingan dilakukan dengan mengadu setiap kelompok untuk meraih penghargaan setinggi-tingginya, hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa menempuh resiko keluar dari zona berfikir aktif dan berpikir positip.
2) Merangsang kegiatan berfikir produktif
Untuk kegiatan berfikir produktif kelompok ditumbuhkan melalui pemberian pertanyaan kelompok baik dalam bentuk pertanyaan kelompok ditumbuhkan melalui pemberian pertanyaan kelompok baik dalam bentuk pertanyaan langsung maupun pertanyaan cerita.
3) Menumbuhkan keriangan belajar
Untuk memberikan keriangan pada pserta didik lebih mudah dengan ditumbuhkan melalui study group . keriangan ditumbuhkan melalui adu pendapat antar kelompok, saling memberi semangat antar kelompok dengan tepuk tangan, saling memberikan komentar, dan dengan perdebatan kecil. Fasilitator menjembatani agar perdebatan bersifat terarah dan tidak mengarah pada perdebatan negatif. Dalam siklus II  guru menggunakan musik mozart saat proses diskusi dilakukan guna merangsang kecerdasan peserta didik dalam menemukan jawaban.
4) Memberi kesempatan berdemostrasi
Proses pembelajaran dilakukan seluruhnya secara individu, maka sangat sulit dilakukan pemberian kesempatan berdemostrasi secara merata melalui presentasi.
5) Perayaan kelompok
Untuk perayaan kelompok ini, merupakan pemberian penghargaan atas apa yang dipelajari kelompok.
6) Penutupan kegiatan study group
Yang dimaksudkan kegiatan penutupan pada study group ini adalah untuk memperjelas hasil kgiatan study gruop yang telah dilakukan secara bersama-sama. Guru menyimpulkan konsep-konsep yang dibuat peserta didik, dan melakukan pelurusan –pelurusan konsep yang kurang benar, sehingga disamping memahami konsep yang benar peserta didik juga menjadi faham dengan konsep yang salah dan menjebak.
b) Kerangka pikir
Pelaksanaan Quantum Teaching akan mampu memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta mewujudkan transformasi pengalaman dan penguatan yang efektif olek karena siswa melaksanakan pembelajaran tidak dalam kondisi terpaksa atau tidak dalam kondisi tidak senang, akan tetapi dalam suasana penuh motivasi dan tidak tegang.. Sementara itu, melalui study group, siswa dilatih untuk memecahkan masalah secara mandiri sehingga akan terbentuk kemampuan problem solving. Study group juga dilakukan untuk memperdalam pengetahuan yang telah diperoleh dari guru, dan pendalaman tersebut dilakukan bersama-sama dengan rekan lainnya, sehingga akan terjadi proses transformasi pengetahuan  antar siswa.
c) Hipotesis tindakan
Hipotesis merupakan dugaan sementara yang masih harus diuji kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu: 1) Meningkatkan  proses pelaksanaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran?2) Meningkatan keaktifan peserta didik kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen setelah melaksanakan model pembelajaran Quantum Teaching dengan Study Group?
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus 1 bertujuan mengetahui prestasi belajar kompetensi Statika dan keaktifan belajar dan sikap kemandirian peserta didik , dalam tindakan awal penelitian dan sekaligus digunakan sebagai refleksi untuk melakukan siklus 2. Siklus 2 bertujuan untuk mengetahui peningkatan perbaikan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang didasarkan pada refleksi siklus 1.
Pada siklus 1 perencanaan berupa kegiatan-kegiatan menentukan langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran statika selama ini menggunakan model konvensional. Tahap ini bermanfaat agar pelaksanaan pada tahap tindakan lebih mudah, terarah dan sistematis. Tindakan yang dilakukan yaitu melaksanakan proses pembelajaran pada siklus 1 sesuai dengan perencanaan yang disusun. Tindakan yang dilakukan yaitu melaksanakan proses pembelajaran statika menggunakan model Quantum teaching dengan stady group. Observasi dilakuan untuk mengetahui segala peristiwa yang berhubungan dengan pembelajaran maupun respons terhadap teknik model pembelajaran yang digunakan guru. Data observasi diperoleh dari lembar observasi, catatan harian guru, catatan harian siswa, lembar wawancara, dan dokumentasi foto. Refleksi bertujuan untuk mengetahui kendala apa yang ditemui dalam meningkatkan prestasi belajar statika peserta didik .
Pada siklus 2,perencanaan adalahpenympurnaan dari perencanaan siklus . hasil refleksi siklus 1 dikoordinasikan dengan guru mata pelajaran statika kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen untk melakukan perencanaakan ulang. Tindakan yang dilakuan adalah dengan perencanaan yang telah disusun berdasarkan perbaikan pada siklus 1.  Materi pembelajaran sama seperti materi pelajaran siklus 1, yaitu 1) memahami kondisi keseimbangan ,2) mamahami prinsip kerja gaya aksi dan reaksi, serta keseimbangan gaya, 3)memahami macam-macam tumpuan, menerapkan dan menghitung reaksi tumpuan pada konstruksi statika, 4) menghitung gaya reaksi pada tumpuan bidang datar,5) menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan,6) menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan akibat beban merata, 7)menghitung gaya reaksi pada tumpuan jepitan akibat beban terbagi tidak merata,8) menghitung gaya reaksi pada tumpuan sendi dan rol. Tahap tindakan dilaksanakan dalam tiga tahap iatu persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Observasi dilakuan untuk mengmpulkan data tentang sikap kemandirian dan respons siswa terhadap proses pembelajaraan dengan model Quantum teaching study group. Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes dan non tes . refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil non tes yang dilakukan pada siklus 2.
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah mata pelajaran statika pada kelas X TKK 1 SMK Negeri 2 Sragen.variabel penelitian ini adalah model Quantum teaching dengan study group , dan prestasi belajar Statika, keaktifan belajar, kemandirian peserta didik. Indikator kinerja dalam penelitian ini meliputi dua aspek yaitu kuantitatif dan kualitatif
Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan teknik non tes. Tes dilakukan dengan menggunakan soal-soal. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tes a siklus 1 dan tes b siklus 2. Skor penilaian berdasarkan aspek-aspek yang sudah ada. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis yang sesuai dengan materi, yaitu menerapkan teori keseimbangan .dalam melakukan tes ini diperlukan instrumen atau alat bantu yang berupa kriteria atau pedoman penilaian. Penilaian tersebut harus menunjukan pencapaian indikator yang telah ditentukan. Sedangkan teknik nontes yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi, lembar jurnal,lembar wawancara, lembar dokumemtasi foto yang digunakan untuk mengungkapkan perubahan tingkah laku peserta didik selama mengikuti pembelajaran statika dengan model quqntum teaching dengan stady group.

a) Komparasi nilai kompetensi statika pada siklus I dan nilai kompetensi statika pada 
siklus II dapat dilihat dalam
b) Komparasi nilai sikap kemandirian peserta didik pada siklus I dan nilai sikap kemandirian peserta didik  pada siklus II dapat dilihat dalam tabel 34 sebagai berikut:

No Indikator
1 Saya menyukai pembelajaran statika dengan metode pembelajaran Quantum teaching dengan study group
2 Pembelajaran secara Quantum teaching dengan study group membuat saya mudah memahami  pelajaran
3 Saya berusaha menyelasaikan soal- soal materi statika
4 Saya tidak bertanya pada guru kalau mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan.
5 Saya lebih suka bertanya pada teman kalau mengalami kesulitan dalam pelajaran
6 Saya menjelaskan pada teman kalau ada teman yang kesulitan
7 Saya aktif menyampaikan ide saat berdiskusi
8 Saya tidak menyumbang ide saat berdiskusi
9 Dalam menyelesaikan soal, saya mengingat-ingat petunjuk guru.
10 Materi menghiung reaksi tumpuan jepit akibat beban merata dan beban tidak merata tidak penting dalam pelajaran statika.
11 Saya enggan enyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru.
12 Saya mengerjakan soal tes dengan kemampuan saya sendiri
13 Saya menanyakan hal-hal yang kurang jelas saat teman kelompok lain presentasi
14 Saya paling senang mempresentasikan tugas kelompok
15 Saya tidak senang dengan usul anggota kelompok
16 Saya senang dengan penghargaan yang diraih kelompok saya.
17 Saya harus belajar lebih giat untuk meraih prestasi saya.
18 Saya kembali mempelajari materi pelajaran setelah di rumah
19 Belajar hanya pelajaran di sekolah saja
20 Saya mencoba menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru.

c) Komparasi pencapaian kretifitas belajar peserta didik pada siklus I dan siklus 2

No Asfek keaktifan
1 Mendengarkan dan memperhatikan presentasi/ penjelasan guru
2 Mencatat kegiatan guru
3 Merespons pertanyaan atau perintah guru
4 Mengajukan pertanyaan kepada guru jika menemukan masalah
5 Berpartisipasi dalam diskusi kelompok
6 Mengemukaan pendapat dalam kelompok
7 Mengerjakan soal dan lembar kegiatan 
8 Mempresentasikan hasil kerja kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian ini selanjutnya peneliti merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: Bagi guru disarankan untuk memantau perilaku sikap kemandirian, keaktifan belajar dan kopetensi belajar peserta didik, guru diharapkan dapat menyusun, menerapkan dan mengevaluasi pembelajaran, dengan membuat proses pembelajaran itu dibuat yang menyenangkan dan dibuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran sehingga terbentuk adanya imbal balik komunikasi antara guru dan siswa. Sehingga peserta didik dapat meningkatkan pencapaian standar kopetensi menerapkan ilmu statika dan tegangan, sekurang-kurangnya mencapai nilai Kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 75 .
 
 
DAFTAR PUSTAKA.
jurnal.fkip.uns.ac.id/ index .phpl / pgsdkebumen / article /view /255/143
De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki, 1999 . Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : KAIFA.
Quantum Teaching, mengajar yang menyenangkan . 2009. www. Quantum Teaching .com. diunduh 25 Januari 2013
 
Irmina Titik P. 2010. Pelaksanaan Model Quantum Teaching dengan Study Group untuk Peningkatan Sikap Percaya Diri Siswa dan Prestasi Belajar Fisika.
 Kusumo Wardani . 2008. Metode Quantum Teaching Dengan Study Group Untuk Peningkatan Prestasi Belajar Geografi.
Zainal Aqib.2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya
 









BACA SELENGKAPNYA »

Selasa, 01 Oktober 2013

TUGAS DAN PERANAN KEPALA SEKOLAH

Sekolah dasar merupakan salah satu organisasi pendidikan yang utama dalam jenjang pendidikan dasar. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 28 tahun 1990 telah disebutkan bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Berdasarkan rumusan tersebut, dapat digarisbawahi bahwa sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan dasar diharapkan bisa berfungsi sebagai: (1) peletak dasar perkembangan pribadi anak untuk menjadi warga negara yang baik, (2) peletak dasar kemampuan dasar anak, dan (3) penyelenggara pendidikan awal untuk persiapan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu pendidikan menengah. Kemampuan dasar utama yang diberikan kepada anak sekolah dasar adalah kemampuan dasar yang membuat bisa berpikir kritis dan imajinatif yang tercermin dalam modus kemampuan menulis, berhitung dan membaca. Ketiga aspek kemampuan dasar tersebut merupakan kemampuan utama yang dibutuhkan dalam abad informasi. image

Ditinjau dari komponennya, ada beberapa unsur atau elemen utama dalam organisasi sekolah dasar. Unsur-unsur tersebut meliputi: (1) sumber daya manusia, yang mencakup kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan siswa, (2) sumber daya material, yang mencakup peralatan, bahan, dana, dan sarana prasarana lainnya, (3) atribut organisasi, yang mencakup tujuan, ukuran, struktur tugas, jenjang jabatan, formalisasi, dan peraturan organisasi, (4) iklim internal organisasi, yakni situasi organisasi yang dirasakan personel dalam proses interaksi, dan (5) lingkungan organisasi sekolah.

Ditinjau dari karakteristiknya, sekolah dasar merupakan suatu sistem organisasi. Sebagai suatu sistem organisasi, sekolah dasar bisa ditinjau dari dua sisi, yaitu sisi struktur organisasi dan perilaku organisasi. Struktur organisasi mengacu pada framework organisasi, yaitu tata pembagian tugas dan hubungan baik secara vertikal, horizontal dan diagonal. Hal ini bisa mencakup spesifikasi jabatan, pembagian tugas, garis perintah, peraturan organisasi, serta hierarki kewenangan dan tanggung jawab. Perilaku organisasi mengacu pada aspek-aspek tingkah laku manusia dalam organisasi. Organisasi sekolah dipandang sebagai suatu sistem sosial, yang di dalamnya terjadi interaksi antar individu untuk mencapai tujuan organisasi. Salah satu atribut yang banyak berkaitan dengan interaksi perilaku individu dalam organisasi adalah budaya organisasi.

Budaya organisasi adalah ikatan sosial yang mengikat anggota suatu organisasi secara bersama dalam memberikan nilai-nilai, alat simbolis dan ide-ide sosial. Budaya organisasi sebagai suatu kerangka kognitif yang berisi sikap, nilai, norma, perilaku, dan harapan yang dimiliki anggota organisasi. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis, Getzel dan Guba mengemukakan bahwa perilaku individu dalam organisasi dipengaruhi oleh dua dimensi, yaitu dimensi institusi yang dikenal dengan istilah nomothetic dimension, dan dimensi individu yang dikenal dengan istilah idiographic dimension. Ditinjau dari sisi institusi, setiap anggota dituntut untuk bertindak sesuai dengan peranan dan harapan untuk mencapai tujuan organisasi. Ditinjau dari sudut individu, setiap anggota dituntut untuk bertindak sesuai dengan pribadi dan kebutuhannya, maupun norma-norma institusi.
Bila diterapkan dalam organisasi sekolah dasar, ada tiga komponen yang berkaitan dengan budaya organisasi sekolah dasar, yaitu: (1) institusi atau lembaga yang perannya dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi sekolah, (2) guru-guru sekolah dasar sebagai individu yang memiliki kepribadian dan kebutuhan, baik kebutuhan profesional maupun kebutuhan sosial, dan (3) interaksi dari kedua komponen tersebut. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu mengintegrasikan kedua komponen tersebut, yakni peranan, tuntutan dan harapan lembaga, dengan kepribadian, dan kebutuhan guru, agar bisa mencapai tujuan organisasi secara optimal.

Keberhasilan organisasi sekolah banyak ditentukan keberhasilan kepala sekolah dalam menjalankan peranan dan tugasnya. Peranan adalah seperangkat sikap dan perilaku yang harus dilakukan sesuai dengan posisinya dalam organisasi. Peranan tidak hanya menunjukkan tugas dan hak, tapi juga mencerminkan tanggung jawab dan wewenang dalam organisasi.
Ada banyak pandangan yang mengkaji tentang peranan kepala sekolah dasar. Tiga klasifikasi peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) peranan yang berkaitan dengan hubungan personal, mencakup kepala sekolah sebagai figurehead atau simbol organisasi, leader atau pemimpin, dan liaison atau penghubung, (2) peranan yang berkaitan dengan informasi, mencakup kepala sekolah sebagai pemonitor, disseminator, dan spokesman yang menyebarkan informasi ke semua lingkungan organisasi, dan (3) peranan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, yang mencakup kepala sekolah sebagai entrepreneur, disturbance handler, penyedia segala sumber, dan negosiator.

Berikut adalah empat belas peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai pemimpin profesional, (5) kepala sekolah sebagai organisator, (6) kepala sekolah sebagai motivator atau penggerak staf, (7) kepala sekolah sebagai supervisor, (8) kepala sekolah sebagai konsultan kurikulum, (9) kepala sekolah sebagai pendidik, (10) kepala sekolah sebagai psikolog, (11) kepala sekolah sebagai penguasa sekolah, (12) kepala sekolah sebagai eksekutif yang baik, (13) kepala sekolah sebagai petugas hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (14) kepala sekolah sebagai pemimpin masyarakat.

Dari keempat belas peranan tersebut, dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu kepala sekolah sebagai administrator pendidikan dan sebagai supervisor pendidikan. Business manager, pengelola kantor, penguasa sekolah, organisator, pemimpin profesional, eksekutif yang baik, penggerak staf, petugas hubungan sekolah masyarakat, dan pemimpin masyarakat termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator sekolah. Konsultan kurikulum, pendidik, psikolog dan supervisor merupakan tugas kepala sekolah sebagai supervisor pendidikan di sekolah.

Tugas kepala sekolah menjadi dua, yaitu tugas dari sisi administrative process atau proses administrasi, dan tugas dari sisi task areas bidang garapan pendidikan. Tugas merencanakan, mengorganisir, meng-koordinir, melakukan komunikasi, mempengaruhi, dan mengadakan evaluasi merupakan komponen-komponen tugas proses. Program sekolah, siswa, personel, dana, fasilitas fisik, dan hubungan dengan masyarakat merupakan komponen bidang garapan kepala sekolah dasar.
Di sisi lain, sesuai dengan konsep dasar pengelolaan sekolah, enam bidang tugas kepala sekolah dasar, yaitu mengelola pengajaran dan kurikulum, mengelola siswa, mengelola personalia, mengelola fasilitas dan lingkungan sekolah, mengelola hubungan sekolah dan masyarakat, serta organisasi dan struktur sekolah.
Berdasarkan landasan teori tersebut, dapat digarisbawahi bahwa tugas-tugas kepala sekolah dasar dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu tugas-tugas di bidang administrasi dan tugas-tugas di bidang supervisi.

Tugas di bidang administrasi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan bidang garapan pendidikan di sekolah, yang meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah masyarakat. Dari keenam bidang tersebut, bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu mengelola komponen organisasi sekolah yang berupa manusia, dan komponen organisasi sekolah yang berupa benda.

Tugas di bidang supervisi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pembinaan guru untuk perbaikan pengajaran. Supervisi merupakan suatu usaha memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki atau meningkatkan proses dan situasi belajar mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan supervisi adalah meningkatkan hasil belajar siswa.
Keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya tujuan organisasi sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kantor, mengelola sarana prasarana sekolah, membina guru, atau mengelola kegiatan sekolah lainnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal. Untuk memperoleh gambaran yang jelas, bagaimana peranan kepemimpinan dalam pengelolaan sekolah, maka perlu diuraikan tentang konsep dasar kepemimpinan kepala sekolah dasar.

BACA SELENGKAPNYA »

Artikel Favorit